Di balik tawa renyah Sena dan Callana yang sesekali terdengar dari ruang tengah, suasana di dalam ruang kerja Arsean justru terasa mencekam. Ruangan yang didominasi kayu jati gelap itu seolah menyerap seluruh oksigen, menyisakan ketegangan yang hanya bisa dirasakan oleh tiga pria yang kini berdiri melingkar. Dialta meletakkan sebuah gawai di atas meja kerja Arsean. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah sangat mereka kenal Andro. "Apa ini?" Sean memicingkan matanya, menatap barisan kalimat yang berisi ancaman terselubung sekaligus umpan yang sangat berbahaya. "Aku dapat dari pesan masuk istriku, Kak," jawab Dialta datar, namun sorot matanya sedingin es. Arsenio, yang berdiri di samping meja, menoleh cepat. "Kamu menyadap ponsel Sena, Alta?" Dialta men

