“Boleh minta tolong misscall HP-ku, nggak?” pinta Igris dengan tampang memelas.
Noah menghempas napas malas. Meski begitu, ia tetap mengeluarkan HP miliknya dari kantong celana. “Berapa nomornya?” tanyanya kemudian.
Igris menyebutkan satu per satu nomor HP-nya sambil terus memeriksa di bawah meja dan kursi, siapa tahu ia tak sengaja menjatuhkan benda itu saat meninggalkan kelas tadi.
“Patrick! Dengar aku. Ini aku, Spongebob! Aku butuh bantuanmu!”
Suara tokoh kartun kuning persegi itu langsung berkumandang saat Noah berhasil membuat panggilan ke nomor HP Igris, dan nada dering konyol itu terdengar dari dalam ransel Igris.
“Oh!” Igris langsung memeriksa isi ranselnya dan menemukan telepon genggam miliknya yang ternyata ada di dalam.
Noah melempar tatapan menghakimi kepada Igris sambil menjauhkan HP dari telinganya, lalu menekan icon merah untuk menyudahi panggilan. Mata yang memandang Igris itu seolah mengatakan: apa-apaan si bodoh ini.
“Sorry ….” Igris cengengesan sambil membereskan dan memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas.
Noah tak peduli, ia langsung berbalik dan bermaksud meninggalkan Igris, tapi Igris malah kembali melibatkan Noah dalam obrolan.
“Mending sekalian aja kamu simpan nomorku,” serunya sambil menyusul Noah dan mulai menyamakan langkah di sampingnya. Kebetulan tujuan mereka kan sama, aula basket di area sport section belakang sekolah, jadi kenapa tidak sekalian saja jalan sama-sama?
“Aku juga bakal simpan nomormu. Kita kan sekarang teman satu tim,” sambung Igris lagi.
Noah menghentikan langkahnya dan otomatis Igris juga ikut melakukan hal yang sama. Kali ini Noah bicara sambil langsung menatap wajah Igris. Ia masih tak mengerti kenapa Igris terlihat sangat menyebalkan di matanya, tapi dia butuh alasan untuk mendasari rasa kesal yang ia rasakan itu.
“Apa nggak ada yang pernah bilang sama kamu kalau kamu itu kelihatan sangat palsu?” Itu bukan pertanyaan, itu adalah pernyataan dari Noah. Ia memutuskan untuk menggunakan alasan itu sebagai penyebab rasa kesalnya kepada Igris.
Lalu tanpa menunggu respon dari Igris, Noah berpaling dan melangkah pergi begitu saja.
Entah kalimat Noah tadi berhasil mempengaruhi Igris atau tidak, tapi Igris memutuskan untuk tak mengikuti Noah dan tetap diam di tempatnya berdiri, sambil menatap punggung Noah yang menjauh.
- - -
“Selamat datang di tim basket putra SMA Cendana.”
Seorang senior berwajah ramah dengan potongan rambut crew cut itu, menyapa seluruh anggota tim basket yang sedang berbaris rapi di hadapannya. Termasuk di dalam barisan itu adalah Noah, Igris, Zikri dan beberapa anak kelas 10 lainnya.
“Namaku Ahsan, aku adalah Kapten kalian … untuk saat ini,” tambahnya di ujung kalimat. Matanya beberapa kali berhenti di wajah Noah dan Igris sebelum kembali beredar ke seluruh anggota tim basket yang lainnya. “Aku melihat wajah-wajah baru yang cukup menjanjikan, dan aku sangat bersemangat tahun ini.”
Ahsan menarik napas sejenak sebelum kembali melanjutkan. “Terus terang aku katakan kepada kalian, tim basket putra SMA Cendana terkenal dengan sebutan ‘spesialis runner up’, dan aku sama sekali nggak bangga dengan sebutan itu,” tuturnya.
“Ini adalah tahun terakhirku di SMA. Sejak awal bergabung di sini, seniorku yang dulu juga selalu memimpikan medali emas di Kejuaraan Nasional Basket tingkat SMA. Tapi bahkan sampai mereka lulus, sampai hari ini, meski kita berkali-kali berhasil masuk final, kita selalu kalah, bahkan dengan lawan yang berbeda-beda.”
Ahsan mengepalkan tangannya ketika memori kekalahan itu mulai berkelebat di benaknya. “SMA Bima Sakti keluar sebagai juara, 2 tahun berturut-turut, dan tahun ini mereka ingin menciptakan hatrick setelah mempermalukan kita di final Kejurnas tahun lalu. TAPI …!”
Teriakan Ahsan di ujung kalimat membuat beberapa anggota yang tadinya mulai hanyut dalam pikiran masing-masing tersentak kaget, dan kembali fokus untuk mendengarkannya.
“Tapi … tentu saja kali ini kita nggak akan membiarkannya,” lanjut Ahsan lagi. “Kita akan merebut trofi juara Kejurnas dan berdiri di podium. Kita benar-benar akan melakukannya. Apa kalian siap?!”
“Siap, Kapten!” balas anggotanya bersemangat.
“Who’s the best?!” teriak Ahsan lagi.
“Cendana!” sambut puluhan anggota tim basket putra yang ada di aula basket, kecuali Noah dan anak kelas 10 lainnya yang masih belum familiar dengan yel yel itu.
“Who’s the winner!”
“Cendana!”
“Who’ll fight till the end!”
“Cendana!”
“Fight!”
“Cendana!”
“Fight!”
“Cendana!”
“KILL. THEM. ALL!”
Tiga kata terakhir itu diucapkan dengan berapi-api oleh Ahsan bersamaan dengan seluruh tim. Mereka mengepalkan tinjunya ke atas dan berteriak sampai urat-urat di leher dan kening mereka menyembul.
Lalu gelanggang itu pun dipenuhi dengan gemuruh tepuk tangan, baik dari anggota senior, maupun murid baru.
“Hoi, hoi, ‘kill them all’ itu apa nggak berlebihan?” pikir Noah meski ia juga bertepuk tangan untuk menghargai semangat mereka.
“Pertahankan semangat itu,” seru Ahsan lagi. “Tahun ini kita akan menerima anggota baru, beberapa di antaranya mungkin kalian sudah kenal karena prestasinya waktu SMP. Tapi … meski begitu … kita tetap akan memperlakukan mereka sama dengan anggota baru lainnya. Silakan pemanasan dulu, hari ini kita akan adakan tes kemampuan, bentuknya lebih seperti pertandingan percobaan antara tim A dan tim B; aku akan mengumumkan nama-namanya setelah ini. Yang pasti, tiap tim akan dibantu oleh satu orang pemain dari tim inti. Dan semua akan dapat giliran,” terang Ahsan lagi.
“Oh iya, sebelumnya, ada yang belum pernah main basket dan baru pertama kali ini mencoba?” tanya Ahsan sambil mengacungkan tangannya sebagai isyarat bahwa jika ada yang merasa dirinya sangat baru dalam basket sebaiknya mengacungkan tangan.
Ada sekitar tiga orang siswa kelas 10 yang mengangkat tangannya malu-malu, tapi Ahsan segera menenangkan mereka.
“Nggak apa-apa kok, semua orang di sini juga awalnya adalah pemula,” ujar Ahsan ramah. “Tapi kalian udah paham peraturan dan teknik-teknik dasarnya, kan?”
Pertanyaan Ahsan pun dibalas anggukan ketiga anak baru itu.
“Jadi? Bagaimana? Kira-kira kalian mau langsung ikut tes kemampuan untuk menentukan posisi terbaik yang cocok bagi kalian di dalam tim? Atau kalian mau latihan dasar dulu sambil melihat permainan teman-teman yang lain?”
Ketiga pemain pemula itu pun saling pandang sebelum akhirnya salah seorang dari mereka menjawab dengan mengajukan pertanyaan lagi. “Kalau dribble-nya belum mahir nggak apa-apa, Kak?”
“Nggak masalah. Nanti juga kalian bisa belajar dari pengalaman, kan?”
“Kalau belum terlalu paham peraturannya gimana, Kak?”
“Ya … main aja. Nanti juga sambil main bisa sambil dikasih tahu.”
“Kalau masih pemula banget mending latihan terpisah aja deh,” celetuk sebuah suara dari arah belakang Ahsan. Semua perhatian mendadak tertuju pada orang yang barusan mengeluarkan celetukan itu.
Cowok dengan rambut keriting bergaya curly quiff itu melipat tangan di depan dadanya dengan tampang jutek, terlihat sangat tidak sabar dengan kata sambutan Ahsan yang terlalu panjang dan bertele-tele.
“Bukannya kita mau fokus ke Liga Rookie? Mana ada waktu buat ngajarin anak baru. Kan nggak lucu kalau kita tersingkir di awal dan nggak berhasil ikut Kejurnas.”
“Dewa …” Ahsan melanjutkan kalimatnya bukan dengan kata-kata, melainkan hanya dengan sebuah lirikan yang mengandung banyak makna.
Senior yang ternyata bernama Dewa itu mendecakkan lidahnya sambil lalu melempar pandangan ke arah lain, seolah ia baru saja mendapat kiriman telepati dari Ahsan yang memintanya untuk diam.
“Kita ini klub basket SMA, bukan klub profesional,” tutur Ahsan kemudian. “Semua orang yang ingin main basket, bebas untuk bergabung. Baik pemula maupun pemain yang sudah jago, semuanya akan diterima selama kalian memang benar-benar berniat untuk main basket di sini.”
Beberapa saat berlalu, tapi tak ada lagi yang bicara di antara para pemain basket putra itu. Hanya terdengar suara beberapa orang dari tim basket putri yang juga sedang mengadakan pertemuan di lapangan yang satu lagi; masih di dalam aula yang sama.
“Jika semuanya sudah paham, kita mulai dengan perkenalan tim inti dulu, supaya nanti kalian nggak merasa canggung antara satu sama lain.” Ahsan membuka suara lagi dan memberikan anggukan ke arah kanan kirinya.
Beberapa senior langsung bergerak untuk mengambil posisi berdiri di kedua sisi Ahsan. Lalu Sang Kapten tim itu pun memperkenalkan mereka mulai dari yang paling kanan.
Pemain yang diperkenalkan pertama kali oleh Ahsan adalah seorang senior berpostur tubuh tinggi besar, dan sudah bisa ditebak bahwa posisinya adalah seorang center.
“Nomor punggung 5, kelas 12. Juanda Adhyaksa, 192 cm, center[1],” ujar Ahsan sambil memberikan sedikit jeda karena mungkin saja sang center ingin mengatakan sesuatu kepada para anak baru yang sedang berbaris di depannya.
“Halo semuanya, kalian boleh panggil nama kecilku, Juan. Santai aja ya, nggak usah tegang.” Di luar dugaan, berbeda dengan penampilannya, Juan memberi sambutan yang hangat dan senyum yang sangat ramah.
“Berikutnya…” Kali ini Ahsan menunjuk senior di sebelahnya, yang tadi sempat berkomentar judes. “Nomor punggung 8, kelas 12. Dewangga Andara, 174…”
“175!” sela Dewa murka.
“Ah… iya sorry, aku lupa tinggi badanmu baru di-update,” Ahsan harus sedikit menahan tawanya sebelum melanjutkan, “Dewangga Andara, 175 cm, shooting guard.”
“Jangan harap kalian bisa merebut posisiku!” Dewa langsung membuat deklarasi saat ia diberi kesempatan untuk bicara, dan Ahsan membiarkannya.
“Lalu…” Ahsan melempar tatapan kepada seorang pemain yang terkesan dingin, karena sejak awal perkenalan tadi dia masih tanpa senyum.
“Nomor punggung 6, kelas 11. Wahyu Hidayat, 190 cm, power forward[2].”
Setelah sebaris kalimat perkenalan Ahsan itu, suasana aula menjadi hening. Seharusnya Wahyu mulai bicara untuk menyapa para anggota baru, tapi dia membisu.
“Ng… sebenarnya Wahyu senang dengan bergabungnya kalian,” Ahsan mencoba menterjemahkan diamnya Wahyu, “dia memang susah ngomong, agak pelit vocab.”
“Maklum, masih bayi,” celetuk seseorang di sebelah Wahyu yang masih belum diperkenalkan oleh Ahsan.
“Haha… Yuda… jangan bicara sebelum giliranmu.” Ahsan menegur pemain kelima itu dengan senyum dan gigi yang rapat.
“Aye! Kapten!” sahut pemain yang dipanggil Yuda, masih dengan nada suara yang bersenda gurau. Noah mengenalinya. Ya, dia Yuda yang itu, teman sekamarnya Ilham; Ketua Asrama Raven.
“Nomor punggung 7, kelas 11. Yuda Saputra, 179 cm, small forward[3].” Ahsan dengan rajin melengkapi kalimat untuk memperkenalkan pemain intinya.
“Tahun ini aku akan mencapai 180 cm dan keluar dari barisan para kurcaci!” Yuda mengepalkan tinjunya penuh ambisi, disambut dengan tawa teman-temannya.
“Di tim basket putra Cendana, yang tingginya masih di bawah 180 itu dianggap kelompok kurcaci.” Seseorang yang berdiri di depan Noah memberi informasi kepada seorang anak kelas 10 di sebelahnya, sebelum kemudian mereka tertawa bersama. Padahal tinggi mereka juga sepertinya masih di bawah 180 cm.
“Yuda, bukannya seharusnya kamu menyapa para anggota baru?” Ahsan memperingatkan pemain nomor 7 itu.
“Oh… iya, sorry. Selamat datang, selamat bekerja keras dan jangan lupa bersenang-senang,” serunya riang kepada barisan para pemain yang ada di hadapannya.
Ahsan kini beralih ke sebelah kirinya. Sepertinya ia akan memperkenalkan tim lapis kedua yang mereka miliki, ada sekitar 5 atau 6 orang. Tapi Noah sudah tak terlalu memperhatikan lagi, hingga akhirnya Ahsan sampai ke orang terakhir, yaitu dirinya sendiri.
“OK, terakhir ada aku, Kapten kalian, Ahsan Setiawan, kelas 12.” Senior berpenampilan menarik dengan senyum yang selalu tampak hangat itu akhirnya mulai memperkenalkan diri. “Nomor punggung 4, 184 cm, point Guard[4].”
Kalimat penutup Ahsan disambut dengan tepuk tangan lagi. Ia lalu meminta barisan untuk bubar dan mempersiapkan diri sebelum pertandingan tes kemampuan dilaksanakan.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Center (Posisi 5) atau big man, tugas utamanya membendung tembakan lawan dan menjaga daerah pertahanan. Salah satu kemampuan yang wajib dimiliki oleh center adalah memanfaatkan punggungnya untuk menghalangi lawan dan mendapatkan rebound.
[2] Power forward (Posisi 4) adalah posisi yang biasanya ditempati oleh pemain yang memiliki postur tinggi dan fisik kuat karena seorang power forward akan banyak bergerak di dekat (bawah) ring untuk menembak dari jarak dekat. Salah satu tugasnya adalah mendapatkan rebound, baik dalam keadaan bertahan maupun menyerang.
[3] Small forward (Posisi 3) dalam permainan bola basket bertugas untuk menolong dan mengambil peran point guard yang berada dalam tekanan lawan. Biasanya diisi oleh pemain yang memiliki kemampuan satu-lawan-satu (one-on-one), agresif, kuat, dan lincah dan juga mampu mencetak poin.
[4] Point guard juga dikenal dengan Posisi 1 dalam permainan bola basket. Tugas utama seorang point guard adalah mengatur serangan tim. Pemain yang mengisi posisi point guard adalah pemain dengan kemampuan menggiring bola dan mengumpan yang baik.