Surat Dari Masa Lalu

1031 Kata
Angin malam membawa bau logam dari arah timur. Di menara pengintai, seorang pengawal berlari tergesa dengan peluh di pelipis. Di tangannya selembar gulungan kecil, terbungkus kain ungu dengan segel lilin berukir lambang lotus—simbol yang tak banyak orang berani gunakan sejak pengkhianatan di tahun-tahun kelam itu. Di dalam tenda komando, Raka sedang menatap peta berdebu yang terbentang di meja batu. Matanya, yang biasanya tajam dan tak tergoyahkan, malam itu seperti kehilangan arah. Sejak kabar tentang bentrokan di Menara Utara sampai, ia tahu perang yang sesungguhnya telah dimulai. Namun tak ada yang mempersiapkannya untuk surat itu—surat dari Aruna. Pengawal menyerahkan gulungan dengan kepala tertunduk. “Ditemukan di bawah batu penanda di hutan utara, Panglima. Dikirim melalui jalur para biarawan.” Raka hanya mengangguk, menunggu sampai langkah sang pengawal hilang, lalu membuka segelnya dengan hati-hati. Tulisan tangan itu halus, berbau bunga cendana yang samar. Ia mengenal aroma itu, sama seperti ia mengenal cara Aruna menulis huruf R dengan tarikan panjang di ujung—kebiasaan yang dulu membuatnya sering menggoda. Raka… Jika surat ini sampai padamu, berarti darah telah lebih dulu menetes di tanah Serayu. Aku tak menulis untuk meminta belas kasihan, melainkan untuk mengingatkanmu pada sesuatu yang lebih tua dari perang—janji di tepi sungai waktu itu. Kau pernah bilang, dunia ini hanya milik mereka yang berani kehilangan segalanya. Kini aku ingin tahu, apakah kau masih berani kehilangan aku… demi kebenaran yang kau yakini. Istana sudah retak. Tapi di balik retakan itu, ada celah untuk cahaya. Aku memegang kuncinya. Datanglah sebelum rembulan jatuh pada malam ketujuh. Bawa kebenaranmu, dan aku akan bawa rahasiaku. — Aruna. Raka terdiam lama. Kata-kata itu seperti pisau yang menembus dua lapis: masa lalu dan masa kini. Ia tahu betul apa yang dimaksud Aruna dengan “janji di tepi sungai.” Itu adalah hari terakhir mereka bersama—hari ketika Aruna, putri perwira tinggi, memilih istana, dan Raka memilih pengasingan demi idealisme. Namun kini, dunia berputar aneh. Perempuan yang dulu ia cintai kini mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Serayu dari kehancuran. Atau sebaliknya—jalan menuju jebakan yang disusun oleh Ratu Kayana sendiri. Ia menggenggam surat itu, lalu melipatnya kembali. “Siapkan tiga penunggang tercepat. Kita ke timur,” katanya dingin. “Ke timur, Panglima? Di sana hanya gunung dan kabut…” “Dan masa lalu,” jawab Raka lirih. “Kadang, masa lalu lebih berbahaya dari seribu musuh.” Di kejauhan, petir membelah langit. Api perlawanan telah menyala, tapi di balik nyala itu, ada percikan lain—lebih kecil, lebih sunyi—yang bisa membakar seluruh hati jika dibiarkan. --- Kabut turun perlahan seperti tirai yang menutup panggung dunia. Reruntuhan kuil tua itu berdiri sunyi di lereng timur—batu-batu lumutan yang dulu menjadi tempat para leluhur Serayu berdoa kepada bintang. Malam itu, hanya cahaya bulan yang menyelinap di sela pilar patah, memantulkan kilau keperakan di wajah seorang perempuan berjubah biru tua. Aruna menunggu dalam diam. Tangannya menggenggam kalung lotus perak yang sudah kusam, satu-satunya peninggalan dari masa sebelum istana berubah menjadi labirin kekuasaan. Angin membawa suara langkah dari arah hutan—berat, tapi teratur. Ia mengenalnya bahkan sebelum sosok itu muncul dari kabut. “Raka…” bisiknya. Prajurit itu melangkah ke dalam cahaya. Matanya menatap sekeliling sebelum berhenti pada wajah Aruna. Waktu telah mengubah banyak hal—garis wajah mereka lebih keras, sorot mata lebih dalam. Tapi di antara semua luka dan perang, ada sesuatu yang tetap: keheningan di antara mereka yang berbicara lebih banyak dari kata. “Masih suka menungguku di tempat yang sama,” kata Raka, setengah tersenyum getir. “Dan kau masih datang terlambat,” balas Aruna lembut. “Kali ini, tujuh tahun terlambat.” Mereka berdiri hanya sejengkal jarak. Bulan menyinari keduanya—seolah langit pun tahu ini bukan sekadar pertemuan dua manusia, tapi dua takdir yang tak pernah selesai. “Suratmu… berbahaya,” ucap Raka akhirnya. “Segalanya sekarang berbahaya,” jawab Aruna. “Bahkan diam bisa dianggap pengkhianatan.” Ia menatap ke arah reruntuhan kuil, lalu menunjuk ukiran samar di dinding—gambar seekor naga melilit bintang. “Ini lambang lama Serayu, sebelum Ratu Kayana menghapusnya dari semua panji. Di bawah kuil ini tersimpan naskah leluhur yang mencatat silsilah kekuasaan sebenarnya. Kebenaran yang bisa mengguncang istana.” Raka menatapnya dengan dahi berkerut. “Jadi itu yang kau maksud dengan rahasia?” Aruna mengangguk. “Jika aku menyerahkannya padamu, kau bisa menggoyang seluruh tahta Kayana. Tapi kau juga bisa mati sebelum sempat membukanya.” Hening sesaat. Hanya suara serangga dan desir angin di antara mereka. Raka mendekat, suaranya rendah namun bergetar oleh sesuatu yang tak bisa disembunyikan. “Aku tak pernah minta kau mempertaruhkan nyawa lagi demi aku.” “Aku tidak,” jawab Aruna, menatap lurus ke matanya. “Aku melakukannya demi Serayu. Dan mungkin… demi janji di tepi sungai itu.” Raka terdiam. Hatinya, yang sudah lama membatu oleh perang dan kehilangan, mendadak terasa hangat dan nyeri sekaligus. Ia mengulurkan tangan, hampir menyentuh wajahnya, tapi menahannya di udara. “Kau tahu, Aruna… mungkin aku masih berperang bukan untuk menang, tapi untuk menemukan kembali alasan kenapa aku mulai bertarung dulu.” Aruna tersenyum kecil, tapi matanya berkaca. “Kalau begitu, jangan berhenti mencari. Tapi ingat, kadang alasan itu bukan untuk dimiliki lagi—melainkan untuk dilepaskan.” Langit bergemuruh pelan. Petir menyambar jauh di utara—tanda bentrokan baru sedang terjadi. Raka menatap ke arah kilatan itu, lalu kembali pada Aruna. “Di mana naskah itu?” Aruna menunduk. “Tersembunyi di bawah altar naga. Tapi ada harga untuk membukanya: kau harus bersumpah pada nama leluhur untuk tidak menggunakannya demi ambisi.” Raka menarik napas panjang. “Aku bersumpah… demi Serayu, bukan kekuasaan.” Mereka menunduk bersama di hadapan altar, sementara bulan perlahan tenggelam di balik kabut. Saat Aruna menyerahkan kunci kecil dari batu giok itu, jari mereka bersentuhan—hangat, tapi penuh ketakutan. Dunia di luar sana sudah mulai terbakar, tapi di kuil tua itu, dua jiwa yang pernah satu kini berdiri di persimpangan: cinta dan revolusi. Dan ketika Raka pergi, Aruna tetap tinggal di antara bayangan tiang patah. Ia menatap punggungnya menjauh, berbisik pelan ke udara: “Semoga kali ini, kau benar-benar berjuang bukan hanya untuk negeri… tapi juga untuk dirimu sendiri.” ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN