Sepanjang perjalanan menuju kembali ke lapangan pertandingan, Noah semakin menyadari betapa pentingnya komunikasi dalam hubungan manusia. Seandainya hari ini Igris tak membawa kedua temannya itu untuk berhadapan dan bicara langsung dengan Noah, maka mungkin sampai kapan pun Noah akan menganggap Heru dan Steven, termasuk juga Igris, sebagai musuhnya.
Namun, sebuah senyum tipis yang tadinya hampir muncul di wajah Noah, perlahan memudar bahkan saat senyum itu belum berhasil terbentuk dengan sempurna. Ia diingatkan kembali tentang peristiwa lalu yang sepertinya akan selalu menjadi trigger bagi rasa bersalah Noah.
Tentang bagaimana ia seharusnya bisa berperan lebih, agar Fajar bisa menemui akhir yang berbeda. Seandainya dulu Fajar memiliki orang-orang yang bisa mendukung dan melindunginya, seperti teman-teman Noah saat ini.
Seandainya saja Noah bertanya bahkan jika Fajar tak mengatakan apa-apa … menaruh sedikit saja kecurigaan tentang kondisi Fajar, meski ia selalu berpura-pura bahwa ia baik-baik saja.
Seandainya … para bully dan netizen yang mencaci-maki Fajar memiliki kesadaran yang sama dengan Heru.
Seandainya semua kasus bullying bisa diselesaikan hanya dengan bicara satu sama lain, dan berakhir damai seperti apa yang baru saja dialami Noah.
"Mungkin saat ini Fajar masih akan ada di sini,” batin Noah tepat saat ia sudah tiba di hall pertandingan, "tapi ... terlalu banyak 'seandainya' ..."
Sebuah lambaian tangan penuh semangat di tribun yang berada tepat di atas tim Cendana, menyita perhatian Noah. Ia hanya perlu sedikit mendongak untuk menemukan siapa yang ada di sana. Itu adalah Lisa yang sedang duduk di sebelah Gilang untuk menonton pertandingan Noah hari ini.
Melihat Noah yang baru muncul dari pintu masuk di sudut hall, Lisa langsung berdiri dan memutar lengannya seperti gasing agar Noah menemukannya. Perhatian Gilang pun teralihkan dari lapangan, dan matanya mengikuti arah pandangan Lisa. Ia kemudian tersenyum sambil melambai singkat kepada Noah.
Noah menyapa mereka seadanya, dengan sedikit senyum sambil mengangkat telapak tangan ke arah mereka, Noah melanjutkan langkah menuju tim Cendana di pinggir lapangan.
“Lama amat, sembelit?” celetuk Dewa saat Noah mengambil posisi duduk di sebelahnya.
“Ketemu teman di toilet tadi, ngobrol bentar,” terang Noah singkat.
“Noah, kamu dan Igris hari ini udah bisa istirahat. Kita cuma akan mainkan anak kelas 11 dan 12 sampai akhir pertandingan nanti.”
Ahsan yang berdiri di pinggir lapangan untuk mengamati pertandingan, menyempatkan diri menyampaikan informasi itu kepada Noah sesaat sebelum Coach Adam mengatakan sesuatu kepadanya dan membuat si Kapten harus sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Sang Pelatih.
Dengan mata yang masih fokus menatap ke lapangan pertandingan, kedua orang itu saling bertukar kalimat yang tak bisa didengar siapapun. Hanya tampak Coach Adam yang berbicara sambil sesekali menunjuk ke arah para pemain yang berlarian di lapangan, dan Ahsan yang mengangguk-angguk mencerna setiap perkataan pelatihnya.
Skor menunjukkan angka 8 – 51 untuk keunggulan Cendana. Padahal kuarter ketiga sudah berjalan lebih dari setengahnya, tapi Dharmawangsa hanya berhasil menambah 2 angka di papan skor mereka, sementara Cendana terus mengumpulkan poin.
Duduk di pinggir lapangan sambil mengamati lima pemain kelas 11 Cendana yang sedang berlarian di hadapannya, mata Noah menatap kosong pada sepatu-sepatu basket mereka yang berdecit di atas lantai vinyl. Lalu, entah bagaimana, pikiran Noah pun kembali melayang meninggalkan venue pertandingan itu.
Noah tak ingin mengingat Fajar lagi, jika itu hanya akan membuatnya nelangsa. Minimal, Noah hanya ingin mengingat kenangan yang indah-indah saja. Namun itu semua di luar kendalinya.
Jika diingat kembali, Fajar bukanlah pemain basket yang berasal dari keluarga berada. Ia hanyalah seorang anak kuli bangunan yang kebetulan menyukai basket dan kebetulan juga memiliki bakat.
Terlintas di benak Noah, bagaimana seorang anak kampung yang sederhana tiba-tiba dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang elite seperti Dharmawangsa ini.
Di dalam pikiran Noah, terbayang sosok Fajar yang ... mungkin saja … ia ditertawakan ketika pertama kali bergabung ke klub basket professional dengan penampilan dan perlengkapan basket yang seadanya.
Sebelumnya, hal-hal seperti itu tak pernah muncul di pikiran Noah. Ia mengira orang yang sama-sama menyukai basket seharusnya bisa saling mendukung, dan kehidupan basket profesional Fajar pastilah menyenangkan.
Tapi, hari ini Noah menyaksikan sendiri, bagaimana tim yang merasa kelompoknya lebih baik akan cenderung memandang rendah tim lain, dan akan mencari-cari hal yang bisa dijadikan bahan cemooh demi bisa menaikkan rasa percaya diri kelompoknya.
Teorinya seperti itu.
Betapa naifnya Noah yang baru menyadarinya sekarang – di liga SMA pertamanya – tentang bagaimana selama ini ia mengabaikan kesulitan yang mungkin sudah lama dialami Fajar, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Noah benci perasaan tidak berdaya ini … perasaan sesak karena menyadari bahwa sudah tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki semuanya, karena Fajar sudah terlanjur tidak ada.
“Kita buat skor yang bagus, yuk,” celetuk Noah tiba-tiba dan berhasil menyita perhatian Dewa.
“Skor bagus gimana?” tanya Dewa menanggapi.
“Skor angka cantik. Kayak 9 – 99 atau 10 – 100 gitu.”
“Heh! Itu namanya kamu nggak sopan sama lawan.”
“Ya, memang tujuannya buat mengejek Dharmawangsa.”
“Noah …?” Juan yang duduk di samping Dewa, menarik tubuhnya agak ke belakang agar ia bisa bicara sambil menatap Noah. “Kamu ada dendam apa sama Dharmawangsa?”
“Mereka bilang aku udah salah pilih SMA,” ungkap Noah akhirnya, “harusnya aku pilih SMA yang bisa bantu bakatku berkembang, misalnya Bima Sakti.”
“Ha?! Mulut siapa yang berani ngomong gitu?!” Emosi Dewa pun berhasil tersulut.
“Terus, katanya SMA Cendana ini elite-nya maksa. Pengen kelihatan elite padahal biasa-biasa aja.”
“Kurang ajar! Yang mana orangnya, yang berani ngomong gitu, yang mana?!” Dewa mulai terbakar. Suaranya terdengar keras hingga menyita perhatian Coach Adam dan Ahsan yang sedang berdiri tak jauh di hadapan mereka.
“Mereka juga bilang anak kelas 12 Cendana harusnya mikirin ujian kelulusan, udah gak cocok lagi ikutan main di Liga Rookie,” tambah Noah.
Tapi sebenarnya tambahannya ini cuma ngarang, Dharmawangsa tak pernah mengatakan itu.
Dewa nyaris kehilangan akal sehatnya. Ia beranjak dan langsung menghampiri Coach Adam, memaksa untuk melakukan pergantian pemain dan memasukkannya ke lapangan agar ia bisa menghajar para pemain Dharmawangsa itu satu per satu.
“Beneran mereka ngomong gitu?” tanya Juan memastikan kepada Noah.
Noah mengangguk mengiyakan. “Tapi yang terakhir tadi bohong sih, aku ngarang aja supaya Kak Dewa makin emosi.”
Bisa-bisanya Noah mengatakan itu dengan ekspresi polos tanpa dosa, padahal ia sudah berhasil membuat Dewa meledak meletup seperti popcorn.
“Hisshh … anak ini.” Juan mendesis sambil menggeleng tak habis pikir.
Alih-alih mengkhawatirkan prestasi tim Cendana setelah ditinggalkan senior kelas 12 tahun depan, ia malah lebih prihatin membayangkan bagaimana anggota kelas 11 harus mengendalikan juniornya yang satu ini.
Tapi belum sempat Juan memulai ceramahnya untuk sedikit menasehati Noah, anak itu sudah beranjak meninggalkan kursi dan menyusul Dewa yang sedang meluahkan emosinya di depan Coach Adam.
“Coach," panggil Noah, "saya main di kuarter keempat, ya?"
"Kita masih ada pertandingan penting lusa. untuk hari ini udah dipastikan Dharmawangsa nggak bisa berbuat apa-apa. Kamu dan Igris istirahat aja dulu,” jawab Coach Adam.
“Lagipula, Coach cuma akan pakai sisa kuarter untuk mencoba beberapa strategi dan melihat kemampuan anggota kelas 11 yang akan memimpin Cendana kalau kami sudah lulus nanti.” Ahsan menambahkan.
"Tapi saya mau main," tegas Noah tak peduli, seolah barusan tadi pelatih dan kaptennya itu tidak mengatakan apa-apa.
Coach Adam menghela napas sebelum menanggapi permintaan ngotot Noah, “Ya udah, kalau gitu kamu aja yang jadi pelatih Cendana.”
Mendengar jawaban kesal dari Coach Adam, Noah pun sadar kalau dia sudah bersikap tidak sopan pada sang pelatih. “Sorry,” sesalnya sambil menunduk.
“Noah, bukan begitu caranya kalau mau minta dimainkan dalam pertandingan,” timpal Dewa dari sebelah Noah, “kalau bicara sama Coach Adam tuh begini ...”
Dewa mengalihkan perhatiannya dari Noah sambil lalu bicara tegas di hadapan pelatih Cendana itu. “Coach, mainkan saya dan Noah di kuarter terakhir. Kalau nggak, kami bakal mogok latihan,” katanya sambil agak mendongak untuk bertatapan dengan Coach Adam.
Noah memutar bola matanya, dalam hati ia berpikir kalau rasa-rasanya bukan begitu juga cara meminta yang baik kepada pelatih.
“Coach, pokoknya kami bakal nunjukin permainan yang menarik di kuarter terakhir ini. Kalau kira-kira penampilan saya dan Kak Dewa di luar ekspektasi, kami siap ditarik keluar kembali.” Noah menjelaskan dengan lebih berkepala dingin kali ini.
Coach Adam bertukar pandang dengan Ahsan yang sejak tadi mendampingi di sebelahnya, mengisyaratkan bahwa ia menunggu pendapat dari kapten timnya itu.
“Nggak ada salahnya juga sih, Coach. Menurut saya, kita udah cukup bereksperimen sepanjang kuarter ketiga tadi.” Ahsan menuturkan opininya.
Dengan begitu, kuarter keempat pun kembali dimulai setelah jeda 2 menit. Noah dan Dewa memasuki lapangan pertandingan dengan tekad yang sama; menghancurkan Dharmawangsa.
“Juan, tolong kamu kendalikan dua hewan liar itu,” instruksi Coach Adam kepada center kebanggaan Cendana, Juan, yang hanya membalas dengan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum dan berlalu.
.
Sepuluh detik sebelum pertandingan berakhir, skor saat ini adalah 9 – 96. Sepanjang kuarter terakhir, Dharmawangsa hanya berhasil menambah 1 angka melalui tembakan free throw. Pertandingan ini terasa seperti neraka bagi mereka, satu-satunya hal yang paling diharapkan Dharmawangsa saat ini adalah peluit wasit yang menandakan selesainya pertandingan.
Bahkan saat Dewa berlari menggiring bola menuju ke area mereka, Dharmawangsa sudah tak menunjukkan perlawanan sama sekali.
“Kak!” panggil Noah dari luar garis 3 poin di sudut lapangan, ia mengangkat tangannya meminta bola. Noah menyukai titik 180 derajat ini untuk menembakkan 3 poin, itu sebabnya ia percaya diri ketika meminta bola kepada Dewa.
Tak ada yang menghalangi, jadi Dewa mengirimkan passing kepada Noah tanpa trik apapun. Noah menerima bola yang diberikan Dewa dengan mudah, ia menargetkan skor 99 untuk mengakhiri pertandingan.
Blush!
Benar saja, tiga poin berhasil ditambahkan untuk Cendana saat sisa pertandingan masih ada 5 detik lagi. Tapi Dharmawangsa bahkan tak berniat untuk mengutip bola meski sebenarnya mereka masih punya kesempatan untuk menambah angka.
Yuda mencuri bola yang sedang digiring malas-malasan oleh salah satu pemain Dharmawangsa – karena mereka bermaksud untuk menunggu waktu lima detik itu habis tanpa melakukan apa-apa.
Namun, saat Yuda ingin memasukkan skor penutup untuk Cendana, Dewa berteriak mencegahnya. “Yuda, jangan! Sini bolanya!” teriak Dewa.
“Ha?” Yuda menghentikan dribble-nya dan refleks mengoperkan bola kepada Dewa. “Aku cuma iseng pengen nambah-nambahin pts aja. Masih ada waktu, Kak,” katanya kemudian.
Tapi Dewa yang menerima bola dari Yuda, juga tak melakukan apa-apa. Ia hanya memegang bola sampai waktu habis dan buzzer tanda berakhirnya pertandingan berbunyi memenuhi lapangan.
“Yes!” Noah mengepalkan tangan untuk mengekspresikan rasa puas setelah berhasil mengakhiri pertandingan dengan angka cantik yang ia incar.
Di saat yang bersamaan, pemain No. 9 Dharmawangsa melintas di sebelahnya, Noah pun tak ingin kehilangan kesempatan ini.
“Gimana? Bagus kan skornya?” tanyanya bernada mengejek.
Si No, 9 hanya mengirimkan tatapan jengkel kepada Noah sebagai balasan. Tapi Noah suka itu. Ia menikmati kejengkelan para pemain Dharmawangsa yang sebelumnya tampak begitu high and mighty saat berhadapan dengan Cendana.
“Jahat banget,” celetuk Yuda dari belakang Noah, “jadi kamu sama Kak Dewa sengaja merencanakan skor 9 – 99 ini? Parah. Dasar tukang bully.”
“Apa sih?!” Noah malas menanggapi Yuda yang ia anggap tak tahu apa-apa, dan memutuskan untuk berlalu pergi meninggalkan Yuda yang masih geleng-geleng kepala berlagak bijak.
Saat berpapasan dengan Dewa, Noah menyambut tos yang ditawarkan seniornya itu sebelum kemudian mereka tertawa bersama. Ini pertama kalinya Noah merasa akrab dengan Dewa, senior yang sebelumnya ia anggap keras kepala dan sulit diajak kompromi. Padahal sebenarnya, orang-orang hanya tidak tahu saja bagaimana cara menghadapi seorang Dewangga Andara.
Hari ini, Noah merasa cukup puas dengan hasil pertandingan. Melihat tampang-tampang kesal Dharmawangsa, membuatnya jadi tak sabar untuk melihat ekspresi yang sama di wajah Andi ketika tindakan bullying-nya terbongkar.
Tapi sebenarnya Noah agak kepikiran dengan perkataan Yuda yang menyebut perbuatannya ini sebagai salah satu bentuk bullying. Coach Adam juga menasehati Noah dan Dewa agar tak membeberkan kepada wartawan bahwa mereka sengaja membuat angka skor menjadi “angka cantik”. Walaupun sebenarnya itu sah-sah saja, tapi tetap saja kesannya Cendana mengolok-olok Dharmawangsa dan tidak menghargai lawan.
“Bayangkan kalau kalian berada di posisi Dharmawangsa. ‘Sakit hati’ saja rasanya nggak cukup untuk menggambarkan betapa terpukulnya dikalahkan dengan cara seperti itu,” nasihat Coach Adam.
“Memang benar juga sih,” pikir Noah dalam hati. Sambil membereskan barang-barangnya untuk menuju ke bus yang terpakir di halaman belakang GOR, Noah jadi kepikiran kalau mungkin saja – tanpa sadar – ia juga sedang mem-bully seseorang.
Pemain No. 9 Dharmawangsa itu mungkin saja sudah berlatih keras sepanjang tahun demi mempersiapkan diri mengikuti Liga Rookie bersama timnya. Tapi mereka malah dikalahkan dengan skor yang memalukan.
“Mungkin sebaiknya aku minta maaf,” batin Noah lagi. Ia berniat untuk bicara baik-baik dengan anggota Dharmawangsa, jika ada kesempatan untuk bertemu lagi, akan lebih baik jika ia bisa bertemu dan bicara dengan Kapten atau pemain No. 9 mereka.
Pikiran Noah sangat sibuk seperti komputer yang sedang membuka banyak tab, ia pun memutuskan untuk menyingkirkan sementara hal-hal yang hanya akan membuatnya stress jika terus dipikirkan.
Itu sebabnya, untuk mengalihkan perhatian, Noah membuka hp-nya dan memeriksa notifikasi yang masuk selama pertandingan tadi.
“Noah, aku ketemu Kak Gilang. Kami tunggu di dekat bus, ya. Kalau sempat nanti kita foto dulu.” Begitu bunyi pesan suara yang dikirimkan Lisa melalui aplikasi chatting yang biasa mereka gunakan.
“Bos Red Phantom sengaja nonton hari ini, awas aja kalau kamu nggak keluar nemuin aku!” Tulis Gilang melalui aplikasi chatting yang sama.
Pesan yang dikirimkan Gilang memang terdengar mengancam, tapi Noah malah tertawa membacanya, ia sama sekali tak merasa terancam.
Namun, ada satu pesan yang dikirimkan Said dan membuat jantung Noah langsung berdegup kencang, seolah gravitasi bumi meningkat drastis hingga membuat lututnya lemas.
Sebaris kalimat yang kembali menjadi trigger pemicu traumanya.
“Rihan dilarikan ke Rumah Sakit X ...”