32

1546 Kata

Dialta baru saja keluar dari ruang kerjanya. Lampu-lampu di lorong mansion redup, senyapnya rumah itu terasa berbeda sejak ada satu nama yang kini ikut mengisi ruang-ruangnya. Sedikit ramai oleh ocehan dan cerewetnya wanita yang akan menemaninya hingga kelak. Itu salah satu doanya tanpa diketahui oleh Sena. Tanpa banyak suara, ia mendorong pintu kamar utama. Dimana kamar itu saat ini menjadi kamar miliknya dan sang istri. Langkahnya terhenti. Saat netra gelap miliknya langsung tertuju pada satu titik. Sena ada di sana. Duduk bersila di atas ranjang besar, mengenakan kacamata dengan bingkai tipis. Rambut pirang pendeknya sedikit berantakan, sebagian diselipkan ke belakang telinga. Beberapa lembar kertas putih berserakan—ada yang terlipat, ada yang penuh coretan pensil, garis-garis tegas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN