65

1454 Kata

Sena mengerjapkan matanya perlahan, cahaya matahari di Kota Tokyo yang menembus celah gorden mahal hotelnya terasa begitu silau. Tubuhnya terasa aneh—hangat, lemas, dan ada sensasi berdesir yang tertinggal di area bawah sana. Ia menarik napas dalam, aroma maskulin Dialta seolah masih tertinggal di indra penciumannya. "Mas..." gumamnya parau sambil meraba sisi ranjang di sebelahnya. Dingin. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Lalu— Sena tersentak, matanya terbuka lebar. Ia segera terduduk dan menoleh ke samping. Tidak ada bantal yang berantakan, tidak ada kemeja hitam yang tergeletak di lantai, dan yang paling penting, tidak ada sosok Dialta Aryasatya yang menatapnya dengan tatapan lapar. "Sial... jadi cuma mimpi?" umpat Sena sambil memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Wajahnya seketika

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN