Kubalikkan anakku ke mobil lantas menutup pintunya, ketika hendak naik tiba-tiba seseorang menahan pintu mobilku. "Jannah, tunggu ...." Mas Rafiq rupanya menyusulku. "Ada apa lagi?" tanyaku ketus. "Aku mau bicara ...." "Aku tidak ingin bicara pada siapa pun, aku lelah." "Aku ...." Ia ragu sambil menatap anakku bergantian." "Pergi dan uruslah istrimu," usirku berusaha menjauhkan tangannya yang menahan pintu mobil. "Aku ingin bicara sebentar saja," pintanya dengan raut penuh harap. Aku menatap wajah dengan malas, ada benci sekaligus muak padanya. "Silakan bicara dan aku akan mendengarnya," jawabku sambil membuang muka. "Aku ingin berbicara ... Aku terhenyak dan tersadar dengan kejadian barusan," ujarnya. "Lalu apa? Intinya bagaimana?" Aku mulai tidak sabar. "Aku mulai meragukan

