Am I Doing The Right Thing?

1850 Kata
Saat Noah melewati pintu, ia tidak diarahkan ke ruangan kepala sekolah, melainkan ke ruangan wakil kepala sekolah. “Kepala sekolah sedang tidak di tempat. Untuk sementara, wakil kepala sekolah yang menggantikan beliau,” ujar seorang wanita yang tadi memanggil nama Noah untuk masuk, sepertinya dia salah satu staff kepala sekolah. Awalnya Noah ingin membatalkan pertemuan ini, karena tujuannya adalah bicara langsung dengan kepala sekolah. Tapi Noah pikir, ia tak boleh mengulur waktu, lagipula ia tak tahu kapan kepala sekolah akan kembali ke kantornya. Jadi, Noah masuk ke ruangan wakil kepala sekolah yang tampak sibuk mengetik sesuatu di depan laptopnya. Berbeda dengan kepala sekolah yang selalu dipanggil dengan sebutan jabatannya; Pak Kepala Sekolah, wakil kepala sekolah lebih sering dipanggil dengan namanya, Pak Beni. Pak beni menyuruh Noah duduk di kursi yang ada di seberang mejanya, tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptop. Noah pun mengambil posisi di kursi itu, tepat di hadapan Pak Beni. Ia menunggu lelaki itu selesai dengan urusannya dan tak mengatakan apa-apa sampai sang wakil kepsek mengangkat wajahnya dan mengalihkan perhatian kepada Noah. “Ada apa?” tanya Pak Beni, “katanya kamu punya suatu hal penting yang mau disampaikan langsung dengan kepala sekolah.” Noah meletakkan flashdisk di atas meja dan mendorongnya ke hadapan Pak Beni. “Apa ini?” tanya lelaki itu tanpa menyentuh flashdisk yang diserahkan Noah. “Bapak dengar kabar siswa kelas 10-S, anggota klub badminton yang kemarin masuk rumah sakit?” tanya Noah kemudian. “Iya, saya dengar dari kapten klub-nya, ia jatuh di tangga waktu lagi piket bersih-bersih setelah kegiatan klub.” “Itu bukan kecelakaan, Pak,” tukas Noah, “Bapak silakan cek aja isi rekaman video di dalam flashdisk itu.” “Maksudnya bagaimana?” Pak Beni masih kelihatan bingung. “Rihan, anak yang dilarikan ke rumah sakit itu bukan terluka karena jatuh. Dia di-bully. Sejak awal dia masuk ke klub, sampai akhirnya jadi seperti ini,” jelas Noah akhirnya. “Sebentar … kamu tahu masalah bullying ini adalah masalah serius, kan? Kamu nggak bisa sembarangan …” “Itu sebabnya saya mengumpulkan semua bukti-bukti di flashdisk itu, Pak,” sela Noah sigap. “Karena saya tahu betapa seriusnya masalah ini dan saya nggak mau dianggap mengada-ada.” Pak Beni tampak khawatir sambil mengamati barang bukti di hadapannya, sebelum akhirnya ia mengambil benda itu dan menghubungkannya ke laptop. Hanya sekitar satu sampai dua menit menonton video rekaman itu, wajahnya langsung berubah. Ia menutup laptop sambil tampak gelisah memikirkan sesuatu. “Siapa yang merekam semua ini?” tanyanya kemudian. “Saya harap Bapak bisa lebih fokus dengan isi rekaman itu daripada memikirkan siapa yang merekamnya,” balas Noah. Pak Beni kembali menghempas napas seolah sedang menahan rasa kesalnya. Jarinya bergerak mengetuk-ngetuk permukaan meja, sementara matanya menatap Noah dengan tajam. Ia lalu mengangkat gagang telepon dan bicara dengan wanita yang berada di meja depan tadi. “Nina, apa Andi sudah datang?” tanyanya. “Sudah, Pak. Dia sedang menunggu di luar,” jawab staff wanita yang benama Nina itu. “Tolong suruh masuk saja sekarang,” instruksi Pak Beni sebelum menyudahi pembicaraan dan meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya. “Kami akan segera mengambil tindakan terkait masalah ini,” ujar Pak Beni lagi kepada Noah, “kamu boleh kembali ke kelas.” Noah tak begitu puas dengan reaksi yang ia dapatkan, tapi ia tahu sulit baginya untuk terlibat lebih dari ini. Ia pun beranjak dari kursi, tepat ketika seseorang mengetuk pintu dan langsung menguak pintu itu bahkan saat Pak Beni belum mempersilakannya masuk. Andi muncul dari balik pintu dan Noah tidak kaget melihatnya. “Loh? Masih ada Noah?” celetuk Andi setengah heran. “Duduk kamu,” tegas Pak Beni tanpa membentak, dan Andi menurutinya. Noah sangat ingin mendengarkan pembicaraan mereka, tapi sepertinya Pak Beni tak akan mengatakan apapun kepada Andi selama Noah masih ada di ruangan itu; matanya terus mengikuti gerakan Noah seolah menunggunya keluar. Perasaan Noah tidak enak, entah kenapa ia merasa kalau mungkin mengadukan masalah ini kepada wakil kepala sekolah adalah langkah yang salah. Meski begitu, ia tetap berjalan meninggalkan ruangan dan kembali ke kelas. * * * “Andi masih ikut latihan pagi klub badminton kayak biasa.” Begitu pesan yang dikirimkan Said kepada Noah pagi menjelang siang itu, saat Cendana sedang dalam perjalanan menuju ke venue untuk pertandingan semifinal Liga Rookie. Noah mendengus kesal bahkan nyaris mengumpat di depan layar hp-nya kalau saja ia tak ingat bahwa saat ini ia sedang duduk di sebelah Juan dan di belakang Coach Adam. Noah berusaha mengendalikan diri sebelum kemudian mengetik pesan balasan untuk Said. “Pihak sekolah kerjaannya apa sih? Ini hari pertama Rihan masuk sekolah setelah keluar dari rumah sakit, kalau Andi masih santai-santai aja kayak gitu, gimana Rihan bisa balik ke klub?” Tapi, tentu saja, tak ada gunanya meluapkan semua itu kepada Said. Noah tak merasa emosinya mereda sedikitpun. Bahkan saat tim Cendana sudah turun dari bus dan berjalan menuju ke ruang ganti, Noah masih berkutat dengan hp-nya; saling berbalas pesan dengan Said yang berada di sekolah. “Noah, jangan kebanyakan main hp sebelum pertandingan.” Ahsan yang berjalan di sampingnya menyempatkan diri untuk memperingatkan anggotanya itu, dan Noah pun langsung menyimpan hp kembali ke dalam saku celana trainingnya. “Sorry, Kak,” katanya sambil lalu. “Kenapa? Ada masalah di rumah?” “Nggak, cuma masalah di kelas aja.” Ahsan mengangguk paham sembari kemudian memberi tepukan hangat di punggung Noah. “Fokus ke pertandingan dulu, ya,” tuturnya dengan intonasi yang menenangkan dan tanpa tekanan. Noah membalasnya dengan anggukan sopan. Namun, hanya beberapa menit sebelum pertandingan semifinal Cendana dimulai, Noah yang bermaksud menyimpan hp ke dalam tas memutuskan untuk sedikit mengintip notifikasi di layar hp-nya. Saat itulah ia melihat pesan baru dari Said. Salah seorang teman sekelas Noah yang sepertinya berperan sebagai informan Said, mengatakan bahwa waktu Rihan permisi ke toilet di tengah jam pelajaran, ia kembali ke kelas dalam keadaan basah kuyup dari kepala hingga bahu dan celananya. Waktu ditanya, katanya ada yang menyiram air dari atas saat ia sedang berada di dalam bilik toilet. Sayangnya tidak ada yang melihat siapa pelakunya, atau mungkin tidak ada yang berani mengaku bahwa mereka melihat pelakunya. Ditambah lagi, waktu kembali dari jam istirahat siang hari ini, ada tulisan besar dan memenuhi seluruh papan tulis kelas 10-S yang berbunyi: Rihan gak ada bakat, gak pantas di kelas 10-S. Darah Noah semakin mendidih tak keruan, rasanya seperti akan menguap dari ubun-ubunnya. Ia sangat marah. Apa yang sudah ia usahakan ternyata tak ada gunanya dan malah membuat keadaan Rihan semakin parah, seperti apa yang dikhawatirkan Rihan waktu itu: “Cuma karena kamu pengen nyoba jadi pahlawan, kamu kira apa yang bakal terjadi padaku setelah ini? ... Masalahnya nggak bakal bisa diselesaikan semudah itu. Malah sepertinya, konsekuensi yang harus kuhadapi bakalan semakin parah." Selama ini Rihan tetap diam menerima perundungan yang dilakukan Andi, bukan tanpa alasan. Dia sangat khawatir apa yang akan terjadi padanya jika ia menunjukkan perlawanan sedikit saja. Rihan sudah bisa memprediksi, dengan sifat Andi yang selalu ingin berada di atas dan akan sangat murka jika ada yang berani melawan kekuasaannya, maka sudah bisa dipastikan bahwa nasib Rihan akan semakin menyedihkan jika perlawanannya hanya setengah-setengah. Tapi siapa bilang Noah hanya ingin membantu Rihan setengah-setengah? Ia sudah bertekad bahwa ia tak akan membiarkan Andi berbuat sesukanya. Dengan emosi yang sangat kacau seperti itu, Noah melangkah ke lapangan pertandingan hari ini. Akibatnya, ia gagal menepati janji kepada Ahsan untuk tetap fokus ke pertandingan. Noah jadi terburu-buru karena ingin cepat menyelesaikan pertandingan dan kembali ke sekolah. Ia tak bermain seperti biasa, tidak tenang dan berkali-kali melakukan kontak fisik yang tak diperlukan saat bertahan maupun menyerang. "Priiittt!" Wasit kembali meniup peluit untuk menghentikan pertandingan dan memberi kode pelanggaran yang dilakukan Noah. Charging foul[1]. Ini adalah foul[2] ketiga yang dilakukan Noah. Padahal kuarter pertama baru berlangsung lima menit. Kalau begini terus, hanya tinggal menunggu waktu sebelum Noah terkena foul out[3]. Akhirnya, saat kuarter awal selesai, Coach Adam memutuskan untuk menyuruh Noah tetap duduk di bench sampai pertandingan selesai. Saat duduk di kursi cadangan di pinggir lapangan itu, Noah tak bisa membendung rasa jengkelnya, bahkan tanpa sadar ia menepis tangan Luna yang ingin mengompres tengkuknya dengan es. Walaupun Noah langsung meminta maaf setelahnya, tetap saja ia secara tak langsung sudah mengumumkan kepada semua orang yang ada di sekitar bench, bahwa emosinya saat ini sedang sangat tidak stabil. Pertandingan berhasil dimenangkan oleh Cendana tanpa ada kesulitan yang berarti. Hasil yang nyaris sudah bisa ditebak. Selama beberapa tahun terakhir Liga Rookie memang dirasa tak begitu menantang lagi, karena di provinsi itu SMA Cendana masih menjadi yang terkuat. Meskipun ada beberapa sekolah yang mulai bisa bersaing dengan baik, sayangnya mereka masih belum mampu mengungguli Cendana. Pertandingan final akan diadakan besok, melawan SMA Soetomo yang tampil luar biasa tahun ini. Entah apa yang akan terjadi besok, yang pasti saat ini Noah sedang sibuk meminta maaf kepada pelatih dan kaptennya. Di pertandingan semifinal tadi, Noah hanya bermain di kuarter awal. Noah memang tidak protes, tapi rekan setimnya, baik yang berada di pinggir lapangan maupun yang di tribun, bisa melihat dengan jelas bahwa mood Noah sedang sangat buruk. Noah tak bicara dengan siapapun saat ia duduk di bench sepanjang pertandingan. Wajahnya terlihat galak hingga rekan-rekan setimnya pun ragu mengajaknya bicara. Untungnya Dewa bermain dari kuarter awal sampai akhir, jadi ia tak tahu apa yang terjadi di pinggir lapangan. Jika tidak, mungkin sudah terjadi baku hantam di tim Cendana karena karakter Dewa yang keras dan gampang meledak. “Waktu itu kamu juga menghilang entah kemana setelah pertandingan. Kata Luna kamu ke rumah sakit bersama temanmu,” nada bicara Coach Adam masih terdengar cukup tenang saat menghadapi perminataan maaf Noah, “saya paham kamu punya urusan lain di luar basket. Tapi saya akan sangat menghargai kalau kamu mau sedikit menganggap keberadaan tim basket Cendana ini.” “Maaf, Coach.” Noah menjawab tanpa mengangkat wajahnya di hadapan dua orang penting tim itu. “Kamu harusnya ngomong kalau ada hal-hal mendadak kayak gitu. Jangan bikin orang cemas,” timpal Ahsan, “sama halnya kalau kamu lagi sakit. Bilang aja. Jangan disembunyi-sembunyikan.” “Maaf, Kak.” Masih dengan wajah yang ditekuk dalam, Noah hanya menggumamkan kata yang sama. Pelatih dan kapten tim Cendana itu saling bertukar tatapan sebelum akhirnya Coach Adam menghela napas menyudahi, ia lalu memberi dua tepukan ringan di lengan Noah sambil berlalu pergi. "Bantu Luna beres-beres, kita harus segera mengosongkan ruangan ini dan jangan ada sampah." Coach Adam meninggalkan Noah dengan Ahsan di sudut ruang ganti itu sembari memberi instruksi ke anggota tim Cendana lainnya. Ahsan masih ingin mengatakan sesuatu kepada Noah, tapi ia sedang sangat berhati-hati memilih kata-katanya. “Noah, apa kamu nggak suka tim Cendana?” tanya Ahsan akhirnya. . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Charging foul adalah pelanggaran ofensif (situasi menyerang) yang dilakukan dengan cara mendorong atau menabrak pemain bertahan tim lawan. [2] Foul adalah pelanggaran langsung terhadap pemain lain (lawan) seperti misalnya blocking foul dan flagrant foul. [3] Foul out adalah keadaan dimana seorang pemain telah melakukan lima kali foul biasa atau telah melakukan technical foul dua kali dalam satu pertandingan. Pemain yang terkena foul out harus keluar dari lapangan pertandingan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN