20.00 PM Bandara Soekarno Hatta sedang berada di jam emasnya, ramai, terang, dan penuh penumpang yang membawa mimpi masing-masing. Di tengah keramaian itu, dua sosok muncul dari area drop-off internasional. Nick dan Tania, dengan koper cabin yang menggelinding rapi di belakang mereka. Malam masih panjang, tapi langit sudah pekat. Angin dari pintu otomatis bandara membuat rambut Tania berantakan sedikit. Ia merapatkan jaketnya sambil mendesah pelan. “Datang dua jam lebih awal, berarti mengurangi jatah istirahat aku selama dua jam,” gumamnya. Nick berjalan santai di sampingnya, tampangnya tetap cool seperti biasa, seolah dunia nggak pernah berhasil mengguncangnya. “Kalau mau aman dari gosip, ya ini harga yang harus kita bayar,” ucapnya ringan, tapi nadanya terdengar tegas dan penuh mak

