Baru kali ini Ry tidak menikmati perjalanan. Seluruh pikirannya tercurah pada apa yang akan terjadi di rumah nanti. Jika benar Mama yang dilihat Rin di Mobieus tadi maka dia harus menyiapkan alasan yang masuk akal atau hubungannya dan Ruu akan tamat. Dadanya terus berdegup kencang, keringat masih membasahi pelipis. Semakin dekat dengan stasiun tempat mereka akan turun, perutnya terasa semakin mual dan melilit, seolah asam lambungnya meningkat padahal dia tidak memiliki riwayat sakit maag. Ry menggigiti kuku-kuku jarinya, kedua lututnya terus bergerak seperti seseorang yang gemetar. Memang pada dasarnya dia merasakan gemetar, tapi tidak separah itu. Dia hanya menggerakkannya saja untuk mengalihkan perhatian. Dia harus memikirkan hal lain, tidak boleh berpikir yang tidak-tidak – kemungkina

