Chapter 16

1575 Kata
"Mau ke mana, Kak?" Putri menatap kakaknya dari kepala sampai ke ujung kaki. Gadis itu tengah bermain laptop di ruang tamu ketika Aurel keluar dengan pakaian seperti akan bepergian. Pasalnya ini adalah malam minggu yang biasanya Putri ketahui kalau Aurel akan sibuk menonton drama atau pun bermain game pada ponselnya. Tetapi kali ini kakaknya itu terlihat sangat manis dengan t-shirt putih oversize yang disisipkan pada ripped jeans hitam. "Malam mingguan dong," senandung Aurel. Putri terbahak, seperti ucapan kakaknya itu hanyalah bualan semata. Karena sejauh yang ia tahu, Aurel tidak sedang berpacaran dengan siapa pun. Aurel melipatkan kedua tangan di depan d**a, memerhatikan Putri yang masih tertawa. "Kenapa? Ngerasa kalau itu gak mungkin?" "Paling juga sama temen cewek lo, Kak," tukas Putri dan kembali memainkan laptop. "Tunggu aja dan liat sendiri," dengus Aurel lalu menjulurkan lidah pada Putri sebelum keluar dari ruang tamu. Ia memutuskan untuk bermain ponsel di teras sambil menunggu kedatangan Alfi. Kurang dari lima menit menunggu, muncul bunyi mobil yang berhenti di depan pagar. Saat keluar dari kamar tadi, Aurel memang mendapat pesan dari Alfi kalau pria itu sudah di perjalanan sehingga ia tidak perlu menunggu terlalu lama. Terlihat Alfi yang keluar dari mobil lalu berjalan masuk melalui pagar yang sedikit terbuka. Ah, Aurel lupa memberitahukan. Semula ia pikir pesan dari Alfi itu hanya sekedar basa-basi. Tapi siapa sangka cowok itu malah mengingatkannya soal pesan tersebut dua kali, tepat sebelum Aurel berangkat ke sekolah dan saat jam pelajaran terakhir berakhir. "Hai," sapa Alfi yang sudah menginjakan kakinya di teras rumah Aurel, bertepatan munculnya Putri dari dalam. "Siapa, Kak?" Aurel tentu saja sudah menduga kalau adiknya itu akan keluar. "Temen kakak, Kak Alfi. Kak, ini adik aku," jelas Aurel saling mengenalkan kedua orang itu. "Kakak mau ke mana?" Putri mengulangi pertanyaannya lagi, seolah jawaban yang diberikan Aurel saat di ruang tamu tadi tidak cukup. Aurel akan menjawab, namun Alfi lebih dulu membuka suara. "Aku ajak Aurel keluar, gak papa, kan, Dek?" Tak menduga kalau Alfi yang akan menjawab membuat Putri mengangguk dengan cepat. "Gak papa, kok, Kak! Bagus juga biar dia gak di rumah terus, kasihan, apalagi kan ini malam minggu," ucapnya diakhiri nada jahil. Setelah mengucapkan terima kasih, Alfi dan Aurel pun pamit untuk pergi. Aurel menyempatkan menjulurkan lidahnya lagi lalu menunjukkan senyum kemenangannya. Putri hanya bisa memutar matanya. Sampai di dalam mobil, Aurel baru menyadari kalau Alfi menggunakan warna baju yang sama dengannya. Mereka tampak seperti sepasang kekasih. Memikirkan itu membuat Aurel terkikik geli dalam hati. "Aku gak tau kamu suka naik mobil apa motor kalo lagi jalan, cuman malam ini dingin jadi aku bawa mobil," kata Alfi. Dari nada suaranya Aurel bisa menduga kalau lelaki itu sedikit grogi. Atau mungkin itu hanya perasannya saja? "Iya, Kak." Mobil Alfi membelah jalanan kota Jakarta di malam hari. Sesekali Aurel mencuri pandang ke arah Alfi yang fokus dengan kemudinya. Diam-diam gadis itu menikmati perjalanan ini dengan harapan waktu bisa berjalan lebih lambat. "Kita mau ke mana, Kak?" tanya Aurel, membuka pembicaraan. Ia memang tidak terbiasa diam dengan waktu yang lama. "Kamu mau ke mana?" "Kan, Kak Alfi yang ngajak," tukas Aurel dengan nada protes. Alfi terkekeh, sehingga Aurel langsung menunduk karena malu. "Nonton aja gimana?" Alfi menoleh pada Aurel sebelum kembali menatap ke depan. Aurel terlihat berpikir sebentar. Kalau menonton bioskop waktunya dan Alfi selama hampir dua jam akan dihabiskan tanpa berbicara. Tapi selama itu juga Aurel bisa mencuri kesempatan untuk bebas memandang wajah tampan cowok itu tanpa ketahuan. Dan lagi, bisa saja ada skinship-skinship lainnya yang bisa membuat hubungan mereka lebih dekat saat keluar dari gedung bioskop. Aurel tambah semangat setelah memikirkan itu semua dan kemungkinan-kemungkinan baik yang akan terjadi antara ia dan Alfi. "Kuyy! Aku cari jadwal filmnya, ya." Aurel lantas membuka ponsel, mencari jadwal film yang akan tayang malam ini. "Ini aja gimana, Kak?" ucap Aurel seraya menunjukkan layar ponselnya pada Alfi. Lelaki di sampingnya menoleh. "Kamu suka film horror?" "Nggak terlalu, sih, cuman gak papa, biar bisa modus." Alfi hanya tersenyum simpul mendengar kalimat terakhir gadis itu yang walaupuj sengaja dipelankan, masih bisa didengarnya. Sedangkan Aurel ikut tersenyum dengan canggung. Merutuki mengapa ia bisa sejujur itu. Lewat tiga puluh menit, Alfi dan Aurel sampai di dalam gedung bioskop. Alfi memesan tiket juga popcorn dan dua minuman soda untuk dirinya dan Aurel. Setelah itu mereka masuk ke dalam ruangan berbentuk kubus dengan seluruh dinding berwarna hitam itu. Aurel memangku popcorn, sementara Alfi duduk di sampingnya. Entah mengapa gadis itu merasa kalau ini adalah momen langkah sehingga ia pun berinisiatif untuk mengabadikannya. Aurel mengelurkan ponsel dari tasnya. "Kak," Aurel yang sudah siap dengan ponsel, menarik lengan baju lelaki di sampingnya. Alfi menoleh ke arahnya dan tanpa aba-aba Aurel menekan tombol pada benda pipihnya. "Bentar aku kirim," ucap Aurel kemudian. Ia lantas mengirimkan foto yang barusan ia ambil kepada Alfi. Alfi membuka ponselnya dan mendapati sebuah foto. Di sana terdapat Aurel yang tengah tersenyum manis ke arah kamera dan dirinya yang tidak berekspresi apa-apa tengah manatap wajah Aurel. Tanpa Aurel ketahui, Alfindiam-diam menatapnya lekat sampai seluruh lampu di ruangan itu dimatikan karena film yang akan segera mulai. "Udah mulai, Kak," bisik Aurel. Film ini lumayan menyeramkan. Aurel merutuki dirinya sendiri, kalau begini bagaimana ia bisa menjalankan rencananya untuk memandang wajah Alfi. Bahkan di menit-menit awal, ia harus menahan teriakan karena merasa malu. Namun pada menit ke-30, dengan adanya jumpscare sukses membuat Aurel berteriak kencang hingga popcorn di tangannya nyaris terjatuh kalau saja Alfi tidak dengan cepat menahannya. Lewat beberap detik baru ia menyadari tingkah refleksnya dan langsung menunjukkan cengiran pada Alfi meskipun ia tidak tahu apa lelaki itu bisa melihatnya atau tidak. Alfi menjulurkan tangannya, "kalau takut, genggam aja." Aurel meremas tali tasnya dan pasien pipinya mengeluarkan semburat merah. Mendengar ucapan Alfi yang santai namun canggung itu, rasanya Aurel ingin membuang popcorn di tangannya dan bergelayut di lengan kekar cowok itu. Tapi ia masih waras dan tidak cukup gila untuk melakukannya. Aurel lantas menjulurkan tangannya. Perlahan ia mengaitkan sebelah tangannya dengan tangan kiri Alfi. Telapak tangan cowok itu dingin karena suhu di ruangan tersebut, tetapi Aurel menemukan sedikit kehangatan di sana. Nyaman sekali. Mereka berdua menghabiskan waktu hampir dua jam lewat menonton film horror yang direkomendasikan Aurel. Sesekali Alfi harus merelakan tangannya digenggam dengan kuat oleh Aurel. Teriakan refleks Aurel juga terlalu melengking, sampai-sampai Alfi sedikit takut terjadi sesuatu dengan indra pendengarannya. Walaupun begitu, Alfi tidak bisa berbohong kalau ia sangat menikmati momen ini, bahkan saat Aurel terus berteriak waktu menonton, ia malah tersenyum karena genggaman gadis itu pada tangannya semakin erat. Setelahnya mereka keluar dari gedung bioskop bersama-sama. Aurel terus mengigit bibir dan menunduk. Terlalu malu untuk menatap Alfi akibat kekacauan yang ia buat di dalam tadi. Memang realita selalu berbanding terbalik dengan ekspetasi. "Kak, maaf, ya, tadi aku ngerepotin di dalem," ucap Aurel. "Santai, aja," ucap Alfi. Dari arah berlawanan tampak segerombolan anak laki-laki berjalan dengan sedikit rusuh. Saat mereka mulai dekat dan hendak berpapasan, Alfi langsung menggeser Aurel ke agak pinggir dan menggenggan tangannya. Perlakuan yang menurut Aurel gentle itu berhasil membuatnya meleleh seketika. Ia mengulum senyum malu-malu. Sampai mereka sudah lumayan jauh dari area bioskop pun, Alfi sama sekali tidak melepas genggamannya. Mungkin karena tatapan terharu Aurel pada tangan mereka berdua yang masih saling terkait, Alfi tersadar sehingga langsung melepaskannya. "Maaf," ucapnya, sungkan. "Nggak papa, Kak. Santai aja," kata Aurel, terpaksa harus menelan kekecewaannya. "Laper nggak?" Aurel menganggukan kepala sambil memegang perutnya. "Kita makan dulu, ayo." "Kak, aku pengen coba restaurant seafood itu boleh, nggak?" pinta Aurel saat ia dan Alfi melewati suatu resataurant yang ia ketahui seminggu lalu baru saja dibuka. Gadis itu sudah sangat ingin ke sana, tetapi selalu saja tidak sempat. "Boleh, ayo." Sepasang remaja itu memasuki restaurant dengan ruangan yang cukup luas namun memiliki interior yang sederhana. Mereka lantas memesan makanan masing-masing. "Katanya Kak Alfi suka udang, ya? Aku pesenin ini, ya?" kata Aurel seraya menunjukkan buku menu pada cowok di depannya. Ia lantas menyebutkan nama makanan itu pada pelayan yang berdiri di sampingnya. Kurang dari tiga puluh menit, pesanan mereka sudah tersaji di atas meja. Aurel menyempatkan mengambil gambar untuk ia unggah ke story instagramnya. "Kak!" panggil Aurel, dan saat Alfi menoleh, lampu dari ponselnya menyala. "Nggak akan ku-post, kok, tenang aja." Alfi dan Aurel lalu mulai menyantap makanan mereka. Alfi lebih banyak diam, ia terlihat seperti hendak berbicara tetapi terus mengurungkan niatnya. Berbeda dengan Aurel yang terus saja berceloteh. "Kak, aku mau rasain udangnya," ucap Aurel. Alfi lantas menyodorkan sepiring udah yang tadi Aurel pesankan untuknya. Makanan itu sama sekali belum terasentuh. "Enak banget! Kak Alfi harus coba." Aurel mangambil sepotong udang baru dengan garpu, lalu menyodorkan pada cowok itu. Alfi terdiam. Ia menatap bergantian Aurel dan sepotong udang di depannya. Bingung harus melakukan apa. Aurel yang menyadari tingkah tak sopannya refleks menarik tangannya cepat. "Eh, ma-" Dan secepat itu pula Alfi mencengkram tangan Aurel lantas memakan udang yang disodorkan cewek itu. Sekarang gantian Aurel yang terpaku. Tangannya gemetar seketika, dan jantungnya berdentum menimbulkan irama yang tidak jelas. "Ehm ..., enak?" Alfi tersenyum dan mengangguk. "Enak." Aurel pun ikut menarik sudut bibirnya. ??? "Makasih, Kak." Saat ini Aurel dan Alfi sedang berdiri di teras rumah gadis itu. "Kamu masuk, gih." Aurel menganggukan kepalanya. Lalu berjalan masuk ke dalam. Sampai di depan pintu, ia berbalik dan melambaikan tangan pada Alfi yang juga ikut melakukan hal yang sama. Setelah Aurel menghilang di balik pintu, Alfi berbalik dan berjalan menuju mobilnya dengan memain-mainkan kunci yang ada di tangannya. Tersenyum simpul.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN