"Oh, jadi kamu perempuan mur*han itu, hah?!" Kedua mataku membulat saat mendengar u*****n menjijikkan itu tertuju padaku. Seorang perempuan dengan dress merah maroon selutut sedang melipat kedua tangan ke d**a sembari menatapku tajam. Aku tak tahu siapa dia, tapi yang pasti kulihat perempuan itu begitu murka saat melihatku jalan bersama Mas Hanif dan Rafqa. Tatapannya nyalang seperti seekor singa yang bertemu mangsa. Seolah ingin menerkam dan mencakarnya habis-habisan. Aku benar-benar tak nyaman dengan tatapan seperti itu. Tak ingin menantang, aku mengalihkan pandangan saja. "Cuma pembantu, tapi sok mendekati majikan! Sadar diri kalau kamu itu cuma benalu dan nggak seharusnya sok dekat dengan atasan begitu! Dasar menjijikkan!" sentak perempuan itu lagi. Aku beristighfar pelan untu

