Dijodohkan

1689 Kata
Perempuan senja itu, meminta cucunya mendekat. "Ro ho son (Sini kamu)," Pernadi bangun dari duduknya, mendekat pada Neneknya. Rindu dan Pernadi duduk di atara sang Nenek. Tangan rapuh, berkulit kendur mengambil sisi wajah Pernadi. Memperhatikan cucunya dengan netranya yang sudah merabun. Saat di tatap begitu Pernadi menjadi bingung. Ia kemudian melihat kedua orang tuanya yang duduk di sebelah dinding. Gordon dan Rukaya juga saling tatap, mereka tidak mengerti maksud tatapan Ibunya pada putra mereka. "Nenek ingin kalian menikah," ujar sang Nenek, melihat kedua cucunya bergantian. Semua terdiam, mencerna apa yang perempuan senja katakan. Saling bertatap satu sama lain. "Nenek menitipkan dia untukmu, kau harus menikah dengannya. Kau harus menjaga Rindu." ucapnya lagi. Pernadi melihat Rindu yang duduk di sebelah Neneknya. Ia tersentak kaget, penampilan Rindu menyakiti matanya. Sepupunya ini tidak ada manis-manisnya. "Aku nggak mau, Nenek!" Tolak Pernadi setelah otaknya merespon baik permintaan Neneknya. Rindu juga menolak, ia menggeleng. Pasangan suami istri saling menatap. Ibu mereka entah dapat ide dari mana menjodohkan kedua cucunya. "Nenek, Rindu masih muda mana bisa menikah," ujar Rindu lembut. "Benar Nenek, Rindu masih sangat mudah. Lihat aja tubuhnya belum ada apa -apa disana." Sahut Pernadi cepat. Refleks Rindu melihat dirinya sendiri, tangan kecilnya meraba dadanya yang datar. Ia mengumpat dalam hati, pria ini beraninya mengejek tubuhnya. Pernadi menatap Rindu lalu menggeleng kecil. Apa-apaan ini? Ia tidak habis pikir, jika harus menikahi Rindu. Astaga, menikah dengan sepupu. Kalau cantik sih nggak apa-apa, Ini? Jelek, berjerawat padat. Wajahnya terbakar matahari. Rambut ikal lebat dan menguning. Kulit gadis ini juga kasar. Seperti kulit badak. Pernadi berdecak dari semua gadis yang ia kenal, hanya Rindu yang jeleknya keterlaluan. Pikiran Pernadi melayang, ia menggandeng Rindu ke tempat umum dan seketika mereka jadi sorotan, Viral. Yang satu di hujat dan satu lagi di sanjung. Netijen menyuruh mereka bercerai. "Arrrghhh ...." Teriak Pernadi, menutup ke dua telinganya. Semua orang menatapnya heran di ruangan itu. "Aku nggak bisa nikah sama dia, Nek. Gadis ini bau matahari!" Rindu spontan berdiri, melotot. Pria ini enak saja mengatainya bau matahari. "Abang! Hidungmu bermasalah, aku tidak bau matahari tapi ...," ucapannya menggantung, semua orang mendongak melihatnya. Rindu berkacak pinggang sementara jari telunjuk terarah pada Pernadi. Rindu menelan ludah kuat-kuat, bingung mau mengatakan apa. Pelan ia menarik telunjuknya. "Aku ... bau lumpur," lirihnya, menunduk malu. "Nah tuh, baunya makin parah, astaga." Sahut Pernadi pada Neneknya. Pasangan suami istri menahan senyum. "Itu karena dia belum merawat diri." Sang Nenek memukul bahu Pernadi pelan. "Nanti kalau dia sudah merawat diri, Rindu pasti sangat cantik. Lihat dia saat tersenyum, coba lihat, coba lihat.” Neneknya menggelitik Rindu hingga gadis itu tertawa dan menunjukkan gigi gingsul. “Lihat Pernadi cantik, kan?” Tanya Neneknya, menghentikan tangannya menggelitik Rindu. Pernadi tidak mau melihatnya, persetan dengan senyum gadis itu. Manis atau tidak ia tidak butuh. Pernadi memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak. Perempuan senja menatap Pernadi sedikit lama, menjadikan suasana di ruangan itu kembali hening lalu tatapan itu beralih pada Gordon, menantunya. Tatapan hangat berubah jadi sendu. "Keturunanku sampai di Haris saja." Ucapnya dengan nada serius. Perempuan senja hanya memiliki satu putra. Kini putranya sudah meninggal dan hanya memiliki seorang gadis remaja. Sebagai orang batak, putra adalah penerus keturunan dan kini keturunannya terputus di Haris saja. Ibu tua itu ingin keluarganya dipersatukan kembali melalui pernikahan kedua cucunya. "Sementara kau satu-satunya putra Ibumu. Putriku sudah tidak bisa mengandung. Selain usia tua, rahimnya memang hanya memilikimu. Keluarga kita miskin keturunan." Tambahnya dengan raut sedih. Mendengar itu air mata Rukaya menitik tanpa diminta. Ia sangat payah mendapatkan keturunan. Gordon Suparat merangkul bahu Rukaya, membawa dalam dekapannya. "Aku ingin menyatukan kalian dalam pernikahan. Cucuku, bantu Nenek menjaganya." ujar Sang Nenek melihat Pernadi. "Nenek, aku akan menjaga dan melindunginya tapi, tidak untuk menikahinya." Tolak Pernadi. Perempuan Senja menangis, ia melihat Rindu lalu beralih pada Pernadi. Berharap Pernadi mengabulkan keinginannya. Begitu juga dengan Pernadi ia menatap Neneknya penuh harap supaya Neneknya membatalkan rencana perjodohan konyol itu. "Katakan iya, cucuku." Ucap Neneknya, lembut penuh harap. Pernadi menggigit bibir bawah lalu melihat kedua orang tuanya. "Mama," lirih Pernadi minta bantuan. Rukaya dan Gordon saling tatap, lalu mereka melihat Rindu. Gadis yang duduk di samping Ibunya, menunduk. Rindu gadis baik, tidak ada salahnya jika mereka setuju, dan seperti yang di katakan Ibunya tadi, Ia ingin menyatukan kedua keluarga itu jadi satu. "Mama setuju, keinginan Nenekmu. Bagaimana denganmu, Pa?" tanya Rukaya pada suaminya. Gordon mengangguk, "Tidak masalah, Papa dan mendiang adik Ipar sudah berjanji akan menjaga Rindu. Mari kita satukan keluarga ini." ucap Gordon, melihat kearah Rindu. Bibir Pernadi melengkung sedikit ke atas, melihat ke arah Rindu dengan tatapan sombong. "Bagaimana?" tanya Sang Nenek sambil megusap wajah keriputnya yang basah air mata. Pria jangkung menarik nafas, putus asa. Ia akhirnya mengangguk. "Baiklah, Nek," Lirihnya. Neneknya langsung memeluk, mencium pipi cucunya. "Cucuku yang terbaik, kesayangan dan ganteng," ucap sang Nenek bahagia. Ia menatap lembut Pernadi. "Terima kasih, cucuku."ucapnya Tulus. “Iya Nek.” Pernadi melihat kedua orang tuanya yang tersenyum padanya. Mereka setuju perjodohan ini, mereka ingin Rindu menjadi menantu. Sementara Rindu mengulum bibir sendiri. Ia percaya, pilihan Neneknya adalah yang terbaik. Tiga hari kemudian … Bandara silangit "Jaga Nenek sampai kau lulus sekolah." Ucap Rukaya, mengambil ke dua sisi wajah ponakannya. Mereka kini di bandara Silangit dan akan kembali ke Jakarta. "Iya tante," "Telpon Tante, kalau aku lupa menelpon kalian. Kalau Rindu kesulitan masalah uang, minta sama tante. Jangan sungkan." ucap Rukaya, air matanya menitik melihat ponakannya itu. Rindu mengangguk, tangan kecilnya menyeka air mata Tantenya. "Tante mengandalkamu menjaga, Nenek. Kalau sudah lulus sekolah, Pernadi akan menjemput kalian kita langsungkan pernikahan di Jakarta.” Ucap Rukaya, memeluk Rindu. "Iya tante." "Kami pulang, ya." Rukaya mencium pipi Rindu. Gadis remaja itu mengangguk. "Om," sapa Rindu, melihat pria jangkung berkulit putih mengelus kepalanya lembut. "Jaga dirimu dan bantu Om menjaga Nenek, Oke." Ucap Gordon. Rindu mengangguk. Pria ini tidak banyak bicara, tetapi tampak sangat tegas. Kini giliran Pernadi yang berpamitan. Ia berdiri di hadapan gadis urakan. Menatap dengan tatapan mengejek penampilan Rindu. Dari atas hingga bawah, semua tidak menarik. Rindu menyengir kuda, memamerkan gigi gingsulnya. "Aih ... aku menyesal lahir ke dunia ini." bergumam diakhiri decakan, memikirkan menikah dengan Rindu membuat hatinya hancur. Pernadi melihat ke dua orang tuanya sudah masuk ke antrian cek- in, aman untuk merundung gadis ini. "Hai jelek, semoga kau tidak lulus ujian sekolah," Ucap Pernadi dengan sinis. Rindu melebarkan mata, pria ini beraninya mendoakan yang jelek mengenainya. "Supaya apa?" "Aku tidak ingin menikah denganmu." Menuding. "Meskipun nggak lulus sekolah, aku akan menikah dengan, Abang." meleletkan lidah. "Apa kau tidak sadar? Kau orang yang paling jelek yang hadir dalam hidupku. Bahkan dalam mimpi terburuk pun, aku belum pernah melihat gadis sejelek kamu." Mengibaskan rambut ikal lebat Rindu. “Aku tidak peduli," Rindu mencebik. "Kau sangat menyukaiku, ya?" Tanya Pernadi kesal. Rindu selalu menantangnya, gadis ini tidak pernah patuh. Kemarin bahkan Rindu mendorongnya ke kubangan kerbau saat Neneknya menyuruh mereka membawa kerbau ke sawah untuk cari makan sendiri. Jadilah Pernadi pulang seperti patung yang belum jadi dibentuk. Tidak ada yang menyalahkan Rindu untuk itu, bahkan mereka menertawai Pernadi dan menganggap pria kota ini bodoh. Rindu melipat bibir kedalam, mendongak melihat Pernadi kemudian bibirnya tersenyum lebar.. "Iya, aku sangat ... menyukaimu." Ucapnya lalu tertawa jenaka. Rindu langsung meninggalkan Pernadi. Pernadi sangat kesal mendengarnya, ia memantung, melihat Rindu berjalan santai meninggalkannya. Gadis di sana kemudian berbalik melihatnya. "Kita akan menikah Pariban (Sepupu)." Teriaknya, mengundang beberapa mata pengunjung padanya. Pernadi berbalik cepat. Menarik koper melangkah menjauh. Ia tidak ingin orang tahu kalau yang di maksud Rindu adalah dirinya. Demi apapun yang ada di dunia, gadis ini sangat memalukan. Rindu terbahak, menatap punggung Pernadi melangkah masuk ke dalam antrian Cek -in. Meski begitu, saat memikirkan penolakan Pernadi. Ia menjadi sedih. Rindu tahu, ia bahkan tidak pantas untuk pria berdarah thailand -batak itu. Tetapi keinginan sang nenek yang menjodohkan mereka tidak dapat ia tolak. .... Setibanya Rindu di rumah, ia melihat Neneknya duduk di teras rumah. Wajah perempuan senja itu masih di penuhi duka, dan kini rumahnya menjadi sepi putrinya sudah kembali ke Jakarta. Rindu mendekati. "Nenek," sapa Rindu, duduk di pembatas teras. "Bah, kau sudah pulang?" "Mmm, kebetulan motor (angkot) cepat penuh." Rindu melihat neneknya, melepas kaca mata dan meletakkan di pangkuannya. "Rindu, masalah paribanmu (sepupu), kau tidak keberatan menikah dengannya, kan?" "Pilihan nenek pasti yang terbaik, aku setuju menikah dengannya." Rindu memainkan rambut ikalnya. Menggulung di jari- jari sembari mengingat ucapan pria jangkung padanya saat mereka membawa Kerbau ke sawah. Sehari sebelumnya. "Oe, tarzan." Panggil Pernadi, Rindu melihat ke sekeliling. Tidak ada orang selain mereka berdua. "Wah nggak sadar dia," gerutu Pernadi saat Rindu seolah mengabaikan panggilannya. "Abang bicara sama siapa?" "Yakk, kau tidak sadar kalau rambutmu itu sangat mirip tarzan." Sahut Pernadi, kesal. “Terus ….?” Rindu menancapkan tambat kerbau ke tanah “Jadi kalau di panggil langsung nyaut ….” geram Pernadi yang berdiri di pematang sawah. “Calon suamiku kembaran Mark Prin ...., rambut yang mirip kayak tarzan ini ... yang bikin calon istrimu ini istimewa.” percaya diri. "Istimewa apaan? Kamu tahu nggak? Gara-gara kau jelek, nenek menjodohkan aku sama you."cecar Pernadi. "Aku primadona loh di desa ini." "Hah?!, Amboi ...." Pernadi menatap remeh, lalu mengedarkan tatapannya pada hamparan sawah bekas di panen. Sejak tadi ia sudah mendengar suara seseorang bernyanyi dan berteriak Dor! Dor! Dor! Tatapannya menangkap seorang pria setengah telanjang, rambut sebahu tak terurus. Seluruh tubuh menggelap terbakar matahari. Ia tersenyum melihat pria itu. “Dek, sini deh Abang mau bilang sesuatu sama kamu.” Rindu menyipitkan mata, merasa curiga sama pria itu. Pernadi menyelipkan kata Adik dan Abang dalam ucapannya. “Apa?” Rindu mendekati. Pernadi mengambil tangan Rindu lalu berbisik di telinganya. “Coba lihat pria itu, seharusnya nenek menjodohkanmu sama dia. Kalian sangat mirip.” Bisiknya, Rindu mengedarkan tatapannya mencari pria yang di maksud Pernadi. Pria tak waras bertelanjang d**a dan celana robek, rambut panjang, kaku dan kotor, membawa kayu yang dianggap senjata. Berlari-lari di pematang sawah lalu menembak. Dor! Dor! Dor! “Abang!!!” Hardik Rindu kesal. Pernadi terbahak puas melihat raut kesal Rindu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN