Jam terus bergerak. Aurel pun juga sama. Matanya bergerak dari kiri ke kanan mengikuti tiap kalimat yang dibacanya. Tangan kanan dengan lincah menulis dan tangan yang lainnya sibuk di atas touchpad laptop.
Gadis itu harus berterimakasih pada Syabila karena sudah membagikan tips belajar menggunakan teknik pomodoro, sehingga ia bersemangat sekali seperti sekarang. Padahal biasanya, ia cuma bersantai-santai di tempat tidur dan memainkan benda pipih persegi panjang.
Bunyi bip bip terdengar. Aurel menggeser buku-buku yang menimbun ponselnya dan mematikan dering timer di sana, lantas menyetel lagi timer selama sepuluh menit.
"Akhirnya," Ia meregangkan kedua tangan selama beberapa saat, menyempatkan untuk menguap, dan diakhiri menghilangkan dahaga dengan meminum air yang ia ambil dari pojok meja belajar.
Gadis itu mengambil ponsel dan memeriksa satu persatu akun sosial media miliknya. Dari w******p yang hanya ada pesan dari grup keluarga, sementara Line yang penuh dengan bacotan teman-temannya di grup kelas. Setelah membalas semua pesan, ia membuka Twitter dan menggulir timeline-nya, lantas membuka Youtube dan menonton satu video yang baru saja di-upload youtuber favoritnya.
Masih ada empat menit sebelum waktu break-nya selesai. Aurel pun memutuskan untuk membuka aplikasi yang paling sering dimainknnya. i********:, tentu saja.
Aurel melihat story teman-temannya sampai pada suatu ketika, suara yang sangat tidak asing masuk ke dalam indra pendengarannya. Bahkan tanpa melihat username-nya pun ia sudah mengetahui siapa pemilik suara itu.
Tanpa menunggu lama, gadis itu langsung mengetik pesan sebagai balasan story tersebut.
aureliaaa_
Keren, kak wkwk
Boleh ngerequest ga?
Aurel membaca ulang pesan yang telah ia kirimkan sambil menyunggingkan senyum tipis. Sedetik kemudian, layar ponselnya berganti menjadi pemandangan laut yang di tengah-tengahnya terdapat angka.
Menyempatkan menarik napas panjang dan meneguk lagi air dari gelas, sebelum akhirnya perempuan itu melanjutkan kegiatan belajarnya. Walaupun sempat tak fokus, tetapi Aurel tetap berusaha agar ia bisa melupakan hal-hal lain sejenak.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Dan sudah dari beberapa menit lalu denting timer dari ponselnya berbunyi.
Namun, Aurel tetap bersih keras menyelesaikan soal di depannya. Saat dirasa sudah mendapatakan jawaban yang sesuai, barulah ia melepas pensil yang sedari tadi ia apit di antara kedua jari mungilnya.
"Akhirnya," ucapnya lagi sambil meregangkan tangan dan diakhiri dengan menguap lebar.
Gadis itu langsung merapikan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu ia membawa ponselnya menuju ke kasur yang saat ini terlihat seperti surga dunia.
Berniat membuka ponsel hanya untuk mengecek notifikasi, tetapi sepertinya rasa kantuk lebih medominasi. Ia pun akhirnya terlelap.
???
Aurel menggerakkan tubuhnya untuk duduk. Rambutnya tergerai acak-acakkan yang sebagian menutup hampir seluruh wajah. Ia meraih ponsel, menyalakannya, dan melihat jam. Lalu membuang ponsel itu asal dan kembali menarik selimut menutupi tubuhnya.
Selang beberapa detik, ia membuka matanya. Mencari ponsel dan langsung menyentuh notifikasi yang muncul di layar utama. Ponselnya kini berpindah pada tampilan direct message aplikasi Instaram. Di sana tampak dua pesan masuk dari Alfi.
alfimahendra
Wkwk, makasih, dek.
Boleh kok boleh. Mau request lagu apa?
Melihat icon bulat kecil berwarna hijau di dekat profil itu, membuat Aurel tambah bersemangat.
aureliaaa_
Dari hatinya club eighties kak, sama little thingsnya one direction.
Tak berapa lama, muncul tanda 'mengetik' yang langsung disambut Aurel dengan senyum lebar. Matanya yang tadi masih sedikit mengantuk kini terbuka sangat lebar.
alfimahendra
Ok
Hanya satu kata dan mampu membuat Aurel semakin semangat ke sekolah setelah ini.
"Moodbooster banget asli!" teriaknya, langsung bangun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.
Kurang lebih satu jam Aurel sibuk dengan rutinitas paginya. Tas dan sepatu sudah dipakai. Ia menggenggam ponsel lalu meraih jaket di gantungan belakang pintu.
"Bahagia banget kelihatannya," kata Ibunya saat Aurel sampai di ruang makan. Gadis itu hanya tersenyum, sengaja membuat wanita paruh baya di depannya penasaran.
???
Aurel berlari dengan tergesa-gesa masuk ke kelasnya. Ia duduk di bangku dan dengan cepat mengeluarkan earphone dari dalam tas. Sedetik kemudian wajahnya sudah berubah serius. Sama sekali tidak bernapas, terlalu fokus dengan apa yang sedang didengarnya.
Dion menghampiri Aurel, bertepatan dengan gadis itu yang melepas sebelah earphone. "Lembut banget anjerr!" ucap Autel lebih kepada diri sendiri sembari menidurkan badan di atas meja.
"Apaan sih lo!" kata Dion—yang masih berdiri— menatap aneh gadis di depannya.
Aurel yang pikirannya belum beralih dari sesuatu yang baru saja didengarnya, sama sekali tidak sadar akan pria yang baru saja mengatainya.
"Woi! woi!" ucap Dion lagi sambil mendorong pelan bahu Aurel. Saat gadis itu sudah duduk tegak, Dion kembali melanjutkan. "Lo kenapa, sih?"
"Apanya yang kenapa?" Aurel balik bertanya dengan sebelah alis terangkat.
"Ngapain coba lo barusan? Kek orang kemasukan aja."
"Ih, gue itu lagi dengerin Ka Alfi ngecover tau! Demi apa anjirr, suaranya keren banget, yang dinyanyi lagu requestan gue lagi. Kan aku gak kuat," kata Aurel heboh, dengan pengakhiran yang dramatis.
Dion menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendudukkan diri di samping Aurel. "Bucin, bucin. Masih pagi, Rel."
"Biarin! Coba sini denger," Aurel memberikan sebelah earphone-nya pada Dion. Lalu keduanya terdiam, mendengar suara Alfi dari ponsel Aurel.
Aurel tampak mengamati Dion. Menunggu perubahan raut wajah dari cowok itu. Tapi, sampai selesai pun Dion sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Gimana, gimana?" tanya Aurel saat Dion melepas earphone
"Gue duduk di sini bareng lo, ya. Syabil gak masuk, sakit."
"Hah? Sakit apa?"
"Ya, mana gue tau. Demam, sih, katanya."
Aurel mengangguk. "Eh, tapi jawab dulu. Gimana suara Kak Alfi?" kejar Aurel.
"Bagus."
Aurel mendengus. "Masa bagus doang, sih? Ah, ga asik lo!" Perempuan itu akhirnya memilih untuk menghubungi Syabila, berniat menanyakan alasan ketidakhadiran temannya itu.