“Apa kamu pernah mikir untuk lompat dari atap gedung yang tinggi?”
Tiba-tiba saja Noah meluncurkan pertanyaan itu. Tentu saja Igris yang tak paham konteksnya hanya bisa merespon dengan kening yang berkerut bingung.
“Pernah mikir gitu, nggak?” cecar Noah lagi.
Igris menggeleng, masih dengan wajah bingung. “Nggak pernah. Kamu?” Igris memutuskan untuk balik bertanya.
Dalam hati Noah bersyukur kalau Igris masih memiliki mental yang kuat dan sama sekali tak pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Itu sebabnya Noah sudah merasa puas dengan jawaban Igris dan tak begitu memikirkan pertanyaan balik darinya.
Noah pun kembali berbaring dan menarik selimut menutupi tubuhnya, tanpa mengatakan apapun lagi, ia bergerak tidur menyamping dan membelakangi Igris.
Igris yang ditinggalkan tanpa penjelasan, membuat pikirannya mengembara liar hingga sampai ke satu kesimpulan, yaitu: Noah memiliki kecenderungan suicidal-thought[1].
.
“Hari ini tanding, kan? Biar aku nanti yang temani Rihan pas jam istirahat dan pas mau ke klub sorenya, mumpung lagi senggang juga.”
Begitu bunyi pesan yang dikirimkan Said kepada Noah pagi ini, saat tim Cendana sedang dalam perjalanan menuju ke venue Liga Rookie.
Hari ini adalah pertandingan untuk babak 16 besar dan Noah sedang bertukar pesan teks dengan Said sambil duduk di kursi pojok paling belakang bus.
Sejak bangun tidur pagi tadi, entah kenapa Igris selalu melempar tatapan yang agak berbeda kepada Noah. Ia terkesan sangat prihatin sambil menahan diri untuk tak mengatakan sesuatu.
Saat berkumpul di halaman sekolah – sebelum berangkat – tadi juga sepertinya ia mengatakan sesuatu kepada Heru dan Steven. Namun anehnya, kedua orang itu juga memberi tatapan mata yang sama dengan Igris, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ketika tanpa sengaja bertemu mata dengan Noah.
Aneh, tapi tentu saja Noah tak mau ambil pusing. Sampai tiba-tiba Zikri berpindah tempat duduk ke sebelah Noah sambil lalu memegang tangannya.
Noah yang masih belum sempat mencerna situasi, dengan bingung menatap bergantian wajah Zikri dan tangan mereka yang saling bertaut itu. Alisnya berkerut heran sebelum kemudian ia menarik lepas tangannya.
“Noah, janji ya …,” kata Zikri kemudian, dengan mata yang berkaca-kaca.
“Janji apa?” Noah beringsut merapat ke jendela bus untuk menjaga jarak dari Zikri.
“Janji kalau ada apa-apa kamu harus cerita sama aku,” sambung Zikri lagi, “atau sama Bayu dan teman-teman yang lain, yang kamu rasa akrab dan nyaman untuk diajak ngomong.”
Ujung bibir Noah sedikit terangkat dan kerutan di keningnya semakin menjadi, saking bingungnya ia dengan keadaan ini.
“Maksudnya?”
“Pokoknya kamu harus ingat, kamu masih punya aku yang bakal dengarin semua keluh kesahmu,” imbuh Zikri. “Ada Said, Bayu, Hamid, Muklis dan David juga. Kamu punya banyak orang yang peduli kok sama kamu.”
Noah dibuat jadi semakin terheran-heran dengan rentetan kalimat yang tak biasa dari Zikri. Lalu saat mata Noah bergerak ke sudut lain, ia menemukan Bayu – yang hari ini juga ikut dalam rombongan Cendana – sedang memberikan tatapan prihatin yang sama dari kursi di depannya.
“O-okay …,” balas Noah akhirnya, meski masih belum mengerti apa yang mendasari ucapan temannya itu. “Thanks,” tambah Noah lagi.
.
Dua pemain Bima Sakti tampak berada di venue Liga Rookie, tepatnya di depan pintu masuk penonton. Tapi mereka bukan peserta pertandingan; karena SMA Bima Sakti berasal dari provinsi yang berbeda.
Sehari yang lalu, Bima Sakti baru saja keluar sebagai juara di Liga Rookie regionalnya. Mereka sudah dipastikan akan ikut berpartisipasi di Kejurnas.
Kemungkinan hari ini mereka datang ke pertandingan sekadar untuk menonton, atau bisa jadi mereka sedang ditugaskan untuk memata-matai tim yang akan maju ke Kejurnas dan menjadi lawan mereka nantinya.
"Kalian dari SMA Bima Sakti, kan?" Seorang wartawan yang standby di area itu berhasil mengenali mereka karena satu dari dua orang itu mengenakan seragam training tim sekolahnya.
"Wah ... kita terkenal, Kapten!" seru seorang siswa SMA yang mengenakan seragam tracksuit bertuliskan Bima Sakti di punggungnya. "Nggak sia-sia kita naik kereta jauh-jauh sampai sini. Ternyata kita dikenal sampai provinsi tetangga."
"Gara-gara kamu datang pakai seragam," sahut siswa yang dipanggil Kapten tadi. "Maaf, permisi, hari ini kami cuma penonton," tambahnya kemudian untuk menghindari wartawan itu.
"Apa hari ini kalian datang untuk melihat penampilan Cendana?" Sang wartawan tak menyerah dan tetap melempar pertanyaan meski dua siswa Bima Sakti itu sudah memunggunginya.
“Cendana?” Siswa yang berseragam training pun langsung berbalik dan menyambar voice recorder yang disodorkan si wartawan. “Mereka itu cuma tim kelas menengah, beda level lah sama Bima Sakti,” sambungnya sambil lalu mendengus meremehkan.
“Samir!” hardik kapten tim Bima Sakti, bersamaan dengan sebuah tepukan yang mendarat cukup keras di tengkuk siswa yang ternyata bernama Samir itu.
“Auuh … sakit Kak Gian.” Samir meringis sambil mengusap-usap belakang lehernya.
“Siapa yang suruh kamu kasi komentar, ha? Sana cepat masuk!” perintah Gian, sang kapten.
Meski dengan wajah manyun dan dengan tengkuk yang merah, Samir tetap menuruti seniornya dan berlalu pergi memasuki gedung GOR lebih dulu.
“Maaf, ucapannya tidak mewakili Bima Sakti.” Gian membuat klarifikasi kepada wartawan yang baru saja mendapatkan scope berita untuk dijadikan bahan julid netizen itu.
“Di dalam kompetisi olahraga, tidak ada yang namanya kemenangan pasti, kelas dan level tim itu berubah-ubah. Itu sebabnya kami tak pernah menganggap enteng semua tim yang bertanding melawan kami,” sambung Gian lagi. “Tapi ... meskipun kami berharap semua tim bisa bermain dengan baik, tentu saja kami nggak akan pernah membiarkan mereka bermain lebih baik dari kami.”
Kata-kata Gian memang terdengar bijaksana dan menghargai lawan, tapi sesungguhnya ia sedang menyatakan bahwa Bima Sakti akan selalu menjadi tim yang terbaik.
Hanya beberapa saat setelah Gian menyudahi kalimatnya, bus berwarna biru milik tim Cendana memasuki area parkir venue dan mengalihakan perhatian nyaris semua orang yang ada di situ.
“Saya permisi dulu …,” pamit Gian sambil memberi anggukan sopan dan berlalu.
.
Noah tak tahu kenapa sejak turun dari bus tadi, Bayu dan Zikri selalu berada di sisi kiri kanannya dan mengajaknya ngobrol. Sepanjang perjalanan menuju ke pintu masuk GOR, mereka tak henti-hentinya bicara bergantian dari kedua sisi Noah.
Jika Noah tak memberi tanggapan, mereka akan mengobrol satu sama lain dengan Noah berada di tengahnya. Saat berpapasan dengan tim sekolah lain yang terlihat seperti sedang berbisik sambil menatap ke arah Noah, Zikri dan Bayu pun semakin mengencangkan suara mereka, seolah tak ingin Noah mendengar ucapan-ucapan orang di sekitarnya.
“Kalian ini sebenarnya ngapain sih?” tanya Noah akhirnya, ketika tim Cendana sudah memasuki ruang ganti pemain.
“Orang kalau ngomong tuh kadang emang nggak lewat otak, makanya kamu nggak perlu dengarin perkataan orang,” balas Zikri kemudian.
“Iya, kamu nggak perlu mikirin apa yang dikatakan orang,” timpal Bayu lagi.
Bibir Noah merenggang dan lagi-lagi alisnya berkerut bingung. Di saat yang bersamaan mata Noah bertemu dengan Igris yang langsung tersenyum dan mengacungkan jempol kepadanya.
“Ada yang nggak beres nih,” pikir Noah dalam hati.
.
Pertandingan kali ini Coach Adam berencana untuk tidak memulainya dengan Starting Lineup Cendana, melainkan memasukkan Noah, Igris, dan tiga pemain kelas 11 di babak pertama.
“Main santai aja,” instruksi dari Coach Adam singkat dan tanpa tekanan.
Noah dan yang lainnya pun memasuki lapangan dan mulai menempatkan diri di posisi mereka masing-masing sebelum jump ball[2] dilakukan. Di saat itulah seorang pemain Dharmawangsa bernomor punggung 9 yang kebetulan berjalan di belakang Igris, sengaja menginjak bagian belakang sepatunya hingga sepatu Igris terlepas saat ia melangkah.
Pemain nomor 9 itu menganggapnya sebagai lelucon, bahkan rekan di sebelahnya membuat gerakan menutup hidung seolah sepatu Igris yang tertinggal di lapangan itu mengeluarkan bau tak sedap.
Beberapa penonton juga ikut tertawa, tapi Igris hanya tampak cengengesan sambil buru-buru mengambil sepatunya dan memakainya kembali. Jump ball juga harus ditunda beberapa saat untuk menunggu Igris memakai sepatunya.
Noah tahu pemain nomor 9 itu melakukannya dengan sengaja, karena setelahnya ia mengirimkan tatapan bangga kepada salah seorang rekannya yang juga tampak sangat ingin mengacungkan jempol untuk memuji perbuatannya barusan.
Sepatu Igris memang kelihatan lusuh, jauh jika dibandingkan dengan sepatu-sepatu pemain lainnya yang ada di lapangan saat ini. Sejak awal mengenal Dharmawangsa, Noah sudah bisa menebak cara berpikir mereka. Semua yang menempel di badan mereka adalah barang-barang bermerek yang luxury, itu sebabnya mereka juga cenderung menilai seseorang hanya berdasarkan nilai materi yang dikenakan orang tersebut.
Evan yang berhadapan dengan pemain lawan untuk merebut jump ball, berhasil memukul bola ke arah Dirga yang langsung dihadang oleh pemain Dharmawangsa. Dirga tak mau terlalu lama memegang bola dan langsung mengoper bola ke belakang punggungnya, dimana Igris sudah siap menerima operan bola itu sambil berlari menuju arah pertahanan lawan.
Ia melakukan penetrasi ke bawah ring dan sudah ada dua defender Dharmawangsa yang siap menggagalkannya. Tapi ternyata itu hanya sebuah pancingan, Igris tak bermaksud menembak, ia hanya memancing lawan untuk menghalanginya sehingga satu pemain Cendana akan berdiri bebas.
Igris mengoper bola ke belakang, melalui bawah lengannya, dan operan itu berhasil ditangkap Ello di luar garis 3 poin. Sebelum lawan sempat menghadangnya, Ello sudah meluncurkan tembakan dan bola berhasil masuk dengan mulus.
Tiga angka pertama untuk Cendana.
Ello melakukan fist bump[3] dengan Igris saat berlari meninggalkan area lawan untuk melakukan defense.
Ini masih permulaan, lawan belum terlihat panik, dengan santai pemain nomor 4 Dharmawangsa membawa bola sambil membiarkan rekan-rekannya mengambil posisi.
Mereka kira ini akan mudah, tapi lima pemain Cendana sudah siap di posisi bertahan. Pemain Dharmawangsa mulai mengoper bola kesana kemari untuk membingungkan pertahanan Cendana. Lima belas detik berlalu namun mereka masih belum menemukan celah untuk menyerang.
Dharmawangsa tak berani mengambil risiko untuk menembak dari luar, tapi juga tak mampu melakukan penetrasi dan menembus zona defense Cendana.
Dirga berhasil memukul bola yang sedang di-dribble oleh pemain lawan, sayangnya bola lepas itu dikuasi kembali oleh Dharmawangsa. Mengingat waktu mereka yang semakin singkat, Dharmawangsa memaksakan diri untuk menyerang sebelum 24 detik berakhir.
Tembakan 3 poin dilepaskan tepat di hadapan Ello yang juga ikut melompat dalam usahanya menghalangi atau sekadar mengganggu konsentrasi si penembak. Usaha Ello cukup berhasil karena tembakan 3 poin itu gagal.
Bola yang memantul di bibir ring berhasil direbut oleh Evan, ia menahan bola sesaat untuk membiarkan rekan-rekan Cendana-nya berlari meninggalkan area pertahanan dan memulai p*********n.
Evan lalu mengirim bola kepada Igris yang hanya membawa bola sejauh tiga langkah karena ia melihat Dirga dan Noah sudah berada di depan sementara para pemain Dharmawangsa masih belum sempat mengambil posisi bertahan.
Sebuah long pass dikirimkan kepada Dirga yang harus sedikit melompat untuk menangkapnya, semua terjadi begitu cepat, ia dan Noah sama sekali tak mengurangi kecepatan saat mereka berlari menuju ring lawan.
Dirga melambungkan bola tepat di depan ring, disambut dengan Noah yang langsung melompat dan menangkap bola di depan ring itu, lalu saat masih berada di udara, dengan kedua tangannya ia menghujamkan bola ke dalam ring hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Tangan Noah masih sempat bergelayut di bibir ring sebelum kemudian melompat turun disambut dengan gemuruh tepuk tangan penonton. Sementara Dirga yang kesulitan menghentikan larinya setelah melambungkan bola tadi, tampak kembali dari belakang ring sambil menawarkan telapak tangannya untuk menerima tos dari Noah.
Dirga mulai merasa bahwa bermain bersama Noah sangat menyenangkan, karena ia bisa memposisikan bola di mana saja di dekat ring dan Noah akan menyelesaikannya dengan penampilan yang spektakuler.
Poin kedua yang dihasilkan Cendana bukanlah poin yang biasa, Cendana sudah menunjukkan permainan yang keras di menit awal pertandingan, sebuah alley oop yang langsung diakhiri dengan slam dunk.
Itu berarti Dharmawangsa harus segera menemukan cara untuk mengimbangi permainan Cendana. Karena jika tidak, sisa waktu pertandingan ini akan menjadi neraka bagi Dharmawangsa.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Suicidal thought adalah pikiran atau perasaan untuk melakukan bunuh diri.
[2] Jump ball merupakan gerakan melemparkan bola ke atas yang dilakukan wasit di depan kedua pemain yang berlawanan. Biasanya dilakukan di awal permainan.
[3] Fist Bump atau tos dalam kondisi tangan terkepal.