Minggu ini, Noah memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan pertamanya dengan pulang ke rumah. Ia tak mengharapkan apa-apa dari keluarganya, mungkin hanya ingin sedikit bersantai, menghabiskan weekend dengan Lisa, dan jauh dari Igris.
Ketika ia tiba di rumah, jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Noah menemukan ada dua mobil terparkir di halaman rumah, masing-masing milik ayah dan bundanya.
Jarang sekali dua orang itu ada di rumah pada jam segini. Sebenarnya firasat Noah lumayan tidak enak, tapi ia mencoba menepis semua prasangka buruk.
Noah melewati pintu depan dan mendengar suara pertengkaran dari arah dapur.
“Dulu aku menyerahkan pendidikan Raka kepadamu, lihat jadi apa dia sekarang?!” Suara ayah Noah terdengar murka.
“Jadi apa? Memangnya Raka jadi apa?! Dia nggak pernah nyusahin kamu, kan?!” sahut ibundanya tak kalah berang.
“Sikapmu yang seperti ini yang membuat anak-anak itu tumbuh jadi anak yang nggak berguna!”
“Apa yang salah dengan sikapku? Aku cuma nggak mau kamu terlalu menekan mereka, aku ingin kamu paham bahwa semua hal nggak harus diukur dengan prestasi akademis. Kalau Raka lemah di pelajaran, dia pasti punya bakat di bidang lain.”
“Lalu bagaimana dengan Noah?” sela lelaki itu setengah menghardik. “Anak itu bisa tumbuh jadi orang hebat. Dia cerdas, dia memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi seorang akademisi yang sukses. Tapi kalau dia jadi atlet, karirnya akan habis hanya karena cedera! Coba sekali-sekali kamu itu mikir! Ibu macam apa yang membiarkan anaknya menyia-nyiakan masa depan dengan mengambil jurusan olahraga di SMA?”
Dian, ibunda dua anak laki-laki itu, terhenyak. Selama beberapa saat ia terdiam, seolah sedang mempertanyakan keputusannya yang telah mendukung Noah untuk berkarir di bidang olahraga.
“Tapi …,” Dian menemukan kembali kata-kata yang ingin diucapkannya, “… Noah menyukai basket, Nirwan. Dia sangat menyukai olahraga itu dan dia berbakat. Aku hanya ingin mendukungnya. Apa kamu tak pernah melihat wajah bahagianya saat ia memenangkan …”
“Untuk apa prestasi semacam itu?!” bentak lelaki itu lagi. “Aku nggak butuh pencapaian dalam bidang seperti itu! Dia itu pintar, ada banyak hal penting lainnya yang bisa dia raih. Masa depannya cerah! Tapi gara-gara seorang ibu sepertimu!”
“Aku akan melakukan apa saja untuk menjaga kebahagiaan anakku.” Dian membulatkan tekad untuk teguh pada pendiriannya. “Noah nggak perlu tumbuh sesuai dengan cetakan yang kamu buat, dia punya pilihannya sendiri. Sebaliknya, Raka begitu ingin menjadi penerusmu. Ia melakukan semuanya untuk bisa memenuhi ekspetasimu, tapi kamu nggak pernah menghargainya.”
“Karena Raka itu nggak mampu. Dia nggak punya apa yang dimiliki Noah. Level kecerdasannya berbeda. Dia nggak berbakat, mau berusaha seperti apapun, Raka nggak akan pernah bisa melakukan apapun sesuai dengan apa yang kuinginkan.”
Kehabisan kata-kata, Dian hanya bisa menatap lelaki di hadapannya itu sambil menggeleng pelan, dengan kubangan air yang mulai menggenang di matanya.
“Aku nggak habis pikir, kenapa semuanya jadi tentangmu dan keinginanmu? Yang kita bahas adalah tentang hidup anak-anak. Tapi kenapa kamu begitu egois?” gumam Dian menghakimi.
“Aku egois?! AKU EGOIS?!” Seolah perkataan Dian barusan telah memantik sesuatu dari dalam diri Nirwan. “KAMU YANG NGGAK PAHAM! Kamu mau anak-anakmu besar jadi sepertimu?!”
Mulut Dian merenggang, namun tak ada lagi kata-kata yang keluar kali ini. Andai ucapan itu memiliki wujud, maka saat ini wujud ucapan Nirwan adalah sebuah anak panah yang meluncur tajam untuk melukai hati Dian.
“Seperti aku?” tanya Dian pelan, “memangnya aku seperti apa?”
“Jangan mulai lagi.”
“Nggak. Aku serius, Nirwan … Coba jawab aku, memangnya aku seperti apa?” desak Dian lagi. Suaranya mulai terdengar bergetar saat ia melanjutkan kalimatnya.
“Kamu masih ingat bagaimana dulu kamu menjemputku dari rumah orang tuaku? Bukankah kamu sudah diperingatkan? Keluarga kami bukan orang yang berpendidikan. Nggak ada satu pun orang di keluargaku yang menginjakkan kaki di perguruan tinggi. Sementara kamu berasal dari keluarga terhormat, berpendidikan tinggi, akademisi, ilmuwan jenius.”
Air mata kini sudah lolos dari kubangan di mata Dian, dan mulai menganak sungai di kedua pipinya. Saat ini, seolah ada benda asing yang mengganjal di tenggorokannya dan ia harus menelan benda itu bulat-bulat sambil menekan semua emosi ke dalam dirinya. Karena jika tidak begitu, maka suara yang keluar dari mulutnya tak akan mampu membentuk satu kata pun.
“Tapi kamu bilang…,” Dian melanjutkan sambil berusaha agar tidak tersedak, “... kamu bilang itu semua bukan masalah. Kamu bilang kamu mencintaiku apa adanya. Meski aku bodoh, meski aku nggak paham tata krama keluarga orang berada, kamu bilang kamu akan tetap menerimaku dan pelan-pelan kita bisa menjadi lebih baik. Kamu juga pernah bilang semuanya itu butuh proses.”
“Itu dan ini adalah dua hal yang berbeda, Dian.”
“Berbeda bagaimana? Tolong ajari istrimu yang bodoh ini.” Dian tertawa sinis dengan mata yang berkilat basah. “Kalau dulu kamu pandai bicara begitu di depan orang tuaku, kenapa sekarang kamu jadi nggak sabar begini? Kenapa kamu nggak bisa memahami Raka seperti dulu kamu memahamiku? Kenapa kamu nggak bisa menerima anak-anakmu apa adanya,mengajari mereka pelan-pelan, membiarkan mereka menjadi diri sendiri? Kenapa kamu malah mendikte mereka harus menjadi sesuai dengan apa yang kamu mau?”
“Kamu berlebihan. Aku bukan ayah yang seburuk itu.”
“Tapi lihat bagaimana kamu selalu memperhatikan Noah dan mengabaikan Raka, seolah Raka itu produk gagal. Seolah kamu sudah menyerah terhadapnya, cuma karena kemampuan belajarnya nggak sehebat Noah, cuma karena dia kurang cepat tanggap. Padahal, Raka itu kan juga anakmu.”
“Mana aku tahu, bukannya sejak dulu kamu udah suka pergaulan bebas.”
PLAK!
Suara tamparan yang dilayangkan Dian di pipi kiri Nirwan bergema ke penjuru rumah yang kosong, membuat lelaki itu terdiam seketika.
Meski yang baru saja ditampar adalah Nirwan, tapi Dian malah terlihat lebih terluka. Mata yang menatap suaminya itu mencerminkan mata seseorang yang baru saja dikhianati, hanya ada kekecewaan di sana. Ia seakan tak percaya bahwa lelaki yang berada di hadapannya itu adalah orang yang sama dengan yang dulu pernah begitu memujanya.
Sementara Nirwan … sejak awal pertengkaran tadi, tak sekalipun ia memandang wajah istrinya. Namun setelah telapak tangan wanita itu mendarat kasar dan meninggalkan rasa perih, tak hanya di pipi tapi juga di balik rongga dadanya, tatapan Nirwan akhirnya berhenti di wajah sang istri.
Apa yang berubah selama hampir dua dekade pernikahan mereka? Mengapa rasanya sudah lama sekali, sejak terakhir ia menatap wajah wanita di hadapannya itu?
Mengapa Dian yang dulu terlihat begitu sempurna di matanya, kini seperti seorang wanita yang hanya dipenuhi kekurangan?
Apakah Dian yang telah berubah? Atau perasaan Nirwan yang telah berubah?
Nirwan baru saja akan mengatakan sesuatu kepada wanitanya itu, namun Dian sudah berpaling dan menghambur pergi, meninggalkan dapur menuju ke kamar utama sebelum kemudian membanting pintu tetutup.
Lelaki itu hanya bisa terdiam menatap lantai di hadapannya, berpegangan pada pinggiran meja marmer sambil mengusap wajahnya sendiri, mencoba mengusir segala kegelisahan dan rasa frustasinya.
Ia terlihat seperti sedang menyesali banyak hal.
Noah, yang sejak tadi menyembunyikan diri di balik partisi kayu antara ruang depan dan ruang tengah, bertemu mata dengan Raka. Kakak laki-lakinya itu ternyata sudah menguping pertengkaran kedua orang tua mereka dari balkon lantai mezzanine yang menghadap langsung ke ruang tengah.
Raka berdiri sedikit membungkuk dengan menopangkan kedua sikunya di atas railing, tepat di depan pintu kamarnya. Cowok bertubuh jangkung dengan luka kecil yang membelah alisnya itu, meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sebagai isyarat agar Noah tetap berada dalam mode silent.
Meski Raka tak mengatakan apa-apa, tapi Noah paham, sedikit banyak kakaknya itu pasti memendam rasa kesal kepada Noah.
Kesayangan ayah, berbakat, cerdas, sempurna, Noah memiliki semua yang diinginkan Raka sebagai anak sulung; anak yang seharusnya menjadi penerus di keluarga itu.
Padahal, dibandingkan Noah, Raka selalu berusaha lebih keras untuk memenuhi harapan sang ayah. Tapi Nirwan tak pernah puas dengan pencapaiannya.
Memang Raka tidak menonjol seperti Noah, nilai-nilainya hanya sedikit di atas rata-rata. Prestasi terbaiknya di kelas hanya sampai peringkat 6, Nirwan juga mengklaim bahwa Raka tak memiliki kharisma yang sama dengan Noah. Raka terkesan sembrono, terlalu santai dan easy going, pribadinya sangat bertolak belakang dengan Noah yang terlihat dewasa dan berkelas.
Itu sebabnya, apapun yang dilakukan Raka tak akan pernah cukup di mata Nirwan, karena ia sudah terlanjur menjadikan Noah sebagai standarnya.
Noah memutuskan untuk kembali meninggalkan rumah, setidaknya sampai suasana di rumah itu sudah sedikit kondusif. Ia meninggalkan aero duffel bag miliknya di kursi depan dengan hanya membawa bola basket, dan berjalan menuju lapangan basket outdoor di perumahan eksklusif tempat mereka tinggal itu.
Baru sekitar 5 menit Noah bermain basket sendiri, bola yang ia tembakkan gagal masuk ke keranjang dan terlempar ke luar lapangan setelah membentur bibir ring. Memantul beberapa kali di paving block sebelum akhirnya menggelinding dan dipungut oleh seseorang.
“Baru pulang latihan, kenapa latihan lagi?” sapa orang itu.
Tubuhnya tak terlalu berisi, tapi ia sangat tinggi, membuat kakinya jadi terlihat panjang dan ramping. Rambut mullet yang menutupi tengkuknya itu tampak melekuk menutupi bagian samping leher hingga ke bawah telinganya. Tapi yang paling menarik dari seluruh penampilan remaja yang belum genap 18 tahun itu, adalah senyumannya yang sangat cerah.
“Aku lagi malas di rumah,” balas Noah sambil mengelap keringat dengan lengan kaosnya.
Raka, satu-satunya saudara kandung yang dimiliki Noah itu, melangkah memasuki lapangan dengan bola di tangannya. Ia lalu mencoba melakukan tembakan ke ring. Tapi tembakannya meleset, bahkan tak menyentuh ring.
“Udah sok cool, malah airball[1]. Payah,” celetuk Noah setengah bercanda, sambil lalu berlari kecil untuk mengejar bola yang kembali terlempar ke luar lapangan itu.
Tapi sepertinya Raka menangkap ucapan Noah barusan dengan maksud yang berbeda. Ia tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari ring basket yang tak berhasil disentuh oleh bola yang ia lempar barusan.
“Iya, ya. Aku memang payah,” gumamnya dengan mata dan senyum yang sendu.
Noah yang menyaksikan ekspresinya itu pun berubah jadi panik. “Maksudku, kamu payah dalam permainan basket. Kamu nggak bisa main basket,” terangnya mencoba memperbaiki maksud celetukannya tadi.
“Iya, aku paham. Aku memang nggak bakat main basket …,” Raka tertawa pelan, “dan aku juga memang nggak berbakat dalam hal apapun. Kalau dibandingkan denganmu.”
“Jangan bilang begitu!” Noah berteriak keras, hingga suaranya menggema di sore yang sepi itu. “Jangan pernah bandingkan aku sama kamu!”
“Haha … maaf ya, berani-beraninya aku membandingkan diri dengan Mr. Perfect.”
“Raka!” Noah berteriak lagi. Kali ini air mata sudah menggenang di matanya. “Bukan itu maksudku! Kamu tahu kan aku ini bodoh dalam berkata-kata. Aku nggak pernah merasa lebih baik darimu! Maksudku … kadang memang aku lebih baik dari kamu … tapi … bukan berarti aku selalu lebih baik. Maksudku … kamu tahu kan … kamu juga punya sesuatu yang lebih unggul dari aku …”
“Seperti ukuran sen.jata yang lebih besar?” sambung Raka sambil menunjuk ke arah bagian privasinya.
“Bukan itu juga maksudku!” gerutu Noah jengkel.
Tapi Raka hanya balas tertawa. Raka selalu seperti itu. Padahal Noah sudah kalang kabut memikirkan bagaimana cara agar Raka tidak berkecil hati, bagaimana cara menjaga perasaannya. Karena meski Noah sangat ingin menghibur Raka, tapi ia takut kata-kata yang keluar dari mulutnya hanya akan berakhir menyakiti hati saudara kandungnya itu.
“Aku tahu kok …,” ujar Raka sambil memandang Noah dengan tatapan yang hangat, “… udah kamu nggak perlu panik gitu. Aku tahu. Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa,” tambahnya lagi.
“Aku benar-benar nggak suka dengan cara ayah yang menganggap kamu nggak punya bakat. Padahal … aku tahu kamu udah belajar keras. Kamu bahkan ikut bimbel dan sebagainya, kamu beli buku-buku yang disukai ayah, walaupun sebenarnya kamu lebih suka baca komik. Tapi kamu tetap …”
“Udah … udah … nggak usah dibahas lagi, aku jadi malu.” Raka merampas bola basket dari tangan Noah dan mulai melakukan lemparan-lemparan kecil ke arah ring.
Sementara itu, Noah masih merasa sangat tidak enak kepada kakak laki-laki yang usianya hanya terpaut dua tahun darinya itu, dan itu terlihat jelas dari ekspresi wajahnya saat ini.
“Raka…,” gumamnya kemudian, “do you want me to slow down?[2]”
“Ha?!”
“Maksudku … mungkin lebih baik aku fokus ke basket aja dan berhenti belajar. Supaya nilai-nilai pelajaranku di sekolah bisa sedikit menurun … Akh!”
Kalimat Noah terpotong karena Raka menempeleng kepalanya lumayan keras, sampai membuatnya meringis sambil mengusap-usap kepalanya sendiri.
“Dasar anak sombong s****n!” hardik Raka murka.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Airball adalah tembakan yang meleset sepenuhnya, yang sama sekali tidak menyentuh ring atau bahkan papan pantul (backboard).
[2] Terjemahan: “Apakah kamu mau aku melambat?” Maksud Noah adalah, apakah Raka ingin Noah menjadi sedikit pasif, misalnya tidak perlu berusaha dalam pelajaran agar nilai-nilai akademisnya tak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan Raka.