Sore hari menjelang petang Mas Rafiq kembali dan menemuiku di kamar, ia meletakkan tas di meja, melonggarkan kancing bajunya, tapi ketika menatap padaku ia langsung heran mendapati mataku yang merah dan raut wajah yang sedih. "Lho, Sayang, ada apa? Kok nangis?" Ia menghampiri dan langsung membawaku dalam pelukannya. Hari ini aku mendapatkan sedikit masalah Mas air mataku meleleh begitu saja Masalah apa, coba ceritakan padaku ucapnya sambil membenahi anak rambut dan menyeka air mataku. "Aku dan Angel bertengkar ...." kumenangis karena tak sanggup menahan kesedihan dan luapan emosi, mengingat kembali bagaimana Om Hermawan dan putrinya memperlakukanku dengan sinis. "Kenapa?" "A-angel, dia terus merasik dan mencari cara untuk untuk melemahkan dan melecehkanku. Ia merasa karena posisin

