Kelas S - Jurusan Olahraga

1909 Kata
Noah sudah selangkah lebih dekat di hadapan Igris, membuat suasana semakin intens. “Aku marah karena kalah?!” Ia setengah menggeram. Tapi, di luar dugaan, Igris terlihat tidak gentar. Ia tetap berdiri di posisinya dan membalas tatapan Noah tanpa berkedip. “Memang iya, kan? Makanya kamu ketus dan jutek sama aku.” Noah tertawa ringan sambil mengusap wajahnya. “Hei, jangan salah paham. Aku memang selalu begini kalau ngomong sama orang, bukan cuma ke kamu aja. Jadi nggak usah ngerasa spesial.” “Wah, sifatmu jelek sekali,” balas Igris. “Oh… ini masih 10%,” sahut Noah cuek sambil kembali berbalik dan membelakangi Igris, melanjutkan kegiatannya mengeluarkan pakaian dari dalam tas. “Pokoknya mulai sekarang nggak usah sok ramah sama aku,” ujarnya lagi. “Ah…! Aku tahu. Kamu nggak mau satu tim denganku karena takut kalah saing, ya?” Senyuman Igris tampak sedikit berbeda kali ini. Tak ada tanda-tanda keramahan di wajahnya. “Mungkin kamu takut orang tahu kalau aku bisa main lebih bagus dari kamu.” Noah tak mengatakan apapun untuk membalasnya. Beberapa saat hanya dilewati dengan hening hingga Noah menutup kembali ritsleting tas travel setelah mengosongkannya. Ia lalu memasukkan tas itu ke bawah kolong tempat tidur dan kembali melangkah mendekati Igris. Menancapkan tatapannya langsung ke sepasang mata di hadapannya itu. Kemudian Noah mulai mendengus melecehkan. “Di depan orang pura-pura jadi anak baik, padahal aslinya tukang provokasi juga,” cetusnya dengan tatapan mata yang mulai merambat dari wajah sampai ke ujung kaki Igris, seolah Noah sedang mengukur harga seorang Igris Mahesa. Di mata Noah, Igris adalah ular berbisa. Ada sisi gelap yang sepertinya tidak ia tunjukkan kepada orang lain. Tapi Noah bisa melihatnya, ia tak mungkin salah menilai, orang seperti apa Igris itu. Kedua siswa SMA itu pun akhirnya menutup obrolan mereka begitu saja. Igris tak lagi berusaha mengakrabkan diri dengan Noah. Senyuman juga sudah menghilang dari wajahnya. Noah pun lebih memilih untuk menganggap bahwa Igris tak ada di ruangan itu. --- Meski saat ini Noah sudah melewati gerbang masuk sekolah, ia masih harus melalui Taman Depan menuju ke gerbang kedua yang memisahkan Taman Depan dan Taman Dalam. Di area Taman Dalam, ada sebuah lapangan yang cukup luas dan biasa digunakan untuk upacara bendera. Di sekeliling lapangan itulah gedung utama kegiatan belajar mengajar SMA Cendana berada. Saat mulai melintasi koridor, bukannya Noah tak tahu, tapi ia hanya pura-pura tak menyadari beberapa pasang mata yang memandanginya sepanjang perjalanan menemukan kelasnya di hari pertama masuk sekolah ini. Mungkin karena Cendana adalah sekolah yang terkenal di bidang olahraga, di sini nama Noah jadi sedikit lebih dikenal dibandingkan tempat lain yang ia datangi. Atau, mungkin juga karena penampilan Noah yang terlihat charming. Postur tubuhnya yang tak hanya tinggi tapi juga proporsional, dengan wajah yang masuk dalam kategori ikemen[1], serta tas dan sepatu branded yang dikenakannya, membuat Noah menjadi sangat menarik perhatian. Apakah Noah menyukai perhatian itu? Ya, dia menyukainya. Noah adalah orang yang benci dipandang rendah. Jika ia dianggap tak menarik, ia akan membuat penampilannya menarik. Jika ia dianggap bodoh dalam pelajaran, ia akan belajar gila-gilaan sampai tak ada lagi yang berani menyebutnya bodoh. Jika ia dianggap miskin, maka ia akan mengenakan barang yang lebih mahal dari mereka yang berani mengolok-oloknya. Itulah Diaz Noah Arakha. Bakatnya di bidang olahraga sudah sangat menonjol bahkan sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Ia mulai menekuni olahraga basket sejak berada di tahun pertamanya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan langsung merebut banyak perhatian. Muda dan berbakat. Pelatih basket mana yang tidak menginginkannya dalam tim mereka? Apalagi sejak ia menjadi MVP dalam kejuaran nasional junior tahun lalu. Wajahnya yang menjadi cover majalah olahraga populer, membuatnya menjadi selebriti di kalangan peminat olahraga, khususnya basket. Orang-orang yang hanya mengenalnya sebatas di permukaan saja, akan menganggapnya arogan. Tapi mereka yang mengenal Noah lebih dekat akan tahu bahwa Noah hanya seorang remaja yang tidak supel, hal itu semakin diperburuk dengan sifat Noah yang sangat tidak suka kekalahan. “Kamu tadi yang nantangin kami, ya?!” Noah mengira pertanyaan yang bernada mengancam itu ditujukan kepadanya. Ia menoleh ke arah suara itu, di antara dua gedung sekolah, ada sebuah lorong kecil dengan lebar sekitar dua meter. “Ngapain sih nyisain celah begini waktu ngebangun gedung sekolah? Ini tempat yang biasanya dipakai berandalan buat nongkrong, merokok, ngompasin bahkan nge-bully siswa lain.” Noah membatin sambil menancapkan pandangannya pada 3 orang siswa yang sedang menggerubungi seorang siswa lainnya. Siswa yang sedang terdesak hingga punggungnya menempel di dinding itu, memberikan tatapan minta tolong kepada Noah yang sedang melintas. Karena matanya yang memandang melewati atas pundak para pem-bully, mereka pun berbalik mengikuti arah pandangan siswa itu dan menyadari keberadaan Noah. “Apa?!” ancam salah seorang dari mereka. Di balik kemeja seragam yang tak dikancing, ia mengenakan kaos berwarna hitam dengan tanda centang putih di bagian d**a kirinya, sepertinya sengaja ia pamerkan saat berkacak pinggang di hadapan Noah. “Wah… gila!” Seorang lagi ikut berbalik dan membuat Noah bisa melihat label nama di d**a sebelah kanannya; Daniel Andrean. “Anak ini dikasih makan apa? Tinggi banget, woi!” serunya kaget bercampur sedikit panik. “Lihat sepatunya, itu kan keluaran terbaru, mahal banget tuh,” sahut temannya yang satu lagi. Tampaknya mereka mulai lebih tertarik kepada Noah dibandingkan siswa di belakang mereka yang masih mengerutkan dirinya seolah ingin menghilang. “Hei, sini. Siapa namamu? Anak baru, kan?” tanya si pemakai kaos bermerek itu. Noah menatap jam tangannya sambil melanjutkan langkah malas meninggalkan tempat itu. “Kurang ajar, dia berani nyuekin kita!” Berandalan yang bernama Daniel terdengar murka. “Klise, bully anak baru di hari pertama masuk sekolah?” Noah berbalik hanya untuk melempar tatapan merendahkan kepada sekelompok orang di hadapannya itu. “Tapi nggak apa-apa, itu cocok dengan image kalian,” katanya sambil lalu. “Kau kira bisa seenaknya meremehkan kami di sekolah ini?!” “Blah … blah … terserah. Buang-buang waktu aja.” Noah menguap malas sambil lalu meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi. Untungnya, para pem-bully itu tidak mengejar. Sepertinya memang mereka berandalan yang hanya besar mulut, tapi tidak punya nyali. . Kelas 10-S, lantai 3 Gedung Timur. Saat ini Noah sudah berada di hadapan pintu kelas itu, kelas yang kini lebih dikenal dengan kelas jurusan Olahraga[2] bagi orang di luar Cendana. Sebenarnya 10-S itu adalah nama kelas yang tidak lazim, dalam hal ini, S adalah singkatan dari “Spesial” dan setiap angkatan hanya memiliki satu Kelas S. Jadi, di SMA Cendana hanya ada tiga kelas Spesial yaitu kelas 10-S, 11-S, dan 12-S. Masing-masing untuk tiap angkatan. Kelas Special SMA Cendana adalah tempat bagi mereka yang berbakat di bidang olahraga dan memiliki masa depan yang cemerlang sebagai seorang atlet. Cendana adalah satu-satunya sekolah yang menggunakan sistem itu di negara ini. Awalnya, Kelas S juga diisi siswa yang berbakat dalam bidang lain, seperti seni maupun science. Namun, seiring berjalannya waktu, bidang olahraga jauh lebih menonjol dan lebih menjanjikan. Itu sebabnya, SMA Cendana mulai memfokuskan Kelas S khusus untuk para calon atlet nasional maupun internasional. Saat Noah membuka pintu kelas, sudah ada sekitar dua puluhan orang di dalamnya. Beberapa di antara mereka menoleh dan mulai berbisik-bisik satu sama lain, tapi tentu saja Noah mengabaikan mereka. Tampaknya mereka sudah mengklaim tempat duduk masing-masing di kelas baru itu. Noah menatap berkeliling dan menemukan anak yang barusan tadi dirundung ada di kelas itu juga. Ia duduk di paling belakang dan tampak seperti lebih memilih untuk menatap permukaan mejanya daripada membuat kontak mata dengan teman-teman sekelas yang lain. Hanya kursi di samping anak itu yang tidak ada tasnya, itu berarti kursi itu belum ada pemiliknya. Mau tak mau Noah harus menempati meja yang tepat bersebelahan dengan siswa berbadan kecil yang kelihatan seperti easy target[3] itu. “Kamu berhasil lolos dari mereka?” tanya Noah sambil menyangkutkan ranselnya pada pengait yang ada di samping tiap meja. “Iya, terima kasih. Waktu perhatian mereka beralih ke kamu, aku bisa kabur.” Ia menggaruk tengkuknya dengan tampang cengengesan. “Aku Noah.” Noah berinisiatif untuk memperkenalkan diri lebih dulu. “Diaz Noah Arakha.” “Hai, aku Rihan.” Anak cowok yang sepertinya akan menjadi teman pertama Noah di SMA itu pun mengulurkan tangan ke hadapan Noah. Tak menyangka bahwa cowok bernama Rihan itu akan mengulurkankan tangan untuk berjabat, Noah buru-buru menyambut uluran tangan Rihan dengan sedikit kikuk. “Ngomong-ngomong, kamu beneran nantangin mereka tadi?” tanya Noah agak penasaran, soalnya tadi ia sempat mendengar salah seorang dari para bully itu mengatakan bahwa Rihan menantang mereka. “Nggak, kok. Aku cuma nggak sengaja ketemu mata sama mereka,” balas Rihan cepat. “Tapi katanya, harusnya aku langsung nunduk. Soalnya kalau aku balas ngelihatin, itu berarti aku udah nantangin mereka.” “Apa-apaan itu? Mereka kira mereka siapa?!” omel Noah jengkel. “Mau main raja-rajaan di SMA? Awas aja kalau mereka berani ngomong gitu di depanku.” “Udah … mending nggak usah nyari masalah. Mereka kan senior, lagian juga kayaknya mereka kelompok anak nakal. Bakal repot kalau berurusan sama mereka.” Rihan berusaha menenangkan Noah yang terlihat kesal, menyadari adanya hierarki tak masuk akal di sekolah itu. Noah menarik napas panjang dan menghempasnya untuk mengusir kedongkolan. Kesan pertamanya terhadap Rihan adalah bahwa anak cowok itu benar-benar target yang mudah. Akan sulit baginya untuk melalui 3 tahun di SMA yang tingkat persaingannya tinggi ini, jika ia tidak segera melakukan sesuatu dengan mentalnya yang cenderung suka pasrah itu. Beberapa saat setelah obrolan singkat di awal tadi, ada kecanggungan yang sama-sama tak bisa dihindari oleh dua orang yang baru bertemu itu. Di satu sisi, mereka tak ingin menghentikan obrolan. Tapi di sisi lain, mereka tak tahu bagaimana caranya melanjutkan pembicaraan di antara mereka. “Uhm… aku nonton pertandingan finalmu di Kejurnas basket junior tahun lalu.” Akhirnya Rihan menemukan topik yang mungkin bisa menjadi bahan perbincangan mereka. “Hm… kamu main basket juga?” tanya Noah sambil mulai mengamati teman pertamanya di SMA itu. Rihan tidak terlihat seperti idealnya seorang olahragawan, tapi anehnya ia berada di kelas ini. “Nggak. Aku cuma kebetulan diajak nonton waktu itu.” “Oh… kamu main apa? Catur?” “Nggak. Aku main bulu tangkis.” Mulut Noah merenggang tanpa suara sambil lalu mengangguk pelan tanpa bisa mengalihkan matanya dari lengan siswa yang ada di hadapannya itu. Dalam pikiran Noah, bukankah pemain bulu tangkis banyak mengandalkan otot bisep untuk mengayunkan raket? Tapi tangan Rihan tak terlihat seperti seorang pemain bulu tangkis. Meski begitu, Noah segera menepis pikirannya sendiri. Tahu apa ia tentang olahraga bulu tangkis? Lagipula, jika Rihan sampai bisa masuk di Kelas S, itu berarti dia berbakat. Noah mengira pembicaraan di antara mereka sudah selesai. Tapi ia tak bisa mengabaikan tatapan mata dari sampingnya yang masih belum juga lepas, bahkan saat Noah sudah duduk dengan posisi tubuh menghadap ke papan tulis. “Ng… sorry, ada sesuatu di wajahku?” tanya Noah lagi akhirnya. ___ ___ ___ ___ ___ [1] Ikemen merupakan kosa kata dalam bahasa Jepang yang mengacu pada "Lelaki Keren", atau "Pria Tampan". Kata ini berasal dari gabungan kata "Iketeru", yang berarti modis, seksi, dan keren, dan kata bahasa Inggris "men". [2] Selain jurusan Olahraga, di Cendana ada jurusan lainnya seperti Ilmu Alam, Ilmu Sosial dan Bahasa. Masing-masing siswa akan memilih jurusan di tahun kedua, kecuali jurusan Olahraga yang memang sudah ditentukan sejak tahun pertama dan hanya diisi oleh siswa-siswa terpilih [3] Easy target adalah sebuah frasa yang menyatakan tentang seseorang yang mudah disakiti atau hewan yang bisa dibunuh dengan mudah. Dalam hal ini, easy target adalah orang yang mudah dijadikan target bullying
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN