keputusan Bapak

1233 Kata

Angin sejuk menyapu udara sore, dedaunan kering jatuh dan bertebaran di halaman rumah bapak. Hari Minggu aku tak memilih untuk ke toko, rasanya badan ini lesu untuk keluar dari rumah, sehingga ku hanya menghabiskan waktu untuk duduk di pelataran ruma bapa sembari menyaksikan kedua anakku yang bermain ceria. "Assalamualaikum," sapa seseorang menyentak lamunanku. "Oh, Mas Rafiq, silakan Masuk," jawabku. "Ada Bapak dan Ibumu," tanyanya sambil m ngambil posisi di sebelahku. "Ada Mas," jawabku pelan. "Boleh aku bertemu?" Binar matanya terlihat ceria dan bersemangat. "Iya, tapi ...." "Kenapa?" Dia menangkap keraguanku. "Sepertinya akan sulit menyakinkan Bapak, Mas, semalam aku sudah bicara, tapi beliau ...." Aku tak melanjutkan namun memberi isyarat berupa gelengan padanya. "Kenapa?"

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN