214

1214 Kata

Menyaksikan istrinya yang pergi meninggalkan rumah kami dengan kaki yang berdarah-darah di mana itu tercetak di lantai, hatiku sangat miris dan merasa bersalah. "Mas, susul Mbak Aira Mas, susul dia," ucapku sambil mengguncang lengan suamiku. Mas Tama yang masih berdiri dengan tatapan kosong terkejut dengan sentuhanku. "Apa?" "Susul Mas, Jangan sampai kita kehilangan perasaan dan seperti mati akal. Dia masih istrimu dan dia yang telah mendampingimu selama ini rasanya tidak adil semua perlakuan yang baru saja kau lakukan. Tolong Mas." "Kau ini bicara apa Raisa? Bukankah ini sangat aneh, apa kau tidak menginginkan aku?" "Aku menginginkanmu Mas, tapi hal yang kamu lakukan pada Mbak Aira berlebihan. Tolong jangan kehilangan perasaan, pergi susul dia dan minta maaf, bawa dia ke rumah sak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN