"Terima kasih Dok, Anda sudah menyelamatkan Bapak saya," kataku pada Dokter yang kini berdiri di hadapanku sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Tidak masalah, Mbak Jannah, Mbak Jannah jangan sungkan, oh ya, boleh ikut ke ruangan saya," pintanya.
"Tentu Dok," jawabku yang lantas mengikutinya keluar dari ruangan Bapak menuju ruang dokter.
"Silakan duduk, Mbak Jannah," katanya sambil mempersilakan aku duduk.
"Iya Dok, maaf tadi di musahllah saya gak tahu kalo anda dokter." Aku mencoba membuka percakapan.
"Ah, iya, ga masalah," jawab Dokter Rafiq masih dengan senyum khasnya.
"Ini saya tuliskan resep untuk Bapaknya, Mbak Jannah, mohon nanti di tebus di apotik ya," katanya sambil menyodorkan kertas.
Aku menerimanya dan memperhatikan daftar catatan yang kulihat banyak sekali di kertas kecil itu.
"Dok ...." Aku sedikit ragu, "Apakah bapak saya akan baik-baik saja," tanyaku.
"Iya Mbak Jannah kita rawat beliau sambil berdoa ya," jawabnya lembut sekali.
"Apakah nantinya Bapak saya akan di operasi?"
"Saya lihat kondisi setelah observasi dan pengecekan dulu mbak Jannah, jika terpaksa dan tidak ada jalan lain lagi, maka kami terpaksa mengoperasinya."
"Berapa biayanya Dok?" tanyaku dengan hati berdebar debar.
"Estimasi biaya ... Sekitar 64 hingga 140 juga tergantung keadaan Bapaknya Mbak Jannah," jawabnya.
"Ya Allah," kataku dan tak mampu kubendung air mata di hadapannya.
Ia menatapku prihatin dan menyodorkan selembar tisu kearahku.
"Hapus air matanya, Mbak."
Kuterima tisu tersebut dan menyeka air mataku, "Makasih Dok."
"Kenapa Mbak?"
"Saya hanya khawatir dengan kondisi Bapak, terlebih lagi, keadaan kami ... Saya hanya mampu berharap semoga Allah menjaga Bapak, semoga dia tak sampai di operasi Dok," jawabku.
"Semoga saja Mbak, Mbak yang tenang ya, jangan sedih, sebaiknya Mbak juga jaga kesehatan Mbak, apakah wajah Mbak Jannah harus di obati?" Ia bangkit dari kursinya.
"Aduh eng-enggak udah, Dok."
Dokter Rafiq hanya tersenyum tipis sambil meraih alat di meja kecil yang terletak di belakangnya.
Ia berdiri di hadapanku yang masih duduk di kursi. Perlahan ia mengenakan sarung tangan dan menuangkan cairan alkohol dan cairan antibiotik ke kapas dan mulai menyeka bagian pelipis dan sudut mataku yang lebam karena gambar tangan Mas Ikbal, juga sudut bibirku yang terluka.
"Aduh." aku meringis karena pedih dari cairan itu.
"Maaf," katanya sambil menatap lekat mataku yang membuatku jantungku berdesir tak menentu.
"Sudah." Ia membereskan kapas dan sarung tangannya.
"Terima kasih, Dok. Anda sungguh baik."
Ia tertawa kecil hingga matanya seperti tenggelam oleh pipi dan kelopak matanya.
"Mbak Jannah panggil saja saya Rafiq kalo kita hanya berdua."
"Iya-iya Mas Rafiq. Kembali pada masalah Ayah saya, apakah biaya operasinya tidak bisa dicover oleh pemerintah?"
"Kalo Mbak Jannah mengajukan pasti bisa namun saya rasa, mungkin hanya separuhnya."
Aku teringat pada saldo rekening yang tempo hari di pinjaman Ikbal. Hanya ada 15 juta dan mobil avansa yabg aku bawa, aku tak tahu aoaka dengan menjualnya biaya operasi Bapak tertanggungi atau kurang. Sementara di sisi lain aku punya anak yang harus kutanggung dan sesegera mungkin sepertinya aku harus mencari pekerjaan.
"Mbak Jannah memikirkan apa?" Tanyanya yang melihatku bingung dan terdiam.
"Jujur, dengan keadaan seperti ini, saya sungguh bingung dengan biaya Mas Rafiq terlebih lagi saya punya anak," kataku dengan nada sedih.
"Uhm ... Saya akan berusaha membantu Mbak Jannah sebisa saya," ujarnya.
"Saya akan banyak merepotkan Mas Rafiq, maafkan saya, tidak usah dipikiran Mas Rafiq saya akan cari jalan keluarnya."
Ia mengangguk lalu tersenyum kembali. "Kalo begitu saya akan memeriksa pasien lain lagi, ya. Kita ngobrol lagi nanti," katanya.
"Iya Mas Rafiq, kalo begitu saya mohon diri ke ruang Bapak dulu," pamitku.
"Oh ya, mbak Jannah ...."
"Apakah Mbak Jannah akan menginap?"
"Saya belum tahu,. Saya akan melihat anak saya dulu," jawabku.
"Bagaimana klo nanti pulangnya bareng saya?"
"Gak usah Dok, nanti merepotkan."
"Tidak selama saya tidak sibuk."
Aku sedikit ragu namun karena ia terlihat begitu tulus, jadi kuiyakan saja.
"Baik, Dok."
**
Pukul delapan lewat sepuluh menit, seorang petugas dapur datang mengantar sekotak makanan.
"Permisi, ada Mbak Jannah?"
Aku segera bangkit dan menyongsongnya di pintu untuk mengambil nampan yang dia bawah.
"Maaf tapi Bapak saya sudah makan tadi petang," kataku pada petugas itu.
"Maaf ini untuk anda Bu Jannah," katanya.
"Saya gak pesan makanan, Mbak," tolakku ragu.
"Ini Dokter Rafiq yang meminta saya untuk memberikannya pada Ibu," jawabnya sambil tersenyum dan berlalu.
"Terima kasih," kataku.
"Sama sama."
Kutatap bungkusan yang masih tersisa hangat di tanganku, kuperhatikan ada secarik kertas di atas kartun makanan tersebut. Kuraih laku k****a.
Semoga bubur lezat ini bisa menghangatkan lambung dan meredakan sedikit gundah untuk mbak jannah ?❤️.