Satria berjalan dengan lunglai menuju kamar perawatan istrinya. Hatinya begitu pedih melihat keadaan Salsa yang sangat tidak baik-baik saja. Kemalangan yang menimpa Salsa sangat membuatnya syok sekaligus sedih. Salsa gadis baik, berprestasi, dan bisa dikatakan sukses, tapi ia harus dipertemukan dengan lelaki seperti Fajar yang belum satu menit sah menjadi suaminya sudah membuat Salsa depresi. Satria duduk bersandar di sofa sambil menutup wajahnya dengan lengan kanannya. Air hidungnya sesekali masih ia tarik sisa menangisi Salsa di ruang isolasi tadi. Bu Mae sampai terbangun mendengar suara Satria yang seperti tengah menangis. Ia memicingkan mata, lalu menggosok kedua matanya dengan kuat. "Satria, kenapa lu?" tanya Bu Mae penasaran. Ia duduk mendekat pada putranya, lalu memegang pundak S

