His Name is Abimana Ragnala

1876 Kata
Noah mendengar suara musik yang cukup keras dari arah depannya, dan musik itu berasal dari seorang cewek yang ia kenal. Laluna Sahara, manager tim basket putra yang sedang berjalan tak jauh di hadapannya. Beberapa orang yang melalui jalan itu dan berpapasan dengan Luna terlihat mengernyitkan dahi lalu berbisik satu sama lain sambil cekikikan. Noah segera menyadari mengapa mereka seperti itu. Luna tampak sedang mengenakan earphones berwarna cerah di kedua telinganya dan ia berjalan sambil mengutak-atik hp. Tapi yang tidak diketahui Luna adalah bahwa suara musik dari hp-nya itu tidak terdengar melalui earphones, melainkan dari speaker hp. Earphones Luna tidak tersambung ke hp-nya. Noah mempercepat langkah agar bisa menyusul cewek itu. Dan saat ia sudah berada tepat di belakang Luna, ia melihat jack audio earphones yang memang tersambung ke lubang audio hp milik Luna, tapi sepertinya masih kurang ditekan masuk dan cewek itu tak menyadarinya. Ia hanya fokus menatap layar hp, mengira musik yang diputar itu hanya terdengar olehnya. Tanpa mengatakan apapun, Noah mengulurkan tangannya dan langsung menekan jack masuk dengan tepat ke lubang audio hp milik Luna. Seketika Luna tersentak. Suara musik bising yang didengarkan Luna itu pun terdengar langsung ke telinganya melalui earphones yang sejak tadi ia kenakan namun ternyata tak berfungsi karena belum tersambung. Gadis itu akhirnya sadar, sejak tadi ia mendengarkan musik bukan melalui earphones, melainkan melalui speaker. Ia langsung menyentuh icon pause pada layar hp dengan wajah yang berangsur merona merah. Luna menatap Noah di sebelahnya sambil bertanya dengan setengah berbisik, “Sejak kapan?” Noah hanya mengangkat bahu sambil mengerucutkan bibirnya sebagai jawaban. “Kakak suka K-POP?” Ia memutuskan untuk membahas selera musik Luna yang sejak tadi terdengar ke mana-mana. “Nggak semua K-POP, aku cuma suka lagu-lagu Suju,” jawab Luna sambil berusaha menyembunyikan wajahnya. Sebenarnya saat ini ia sedang merasa malu sekali, dan ia tak mau Noah membuat situasi ini jadi semakin memalukan dengan menghakimi selera musiknya. Itu sebabnya Luna mempercepat langkah dan bermaksud untuk berjalan di depan Noah, menuju ke aula basket. Tapi Noah dengan mudah menyamakan langkah di sampingnya. “Suju?” tanyanya kemudian. Noah tak begitu peka, ia mengira Luna tak akan keberatan sedikit mengobrol dengannya, toh mereka sedang menuju ke tempat yang sama. “Iya, Super J.u.n.i.o.r,” sahut Luna tanpa menatapnya. “Oh … boyband?” “Iya. Lagu-lagu mereka banyak yang bagus.” “Tapi bukannya lagu K-POP itu rata-rata sama aja, ya?” Noah mengerling Luna di sebelahnya, dalam hati ia bertanya-tanya kenapa Luna melangkah begitu tergesa-gesa. Padahal mereka masih punya banyak waktu sebelum latihan sore dimulai. Lagipula Luna tampak kepayahan, napasnya agak terengah-engah karena berjalan cepat seperti itu; meskipun Noah masih melangkah seperti biasa karena memang kakinya lebih panjang. “Nggak lah,” tukas Luna dengan napas yang mulai tersengal. “Coba cek lagu-lagu mereka, kamu pasti suka.” Noah kemudian mengeluarkan hp dari kantong celananya dan mencoba browsing. Luna akhirnya memperlambat langkah karena melihat Noah yang berminat untuk mencari tahu tentang musik favoritnya. “Coba cari video musiknya,” saran Luna sambil mengerling layar hp Noah. Noah menurutinya, dan ketika ia menemukan boyband yang dimaksud Luna, ia mulai meng-klik beberapa video musik yang muncul. Setelah beberapa saat, alis Noah pun berkerut. “Kayaknya bukan tipe musikku,” komentarnya jujur. “Memangnya kamu dengarin yang mana?” Luna sedikit menjulurkan leher untuk melihat layar hp Noah, membuat posisi mereka semakin berdekatan hingga bagian atas kepala Luna berada tepat di bawah hidung Noah dan membuat aroma sampo senior itu tercium jelas. “Oh … beberapa lagu populer mereka memang bukan seleraku juga sih. Biasanya lagu yang dipromosiin Suju memang sengaja dibuat untuk ngikutin selera pasar. Padahal Side-B mereka yang nggak terlalu dikenal, malah jauh lebih bagus … nih, coba yang ini.” Luna menyentuh icon play pada salah satu lagu di playlist-nya, lalu melepas satu earphone untuk disematkan ke telinga Noah. Noah harus agak membungkuk agar earphone yang tersemat di telinganya tak terlepas karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh. “Hm… ini vibe-nya beda,” gumam Noah setelah mendengarkan beberapa detik. “Dibandingkan musik heboh kayak tadi, aku lebih suka yang ini. Apa judulnya?” “Ticky Tocky,” jawab Luna cepat. “Sini agak dekat sedikit, biar kamu nggak capek bungkuk kayak gitu.” Luna menarik lengan Noah agar berjalan lebih dekat di sebelahnya, jadi mereka bisa menggunakan earphones yang sama sambil berjalan lebih santai. “Coba yang ini, ‘Closer’. Ini favoritku,” ujar Luna sambil lalu mengganti lagu yang sedang mereka dengarkan. Sebuah lagu lain pun terdengar mengalun di sebelah telinga Noah. Dengan sendirinya, kepala Noah bergerak menggangguk-angguk mengikuti irama dan hentakan musik. “Ini juga bagus. Aku kira tipe musik K-POP itu ya … yang heboh kayak yang pertama tadi,” celetuk Noah lagi. “Oh … yang kedengaran kemana-mana tadi itu judulnya ‘Super Duper’, kadang aku memang suka dengarin yang begitu kalau lagi mau bakar semangat.” Luna tertawa pelan di akhir kalimatnya. “Kenapa vibe musik boyband ini selalu beda-beda? Mereka nggak punya genre tetap?” “Genre Suju memang selalu berubah-ubah, sih. Makanya sulit menilai mereka kalau cuma mendengarkan satu atau dua lagu aja. Tapi herannya, genre apapun yang mereka coba, hasilnya ya cocok aja. Kamu harus dengar lagunya yang ‘Sorry-Sorry Answer’, ‘Mystery’, ‘Lo Siento’ ….” Luna terdengar mulai banyak bicara dan semakin bersemangat menerangkan tentang artis favoritnya. Tapi Noah meringis di sebelahnya. Ia menggaruk lehernya yang tak gatal sambil lalu mengeluh, “Pelan-pelan, Kak.” “Eh? Aku jadi terlalu bersemangat, ya? Sorry ….” Kali ini giliran Luna yang meringis. Noah hanya tertawa pelan menanggapinya. “Nanti aku coba cek satu-satu, judul yang Kakak sebutin tadi,” ujar Noah. “Jadi Kakak ngidol juga nih?” “Maksudnya?” “Ya … kayak … koleksi barang-barang, nonton konser, ngejar-ngejar artis, nungguin di bandara dan sebagainya itu.” “Nggak sih, aku cuma suka musiknya. Aku belum pernah nonton konser atau beli barang-barang kayak photocard dan sebagainya itu. Sejauh ini cuma beli beberapa album aja,” terang Luna. “Sebatas menikmati karya mereka aja, tapi nggak melibatkan diri ke dalam fandom. Cuma, ya … sebenarnya pengen juga sih nonton konsernya. Kayaknya seru aja.” Wajah Luna kembali merona ketika ia menambahkan kalimatnya. Sebuah senyum juga ikut muncul di wajah Noah. Hanya dengan mengobrol sejenak seperti ini, kesan pertama yang Noah dapatkan tentang Luna pun langsung berubah. "Ternyata dia nggak judes-judes amat,” pikir Noah dalam hati. “Boleh dong kapan-kapan aku pinjam album mereka yang Kakak punya,” tutur Noah lagi. Mata Luna mendadak jadi melebar dan berbinar, bibirnya merenggang seolah ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Serius nih?” tanyanya kemudian. Noah mengangguk polos. “Pinjamin aku album yang kira-kira musiknya paling cocok sama seleraku,” katanya lagi. “Ok, besok aku bawa album mereka yang terbaru. ‘The Renaissance’ … eh … tapi ‘Timeless’ dan ‘Replay’ juga bagus sih.” Luna tampak menimbang-nimbang, kira-kira album mana yang akan meninggalkan kesan terbaik di telinga Noah. “Kalau tiga-tiganya nggak boleh?” “Boleh dong!” sahut Luna dengan semangat menggebu-gebu, sampai Noah dibuat agak terperanjat dengan luapan antusiasmenya itu. “Boleh banget,” tambah Luna lagi. Saat ini, ia terlihat seperti anak kecil yang baru saja menemukan teman sepermainan, setelah lama ditinggal main sendirian. Sebenarnya Noah cukup menikmati obrolan ini, namun berjalan bersama senior sambil berbagi earphones, sepertinya cukup menarik perhatian. Noah menyadari beberapa pasang mata yang memandangi mereka sepanjang perjalanan santai menuju ke aula basket. Mungkin karena Luna bukanlah senior biasa. Dia cukup terkenal, terutama di kalangan anak-anak klub olahraga. Soalnya pada Class Meeting tahun lalu, ia mendapatkan penghargaan kontes Miss Cendana; kategori best in activewear. Padahal waktu itu dia masih kelas 10, tapi dia sudah mengalahkan para senior lain dari kelas 11 dan 12, yang sebenarnya juga tak kalah menariknya. Itu sebabnya Noah melepas earphone dari telinganya dan menyerahkan benda itu kembali kepada Luna. Hampir di saat yang bersamaan, mereka melalui jalan setapak tepat di samping lapangan tenis yang dikeliling jaring pengaman perimeter. Saat itu Noah dan Luna menemukan sekelompok orang dengan seragam olahraga yang berbeda dengan seragam Cendana. sedang berbicara serius dengan salah seorang anggota klub tenis. “Sorry, pegangin dulu.” Luna menyerahkan earphones beserta hp miliknya sekaligus ke tangan Noah, sebelum kemudian buru-buru menghampiri sekelompok orang itu. Noah pun menyusul mengikuti Luna dengan langkah yang ogah-ogahan. Hanya beberapa saat kemudian. Luna agak berteriak dari tempatnya berdiri agar Noah bisa mendengarnya. “Noah, aku antar mereka ke aula, ya. Kamu mau bareng?” Noah mengangguk sambil mempercepat langkahnya untuk menyusul mereka. Saat Noah semakin mendekat, tulisan di bagian samping celana training hijau-putih yang dikenakan sekelompok siswa itu pun kini bisa terbaca dengan jelas; SMA Soetomo. Pada bagian punggung jaket putih dengan liris hijau di lengannya itu, tertulis jelas; “SOETOMO”, disertai tulisan Basketball Team dengan font yang lebih kecil di bawahnya. Ternyata, tim yang akan melakukan latih tanding dengan klub basket Cendana itu, sudah sekitar 15 menit berkeliling area sekolah untuk mencari ruangan klub basket. Mereka tak menemukan siapapun untuk bertanya, sampai akhirnya mereka tiba di lapangan tenis dan untungnya sudah ada anggota klub tenis di lapangan itu. Luna berjalan di bagian depan rombongan dan mengobrol dengan Kapten tim, sambil sesekali terdengar meminta maaf karena tak menjemput mereka di gerbang depan. “Oh … nggak apa-apa. Kami juga yang salah karena nggak bertanya lebih dulu. Kami nggak nyangka area SMA Cendana seluas ini,” balas sang Kapten bernama Ilyas itu. “Sebenarnya kalau senior kelas 12 hari ini ikut, mungkin kami nggak akan kesasar kayak gini. Soalnya mereka kan udah beberapa kali latih tanding ke Cendana, sementara kebanyakan kami yang datang hari ini cuma anak-anak baru.” “Oh … jadi tahun ini semua anggota kelas 12 mundur?” tanya Luna untuk memperjelas dugaannya, “dan tim inti kalian cuma diisi anak kelas 11 dan 10?” “Iya … mau gimana lagi, para senior mau fokus ke ujian kelulusan,” sahut Ilyas. Noah yang berjalan di bagian belakang rombongan, memutuskan untuk tak lagi mendengarkan obrolan Luna dan Ilyas. Perhatiannya teralihkan pada seseorang yang berada di antara para pemain Soetomo. Wajah itu tidak asing. Itu Abimana, teman satu angkatan Noah waktu di SMP dulu, tidak, mereka bahkan sudah berteman saat di Sekolah Dasar. Abi – nama kecil yang biasa digunakan Noah untuk memanggilnya – juga merupakan anggota tim basket di SMP Pelita. Waktu kelas 7, mereka adalah teman sekelas yang sangat akrab, itu juga yang membuat mereka memutuskan untuk bersama-sama masuk ke tim basket sekolah. Tapi, Noah “bergerak maju” terlalu cepat. Ia langsung tampil mencolok dan mendapatkan banyak perhatian, membuat Abi mulai minder berada didekatnya. Meski Noah sama sekali tak pernah menjauhi Abi, dengan sendirinya hubungan persahabatan mereka merenggang. Setahun setelah bergabung dalam tim basket SMP Pelita, Abi memutuskan untuk keluar. Padahal dia bahkan belum pernah dimainkan sama sekali. Tak satu pertandingan pun ... pelatih belum pernah memanggil namanya untuk ikut bertanding melawan tim dari sekolah lain. Padahal selama setahun mereka bergabung di tim basket SMP Pelita, selain Noah, ada dua orang lagi anak kelas 7 yang berhasil masuk sebagai pemain reguler, walaupun hanya sebagai cadangan. Tapi Abi tidak, ia sangat jauh tertinggal, bahkan sebagai pemain cadangan pun ia tidak dipilih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN