"Jannah, ini suplemen vitamin yang baik untuk kesehatanmu." Tiba-tiba dokter tampan itu datang di jam istirahat dan meletakkan sebuah kotak vitamin di hadapanku. Aku mendongak menatapnya, dan dia selalu membalas tatapanku dengan senyuman teduh. "Aduh, Mas jadi merepotkan ... tapi, terima kasih," ucapku pelan. Sementara itu, teman-teman kerja yang duduk tak jauh dariku saling mencolek dan tersenyum-senyum melihat Dokter Rafiq memberiku perhatian. "Jannah, gimana kabar orang tuamu?" tanyanya lagi. "Ba-baik, tapi kenapa bertanya, Dok?" Ia tertawa kecil, lalu berkata, "Memangnya aneh untuk sekedar bertanya?" Melihat sorot manik matanya yang berkharisma membuatku semakin gugup dan salah tingkah. "A-anu, Dok ... merasa aneh saja," jawabku singkat. "Lho, antara pasien dan dokter sudah b

