198

1070 Kata

Malam bergulir larut, aku bisa mendengar dari lantai bawah bahwa kini suamiku dan istrinya sudah bersiap-siap untuk pergi. Dia sempat datang ke kamar dan mengetuk pintu tapi aku tidak membukanya jadi Mas Tama hanya berpamitan dari luar saja. "Sayang, aku pulang ya?" Dia mengatakan itu, sementara aku memejamkan mata meresapi kalimat yang dia katakan dengan penuh kelembutan tapi seperti belati yang menusuk hatiku. Tadi dia bilang sayang pada istrinya kini dia bilang sayang padaku. Tapi aku yakin tidak mungkin dalam hatinya ada dua cinta yang sama besarnya. Pasti ada yang lebih dominan di mana Mas Tama condong kepadanya. Ini aku sudah melihat buktinya, aku melihat bagaimana suamiku begitu khawatir tentang keadaan istrinya yang pingsan dia merawatnya dengan penuh kehati-hatian dan perhatian

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN