cemburu

772 Kata
Lantunan adzan mengalun merdu membangunkanku, kusibak selimut yang menutupi tubuh lalu segera beranjak ke kamar mandi. Kutunaikan shalat dan menyempatkan membaca surah-surah Al-Qur'an hingga pagi beranjak terang. Ketika kurapikan sejadah kudengar suara orang tengah menggoreng sesuatu sambil membersihkan dapur jadi segera kuraih jilbab dan memakainya lalu menyusul ke dapur. Sampai di sana aku nyaris syok bukan main, dapurku mengepulkan asap yang luar biasa pekatnya serta Bau gosong yang menguar ke seluruh ruangan. "Apa ini?" kataku setengah menjerit. Sambil menghampiri kompor yang masih mengebulkan asap bahkan isinya juga mengobarkan api. Segera kumatikan dan kupindahkan wajannya Ke wastafel. "Apa yang kau lakukan ?" "Aku lagi goreng telur,Mbak," jawabnya lirih "Goreng telur gosong?!" "Maaf mbak, aku tadi kelamaan," bisiknya. "Kamu gak bisa masak? Bukannya kemarin kamu siapkan makan malam?" "Itu bukan aku yang siapkan ... tapi ... itu beli dari Grabfood," ucapnya lirih. "Subhanallah." Aku meggumam sendiri, "Kalo aku lalai rumah ini bisa terbakar," ucapku sambil terus mengucapkan istighfar. "Ya Allah, tambahkanlah kesabaran ini," gumamku sendiri. Kucuci wajan yang ia gunakan barusan dengan hati setengah dongkol, kemarin panciku sekarang wajanku, mengapa ia selalu merusak benda kesayanganku yang kubeli dengan menabung. "Mbak aku mi-minta maaf, Mbak." Ia mengusap sudut matanya sambil menghampiriku. Kutatap ia dengan seksama dan mencoba mencerna mengapa ia sampai menangis hanya karena aku mengambil alih masakan berapinya. "Aku telah datang dan menjadi istri suamimu, aku mengacaukan segalanya, aku minta maaf Mbak." Ia tersedu sedu di hadapanku. "Kamu memang sudah merusak segalanya, jadi aku tidak punya alasan untuk menerimamu, namun menyuruhmu pulang pada Ayahmu membuatku menjadi wanita yang kejam dan melampaui batas, aku dilema. Jika boleh jujur sungguh aku benci padamu." Aku mengatakan semua isi hatiku dengan lugas. Bibirnya semakin bergetar dan isakannya semakin menjadi-jadi. "Mbak berikan aku kesempatan untuk menjadi adikmu," pintanya. "Tidak masalah kau ingin menjadi adikku, namun saat ini kau maduku dan tentu aja di saat wanita yang melihat wanita lain bersama suami yang mereka cintai pasti sakit hati, iri dan cemburu," balasku. "A-aku sadar hal itu mbak," jawabnya terbata-bata. "Aku harap kau segera berpisah dengan suamiku, tapi itu hanya harapan kosong saja, karena kulihat Mas Ikbal pun tak ingin meninggalkan salah satu dari kita. Maka kau dan aku harus bersaing mulai dari sekarang, kau pun akan merasakan panasnya rasa cemburu, bukan aku saja." "Mbak ...." Ia bersimpuh sambil memegang lututku. "Apa?" "Biarkan aku bersama Mas Ikbal, Mbak." "Maksudmu kau ingin meminta suamiku, jangan mimpi!" Kutinggalkan ia sambil meraih sapu untuk membersihkan ruang tamu. "Berikan aku kesempatan mbak, tidakkah kamu kasihan .... aku merasa seperti manusia yang tidak dianggap di sini." Ia masih mengejarku dan berusaha mengajak bicara. Entah apa yang ia inginkan. "Memang tidak ada tempat untukmu di sini, Karena sejatinya mahligai rumah tangga hanya untuk pasangan bukan untuk tiga orang." "Aku tak pernah menentang perintah Abi dan agamaku," balasnya. "Apa harapanmu dengan mengatakan itu padaku," aku bersiap-siap dengan sapu ditangan dan dia yang melihat gelagatku langsung memundurkan diri. "Kau berharap aku mencontoh suri tauladan darimu, hai wanita suci?" "Aku ...." Ia langsung menjauh setelah ia menatap bola mata nanarku yang sangat berapi api ingin melumatnya hingga menjadi abu. "Minta pada suamimu untuk membelikanmu rumah baru, aku tak sudi berlama-lama berbagi rumah denganmu." Entah ia dengar atau tidak aku tak peduli. Aku membuka pintu kamar Raisa dan kulihat ia dan ayahnya sedang tidur dalam posisi berpelukan. "Betapa indahnya pemandangan ini," batinku. Namun semua kebahagiaan itu buyar ketika membayangkan jika Soraya hamil dan melahirkan anak laki-laki yang akan meneruskan keturunannya mas Ikbal , bisa jadi putriku ... Ah ... aku takut mengucapkannya. Aku takut mebayangkan putriku tak lagi mendapatkan limpahan kasih sayang dan perhatian, lalu sedikit demi sedikit dilupakan ayahnya sendiri, kemudian putriku akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah diri, mendendam dan memberontak. Aku takut itu. Kuhampiri mereka lalu duduk di sisi pembaringan. Kubelai wajah suamiku pelan bergantian dengan kepala anakku. Mereka satu satunya semangat hidup dan nyawaku, aku tak mau kehilangan mereka, tidak akan pernah. "Bunda ...." Suamiku bergumam lalu melingkarkan lengannya di pinggangku. "Apa Mas?" Balasku. "Jangan tinggalkan aku Bunda," gumamnya sambil memindahkan kepala ke pangkuanku. "Aku gak bisa, Mas, aku tak sanggup terus menerus seperti ini kau bagi cinta dan kau biarkan terkatung-katung. . Air mataku meluncur dan jatuh mengenai wajahnya. "Aku rapuh Mas, aku gak sanggup seperti ini, sekuat apapun aku berkeras, jiwa ini telah hancur." Suamiku memelukku lalu menjatuhkanku di dekatnya latas berbisik. "Maafkan aku Sayang," ucapnya. "Aku tak mau kau rayu." "Aku mencintaimu." Di waktu bersamaan Soraya mengetuk pintu, mungkin masih ingin bicara padaku dan mendapati kami dalam posisi saling berpelukan dia sontak salah tingkah. Dan jangan bayangkan posisi dan ekspresi terkejutnya. Ia langsung berlari dan kurasa ia melanjutkan lagi tangisnya. Haruskah aku bahagia lagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN