Roda pesawat akhirnya menyentuh landasan. Guncangan halus terasa sebelum suara mesin perlahan melambat. Di luar jendela, langit Surabaya tampak pucat—berbeda jauh dengan putihnya Toronto yang masih bersalju. Bandara Juanda. Dialta berdiri lebih dulu, meraih mantel Sena, lalu menggenggam tangannya erat begitu mereka melangkah keluar dari lorong pesawat. Tanpa kata. Tanpa basa-basi. Langkah Dialta tegas, terarah—tidak menuju gate utama seperti penumpang lain, melainkan berbelok ke koridor samping yang lebih sepi. Seperti arahan yang diberikan kakak iparnya. Sena langsung menyadarinya. “Alta… kok lewat sini?” tanyanya pelan dengan dahinya yang berkerut. Dirinya yang sudah hafal jalan keluar dari kedatangan internasional berada di bagian lain. Dialta tidak menjawab. Tangannya justru sem

