"Noah!" Dirga memanggil namanya agar kembali fokus pada serangan lawan.
Pemain Amal Bakti bernomor punggung 18 baru saja melompat di belakang Noah untuk memasukkan bola dan mendapatkan 2 pts.
Noah terlambat bereaksi, serangan lawan berhasil menambahkan dua angka ke skor Amal Bakti.
“Don’t mind,” ujar Igris ketika melintas di hadapan Noah sebelum kemudian mengutip bola di luar lapangan.
“Noah, fokus!” Dirga setengah membentak, “kamu ini kenapa? Nggak enak badan?”
“Sorry, Kak,” balas Noah sambil ikut berlari di belakang Dirga. Mata Noah menangkap ekspresi Dewa yang sedang melipat tangan di depan dadanya dan berdiri tak jauh di belakang Coach Adam.
“Berani-beraninya kamu melamun di lapangan saat sedang bertanding?! Cari mati, hah?!”
Kira-kira itulah yang ingin dikatakan Dewa, entah kenapa Noah bisa memahaminya seolah Dewa mengirimkan sinyal telepati ancaman itu langsung ke otak Noah.
Giliran Cendana menyerang.
Noah mendapatkan kiriman bola dari belakang, tapi ia hanya menggiring bola beberapa langkah ke depan dan langsung mengoper bola kepada Ello yang sudah siap di luar garis 3 poin.
Tembakan pun dilakukan di hadapan seorang pemain Amal Bakti yang juga ikut melompat dengan Ello, akibatnya arah bola sedikit melenceng dan tembakan 3 poin itu gagal.
Evan mendapatkan rebound dan langsung mengirim bola keluar karena ada banyak pemain Amal Bakti di area low post, jadi tak mungkin Evan memaksakan untuk menembak sendiri.
Posisi Noah dan Igris cukup bebas, tapi Evan memilih untuk mengoper bola kepada Igris di dekat garis free throw. Igris mendapatkan bola, mengecoh lawan dengan melakukan dribble sekali sambil mengambil selangkah mundur ke belakang hingga ia berada di luar garis 3 poin, lalu melakukan jump shoot saat lawan sudah terlambat menghalangi.
Blush!
Tiga angka berhasil ditambahkan untuk Cendana.
“Nice three!” Dirga menepuk punggung Igris ketika mereka berlari bersama untuk kembali melakukan defense.
Evan juga mengucek rambut Igris mengisyaratkan rasa puas dan bangga. Senyum di wajah Igris semakin melebar ketika ia menerima acungan jempol dari Ello. Entah kenapa, sesaat setelahnya Igris menatap Noah, seolah mengharapkan reaksi yang sama.
Tapi tentu saja Noah tak peduli, ia membuang muka sambil lalu mengambil posisi defense untuk menghadapi Amal Bakti yang sedang giliran menyerang.
“Si Noah itu kayaknya emang overrated sih.”
Vito mendengar beberapa penonton dari SMA lain sedang bertukar opini satu sama lain. Mereka duduk tak jauh di belakangnya, itu sebabnya ia bisa mendengar obrolan mereka cukup jelas.
“Dari tadi kelihatannya dia nggak banyak berkontribusi. Nggak aktif menyerang, defense juga malas-malasan. Pemain bintang apaan?”
“Orang kalau udah terlalu banyak makan pujian ya begitu.”
Lalu mereka tertawa di ujung kalimatnya.
Vito menghela napas dan memutuskan untuk kembali memfokuskan perhatian ke lapangan pertandingan.
“Noah … lakukan sesuatu dan tutup mulut para haters-mu ini,” batin Vito agak jengkel.
Seperti sebelum-sebelumnya, kalau Amal Bakti menyerang, mereka akan memanfaatkan waktu 24 detik semaksimal mungkin. Passing bola ke sana kemari sampai menemukan celah. Jika hingga 5 detik terakhir mereka masih belum mendapat celah untuk menyerang, maka mereka akan memaksa, baik penetrasi ke dalam maupun serangan dari luar.
Sebenarnya taktik seperti itu cukup baik, karena biasanya penjagaan lawan akan sedikit melonggar di ujung waktu 24 detik yang diberikan. Hal itu akan membuat serangan mereka lebih memungkinkan untuk berhasil. Ya, itu adalah taktik yang baik, tapi hanya jika mereka bisa mencegah Cendana menambah angka.
Seorang pemain Amal Bakti bernomor punggung 18 kembali mencoba melakukan penetrasi di antara penjagaan Noah dan Evan. Kedua pemain Cendana berbadan tinggi itu pun ikut melompat ketika pemain No. 18 Amal Bakti bermaksud untuk menambah angka dengan tembakan hook.
Tubuh Noah dan Evan saling bertabrakan, tapi karena lompatan Noah lebih tinggi, ia masih berada di udara ketika Evan sudah mulai turun. Tangan Noah berhasil memukul bola yang mengarah pada ring, hingga bola pun terpental ke luar lapangan.
Wasit meniup peluit, mengklaim bahwa Noah telah melakukan pelanggaran goaltending[1].
“Ha?! Bolanya belum turun! Masih datar!” Dirga mencoba protes dan menjelaskan kepada wasit.
Tapi berbanding terbalik dengan Dirga yang kesal, Noah tampak pasrah dengan keputusan wasit.
“Noah, kamu pukul bola waktu bola masih naik, kan?” Dirga meminta Noah mempertahankan pendirian bahwa ia tidak melakukan pelanggaran.
Tapi Noah sendiri tak begitu yakin. Ia hanya mengangkat bahu sekilas. “Kalau wasit merasa itu goaltending ya udah sih, mau bilang apa?” katanya pelan.
“Dirga!” Coach Adam memanggil dari pinggir lapangan, mengisyaratkan agar Dirga berhenti melakukan protes dan melanjutkan permainan.
Beberapa penonton di tribun terdengar bersorak “booo …!” sambil menurunkan jempolnya ke arah Noah. Tapi Noah tak punya waktu untuk memikirkan itu. Lagipula ia tak begitu khawatir dengan sorakan penonton.
Hanya saja ... Hari ini Raka datang untuk menontonnya, ia tak ingin meninggalkan kesan yang buruk. Jadi, sepertinya Noah harus sedikit pamer untuk memperbaiki image-nya di hadapan Raka.
Noah belum sempat sampai ke area pertahanan, tapi Igris sudah berhasil merebut bola dan membuat turnover. Igris mengirimkan passing panjang kepada Noah yang tanpa penjagaan.
Saat menerima bola, Noah langsung putar arah dan berlari ke area lawan yang masih kosong. Tak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan yang memberikannya kebebasan untuk memasukkan bola sekeren mungkin.
Noah melompat di dekat garis free throw, dan saat masih berada di udara ia mengoper bola dari tangan kiri ke kanan di antara kedua kakinya, lalu …
Zrank!
Suara bola yang dihujam melewati ring basket terdengar begitu keras hingga rasanya wajar jika orang bertanya-tanya apakah ring basket itu baik-baik saja.
Suasana hall mendadak hening hingga wasit meniupkan peluit dan mengisyaratkan permintaan time out dari Amal Bakti.
Sebuah dunk yang luar biasa powerfull di hari pertama Liga Rookie. Itu bahkan bukan dunk biasa yang hanya menyentuh sedikit bibir ring. Itu adalah aksi yang umumnya hanya bisa ditonton di kontes Slam Dunk level NBA. Siapa yang menyangka?
“Tiga digit bisa?” tantang Coach Adam lagi kepada lima pemain lapis keduanya itu.
“Bisa,” sahut Noah sambil lalu meneguk minumannya. Dirga dan yang lainnya pun dibuat terperangah dengan jawaban santai Noah itu.
“Yakin?” tanya Ello lagi pada adik kelasnya itu.
“Aku minta maaf tadi di tengah pertandingan agak hilang fokus,” ujar Noah kemudian, “tapi aku janji bakal all out di sisa waktu pertandingan buat bayar kelalaianku tadi.”
“Bagus!” seru Coach Adam sambil menepuk pundak Noah dan seorang lainnya yang kebetulan berada di dekatnya, Igris. Ia lalu memindahkan tangannya ke pundak Evan sembari memberi anggukan kepada Ello dan Dirga yang bediri agak di belakang.
“Jangan beri Amal Bakti kesempatan buat tambah angka lagi. Tunjukkan pada siapa saja yang berani meragukan tim kita, bahwa tahun ini pun Cendana masih tak terkalahkan di Liga Rookie.”
Wasit mengisyaratkan agar semua pemain kembali ke lapangan karena time out sudah habis. Noah yang berjalan di sebelah Igris menyempatkan diri untuk menyapanya.
“Nice pass,” katanya pelan, memuji Igris yang berhasil membuat turnover dan mengirimkan long pass kepada Noah hingga berakhir menjadi dunk tadi.
Igris nyaris tak percaya kalau Noah baru saja menyapa dan memujinya. “Sama-sama. Nice dunk,” balas Igris sambil tersenyum lebar.
Kurang lebih tiga menit sebelum kuarter keempat berakhir.
Skor saat ini adalah 87 – 19 untuk keunggulan Cendana.
Amal Bakti sedang menyerang, tapi upaya tembakan dua angka yang baru saja mereka lakukan gagal dan bola membentur papan. Tiga pemain di dekat ring sama-sama melompat, satu di antaranya adalah pemain Amal Bakti, sementara yang lainnya adalah Noah dan Evan.
Noah berhasil merebut bola. Melihat Ello sudah berlari lebih dulu di depan sana, ia langsung mengoper bola kepada seniornya itu.
Baru saja Noah ingin menyusul meninggalkan area lawan, sudut matanya menangkap pemain nomor 4 Amal Bakti sedang membungkuk sambil berusaha keras untuk bernapas.
“Hei, kamu nggak pa-pa?” tanya Noah sambil menepuk pelan punggung pemain yang sekujur tubuhnya sudah basah itu. “Masih ada sisa waktu, pertandingan belum selesai. Kamu masih bisa main?” tanya Noah lagi.
Pemain nomor 4 itu kemudian berdiri tegak sembari menghempas napas. Ia lalu mengangguk tanpa menatap Noah. “Thanks,” katanya sebelum akhirnya berlari untuk membantu timnya yang sedang bertahan.
“Si Noah barusan ngomong apa sama Kapten tim Amal Bakti?” tanya salah seorang penonton yang duduk tak jauh dari Raka.
“Kayaknya dia ngasih semangat gitu nggak sih?” sahut temannya.
“Ternyata anaknya lumayan perhatian juga, ya.”
Tapi, hanya berselang satu detik dari pujian yang diberikan penonton itu, kembali terdengar suara dunk keras dari lapangan pertandingan.
Igris baru saja mencoba lemparan tiga poin dari sudut lapangan, tapi ia gagal. Bola membentur ring dan memantul cukup keras. Tapi Noah yang berada di area low post langsung melompat dan menahan pantulan bola dengan telapak tangannya, ia masih berada di udara saat tangan yang menahan bola itu mengayun keras untuk menghujamkan bola kembali ke keranjang.
Sebuah Tomahawk[2]putback dunk yang membuat seluruh pemain Cendana di pinggir lapangan berdiri dengan reaksi yang beragam, mulai dari berteriak puas hingga mencengkram kepalanya sendiri karena tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikan.
Wasit kembali meniup peluit untuk time out yang diminta Amal Bakti, di antara gemuruh tepuk tangan disertai teriakan penonton yang tampak sangat terhibur di menit-menit terakhir sisa pertandingan.
“Noah! Itu barusan Tomahawk! Tomahawk dunk, kan!” tanya Yuda penuh semangat menyambut kedatangan Noah dan yang lainnya – saat mereka ke pinggir lapangan untuk memanfaatkan 60 detik waktu time out yang diminta Amal Bakti.
“Nggak, cuma putback dunk biasa,” sahut Noah sambil menyambar botol minuman dan handuk untuk mengelap keringatnya.
“Putback dunk biasa apanya?! Itu putback kamu kombinasiin sama tomahawk, tahu?!”
“Nggak ada maksud buat bikin kombinasi kok.”
“Lagian sejak kapan putback dunk di liga anak SMA dianggap biasa?” timpal Dewa dengan tampang masamnya yang biasa, tapi kali ini ada sedikit kesan takjub di matanya.
“Yuda, kamu sebaiknya berhenti ngapalin nama-nama dunk yang sering kamu lihat di NBA,” celetuk Juan sambil menyerahkan sebotol air mineral kepada Dirga yang baru saja kehabisan air minum, “percuma kamu hapal dunk model ini itu kalau kamu sendiri nggak bisa dunk.”
“Apa sih, Kak Juan … demen amat bikin orang minder,” balas Yuda dengan tampang cemberut. Tapi Juan langsung mengucek-ucek rambut Yuda sambil mengklarifikasi bahwa ia hanya bercanda.
Tak ada instruksi apa-apa dari Coach Adam, ia membiarkan anak-anak didiknya melakukan apa yang mereka mau saat Amal Bakti sedang berkutat untuk menemukan cara agar bisa menambah angka.
Coach Adam juga tak berniat menyuruh Noah berhenti pamer. Ia baru masuk di kuarter ketiga, jadi wajar kalau semangatnya masih belum padam dan staminanya masih kuat.
Entah dunk model apa lagi yang akan ditunjukkannya di sisa waktu pertandingan hari ini, apapun itu, yang pasti Noah tak pernah memperkirakannya. Ia bahkan tak begitu tahu perbedaan masing-masing nama dan jenis dunk yang ada. Karena pada dasarnya Noah hanya bergerak sesuai level yang ia anggap mampu, dan tentu saja dengan presentasi keberhasilan terbesar.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Goaltending adalah sebuah pelanggaran yang dilakukan saat pemain menghalangi bola ketika lintasan bola yang ditembakkan tersebut sedang dalam keadaan menurun menuju ring.
[2] Tomahawk Dunk, yaitu pemain akan melompat, menggerakkan bola di atas kepala. Lalu, membawanya dari belakang dan memasukkan bola ke dalam keranjang dengan kuat.