Penjaga di Timur

496 Kata
Kabut masih menempel di ujung rambut Aruna saat ia berhenti di depan dua batu besar yang menjulang seperti gerbang purba. Langkahnya pelan, tapi pasti. Jalan setapak ini bukan sembarang jalan — ini jalur yang dulu hanya dilewati para utusan kerajaan Serayu. Kini, hanya dirinya yang tahu jalannya masih ada. Dari balik kabut, suara berat terdengar. “Berhenti di situ. Satu langkah lagi, dan tanah ini akan menelanmu.” Aruna menunduk, lalu mengangkat tangan kanannya perlahan. “Aku datang membawa tanda naga. Aku bukan musuh.” Beberapa detik sunyi. Kemudian, bayangan itu muncul — sosok tinggi berjubah cokelat, wajahnya tersembunyi di balik topeng kayu. “Banyak yang pernah berkata begitu,” ujarnya datar. “Dunia ini penuh pembohong.” Aruna menghela napas. Ia tahu cara menghadapi orang seperti ini: keras kepala, tapi setia. “Kalau aku pembohong,” katanya, “batu ini takkan bergetar.” Ia menunduk, menempelkan telapak tangannya di tanah. Suara lembut seperti getaran halus terdengar dari dalam bumi — dan batu besar di depan mereka memancarkan cahaya biru samar. Sosok berjubah itu kaku. “Itu…” “Lencana obsidian,” potong Aruna cepat. “Warisan dari Senapati Luhur. Aku putrinya.” Sunyi lagi. Hanya suara angin dan gemericik air dari lembah bawah. Akhirnya, sang Penjaga membuka topengnya. Wajahnya keras, penuh bekas luka, tapi matanya jernih. “Ayahmu pernah datang ke sini,” katanya pelan. “Dia berjanji akan kembali dengan perdamaian. Tapi yang datang justru perang.” Aruna menatapnya tajam. “Perang itu bukan salahnya. Dan aku tak datang untuk mengulang kesalahan, tapi untuk memperbaikinya.” “Dengan apa? Dengan kata-kata?” sindir sang Penjaga. Aruna tersenyum tipis. “Dengan keberanian. Dan kebenaran yang belum mati.” Ia mengeluarkan sebuah gulungan kecil — peta kuno dengan lambang naga bersayap. “Ratu Kayana menghapus prasasti leluhur. Tapi ia tak tahu, darah Serayu masih hidup di timur. Jika kau masih percaya pada sumpah lama, bantu aku menegakkannya.” Sang Penjaga menatapnya lama. Tatapan yang menimbang antara keyakinan dan ketakutan. Lalu ia memanggil dua prajurit bayangan dari balik kabut. Mereka muncul tanpa suara, membawa tombak pendek dari batu hitam. “Berapa banyak yang bersamamu?” tanya Aruna. “Sedikit,” jawab sang Penjaga. “Tapi kami tidak lupa caranya melawan.” Aruna mendekat, jaraknya hanya satu langkah dari wajah pria itu. “Yang kulawan bukan hanya Ratu Kayana,” katanya lirih. “Tapi kebisuan. Dan kalau kalian masih diam… maka kalian bukan penjaga. Kalian hanya hantu yang menunggu dunia lupa.” Wajah sang Penjaga berubah. Perlahan, ia menunduk. “Baiklah, Putri Serayu,” katanya akhirnya. “Kau sudah membangunkan yang lama tertidur. Jangan harap mereka bisa tidur lagi.” Aruna tersenyum samar — senyum yang menandai dimulainya badai. Malam itu, mereka menyalakan api biru di tengah kabut. Puluhan wajah muncul dari kegelapan, prajurit-prajurit lama yang hidup di bawah sumpah leluhur. Dan di antara nyala api itu, Aruna bersumpah: “Kita tidak mencari perang. Tapi kalau perang datang, biarlah dunia tahu — kita masih di sini.” ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN