"Mereka keluargamu, Ri?" Pertanyaan Mas Hanif sedikit membuyarkan lamunan. Laki-laki yang duduk di belakang kemudi itu pun menoleh sekilas ke belakang lewat spion tengahnya. "Iya, Mas. Perempuan itu sepupuku, anak dari kakak pertama Emak." Aku berujar lirih dengan seulas senyum meski dalam hati rasanya tak karuan saat kedua orang itu lagi-lagi membuatku sakit hati dengan apa yang mereka tuduhkan. "Keluarga dekat dong." Aku mengangguk pelan. Mas Hanif kembali menggeleng, mungkin cukup kaget karena keluarga sedekat itu bisa memfitnahku sedemikian rupa. "Nggak habis pikir, bisa-bisanya mereka kasar begitu di tempat umum. Apa mereka biasa memperlakukanmu seperti itu, Ri?" Lagi, aku hanya tersenyum tipis. "Jadi, kamu terbiasa diremehkan dan difitnah seperti itu?" Mas Hanif cukup shock s

