52

1638 Kata

Dialta terkekeh rendah, suara baritonnya bergema di area VVIP yang terisolasi dari hiruk-pikuk pengunjung lainnya. Ia meraih pinggang Sena, menarik tubuh ramping istrinya itu hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. "Kamu pikir mataku serendah itu sampai harus menyegarkan diri dengan pemandangan murah seperti tadi?" tanya Dialta sambil menaikkan satu alisnya. "Percuma dia pamer segalanya, kalau satu helai rambutmu saja sudah jauh lebih berharga di mataku." Sena mendengus, bibirnya mencebik tidak puas. "Halah, basi. Laki-laki kan emang gitu. Mulutnya bilang nggak lihat, tapi batinnya bilang 'Alhamdulillah rezeki anak sholeh'." "Sayang..." peringat Dialta, suaranya memberat, memberikan sinyal bahwa ia mulai gemas dengan kecemburuan absurd istrinya. "Apa? Bener kan? Udah dikasih belaha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN