ISTANA DALAM BAYANG API

648 Kata
Langit utara merah tua, seperti bara yang menolak padam. Di puncak bukit berbatu berdiri Istana Garuda Emas, pusat kekuasaan Raja Lantara. Dindingnya berlapis logam perunggu, berkilat di bawah matahari, tapi di balik kemegahan itu tersimpan aroma besi dan darah. Malam itu, seluruh istana sunyi. Hanya terdengar suara langkah penjaga dan derit obor yang hampir habis minyaknya. Raja Lantara duduk di singgasananya sendirian. Di hadapannya terbentang peta besar tujuh suku Nusantara — dan di tengahnya, dengan tinta hitam tebal, ia telah menandai satu nama: Serayu. Ia menatap titik itu lama, seolah menatap hantu masa lalu yang tak mau mati. “Anak itu masih hidup,” gumamnya. “Dan selama dia hidup, tak akan ada kedamaian yang sungguh ada.” ••• Pintu istana berderit pelan. Seorang perempuan masuk, membawa kendi air dan dupa beraroma cendana. Wajahnya lembut tapi tajam, sorot matanya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca. Ia adalah Aruna — sang penjaga laut, cinta pertama Raka, yang kini menjadi perantara rahasia antara istana dan bangsa laut. “Paduka belum beristirahat?” Suara Aruna lembut, namun menembus ruang. Lantara tidak menoleh. “Tidur adalah kemewahan bagi mereka yang tidak memerintah.” Ia memandangi peta, jarinya menyusuri garis sungai hingga berhenti di Serayu. “Kau tahu, dulu aku dan ayahnya pernah berjanji. Suku-suku tidak akan saling menumpahkan darah lagi. Tapi janji itu hancur saat dia menolak tunduk.” Aruna meletakkan kendi air di meja batu. “Atau mungkin karena Paduka memaksa dunia tunduk, bukan berjalan bersama.” Ucapan itu membuat udara di ruangan berubah dingin. Lantara perlahan menatapnya. “Berhati-hatilah, Aruna. Kata-kata seindah itu bisa membuatmu kehilangan kepala.” Aruna tersenyum samar. “Aku tidak takut kehilangan kepala, asalkan jiwa Nusantara tidak kehilangan arah.” Keheningan menggantung di antara mereka. Raja Lantara menatapnya lama — di matanya ada amarah, tapi juga sisa kasih lama yang belum padam. Lalu ia berbalik, menatap jendela, dan berkata pelan, “Kadang, cinta harus menjadi besi agar dunia tetap seimbang.” --- ••• Di ruang bawah istana, para penasehat sedang berkumpul. Meja batu besar penuh gulungan surat dari utara dan barat. Salah satunya dibacakan keras: “Pasukan penjaga menara utara diserang oleh kelompok tak dikenal di perbatasan Serayu. Beberapa prajurit tewas. Lambang naga tua ditemukan di tanah.” Wajah para penasehat berubah tegang. “Itu lambang suku Serayu,” kata salah satu dengan nada khawatir. Lantara menatap mereka tanpa ekspresi. “Bukan Serayu,” katanya dingin. “Itu pesan dari bayangan masa lalu. Tapi bila mereka ingin menghidupkan legenda, kita akan membakarnya bersama-bersama.” Seorang jenderal berlutut. “Perintah Paduka?” “Siapkan tiga resimen. Aku ingin perbatasan timur dikurung. Tidak ada burung pun yang boleh terbang tanpa izin dari istana.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan: “Dan panggilkan Ratu Kayana. Saatnya ia belajar bagaimana kekuasaan dijaga — bukan dengan air mata, tapi dengan api.” --- ••• Malam turun. Di balkon istana, Aruna berdiri menatap laut jauh di timur. Ombak memantulkan cahaya bulan. Ia menatapnya lama, lalu berbisik lirih — suara yang hanya didengar oleh angin: “Raka… di manapun kau berada, hati laut masih bersamamu. Tapi cepatlah, sebelum bumi ini tenggelam oleh ambisi.” Sementara itu, di ruang takhta, Lantara duduk sendirian lagi. Ia memegang sebuah batu kecil berbentuk tetesan air — hadiah dari Raka ketika mereka masih bersahabat. Suara hatinya berbisik: “Aku membangun kerajaan agar manusia tak saling membunuh… tapi mengapa aku harus membunuh agar kerajaan ini tetap hidup?” Ia menutup mata. Di kejauhan, kilat menyambar lembah timur. Pertanda perang besar mulai menunggu di balik fajar. ••• Di pagi hari, pasukan kerajaan mulai bergerak ke arah Serayu. Trompet perang ditiup, dan burung-burung terbang berhamburan dari menara. Aruna menyaksikannya dari jendela kamarnya, wajahnya tanpa air mata, hanya kesunyian panjang. Ia tahu, roda sejarah baru saja berputar — dan dua jiwa yang pernah bersatu kini sedang berdiri di sisi berlawanan dari pedang yang sama. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN