Lily menutup tirai besar untuk menutupi jendela besar yang menjulang tinggi di dalam kamar Ben sementara Ben yang baru saja menyelesaikan melukisnya langsung bergegas menaiki ranjang empuk miliknya. Tentu saja sebelumnya ia sudah bersih-bersih sebelum benar-benar siap untuk tidur. Sebelum menutup tirai, Lily masih bisa melihat mobil yang semakin malam semakin ramai berdatangan karena pemandangan dari jendela kamar Ben langsung ke arah halaman depan mansion. Di dalam mansion sekarang pasti sudah sangat ramai oleh rekan-rekan bisnis Dean. Samar-samar dari kamar Ben, Lily bisa mendengar suara musik klasik yang dimainkan.
"Apakah tuan sering mengadakan pesta seperti ini?" tanya Lily berbalik menatap Ben yang kini sedang duduk menyandar di kepala ranjang.
"Tidak juga, ayah biasanya hanya merayakan pesta hari jadi perusahaannya." Lily mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Ia juga tadi mendengar sepintas lalu bahwa acara yang diadakan Dean malam ini adalah hari jadi perusahaannya yang ke 7 tahun. Baru 7 tahun saja, usaha yang dirintis Dean itu sudah luar biasa sukses hingga menjadikannya sebagai salah satu pengusaha tersukses di New York.
"Apakah Tuan Muda tidak ingin bergabung?" tanya Lily. Ia mendekati Ben untuk memperbaiki posisi selimut yang menutupi tubuh Ben.
"Ayah tidak pernah mengajakku ikut berpesta." Lily menutup mulutnya yang dengan lancangnya bertanya seperti itu. Ia merutuki dirinya dalam hati yang selalu saja lupa bahwa hubungan ayah dan anak ini tidak seperti hubungan orang-orang di luar sana. Namun jika dipikir-pikir, bukankah Dean sangat keterlaluan? Ben adalah anaknya satu-satunya, Ben juga anak laki-laki yang mana nanti akan meneruskan semua usaha yang sedang ia rintis sekarang. Bukankah harusnya ia memperkenalkan putranya kepada orang-orang? aneh sekali.
"Tuan pasti tidak ingin Tuan Muda merasa lelah karena pesta pasti akan sangat melelahkan dan terlalu ramai oleh orang-orang dewasa," kata Lily berusaha menenangkan apalagi setelah melihat wajah tampan Ben mendadak murung. Ah terkutuklah Lily yang melontarkan pertanyaan yang membuat anak ini sedih.
"Jawaban Bibi sama persis dengan yang dikatakan bibi Laurent dulu." Lily tersenyum. Apakah ibunya dulu juga menggunakan cara yang sama untuk menenangkan hati Ben?
"Bolehkah bibi memberi saran?" Ben memicingkan matanya sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Ia terlihat siap mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Lily. Lily berlutut di samping ranjang Ben kemudian menggenggam kedua tangan anak itu penuh sayang.
"Meskipun tuan Dean selama ini cenderung bersikap dingin pada Tuan Muda, tapi Tuan Muda tidak boleh berpikir sesuatu yang buruk, tuan Dean tidak mungkin membenci putranya. Lihatkan bagaimana tuan Dean yang bekerja setiap hari? dia bahkan pulang sangat larut malam. Terkadang ada orang-orang yang memang tidak bisa mengeskpresikan rasa sayangnya melalui ucapan ataupun tindakan. Mungkin tuan Dean salah satu diantaranya. Yang terpenting, tuan Dean pasti sebenarnya sangat menyayangi Tuan Muda," Lily berucap sangat tulus. Sungguh ia ingin anak manis ini berhenti berpikir bahwa ayahnya membencinya. Lily tidak tahu apa saja yang sudah ia lewati, namun Lily ingin sekali melihat hanya ada keceriaan dalam hidupnya apalagi diumurnya yang masih kecil begini.
"Terima kasih Bibi. Aku tahu bahwa sebenarnya ayah sangat menyayangiku." Ben tersenyum kecil membuat Lily ikut tersenyum. Perasaannya menghangat seketika. Ben benar-benar anak yang sangat baik. Ia bahkan mendengarkan Lily tanpa merasa bahwa Lily ikut campur atau sebagainya.
"Baiklah, kalau begitu sudah waktunya Tuan Muda untuk tidur karena besok kita masih harus berangkat ke sekolah."
"Ah kapan libur musim dingin datang, aku sudah ingin libur." Ben menutup wajahnya dengan selimut secara sempurna membuat Lily terkekeh. Sejak kapan anak yang terlihat rajin dan selalu mengisi hari-harinya dengan kegiatan ini terlihat jengah dengan sekolah dan ingin segera berlibur itu?
"Bukankah Tuan Muda sangat suka berkegiatan. Tuan Muda bahkan mengikuti les ini dan itu seolah tidak pernah merasa lelah ataupun malas."
"Malas itu sangat manusiawi Bi, selama aku tetap menjadi manusia, tentu saja aku pernah merasa malas," sahut Ben di balik selimutnya membuat tawa Lily pecah. Entah mengapa jawabannya sangat lucu terdnegar oleh Lily meskipun nadanya datar saja.
"Baiklah, selamat malam Tuan Muda."
"Selamat malam Bibi Lily."
Llily melenggang keluar dari kamar Ben. Setelah menutup pintu secara sempurna, Lily semakin bisa mendengar suara berpesta di lantai satu mansion yang sudah disulap menjadi tempat berpesta. Lily berjalan ke pagar pembatas lantai 3 dimana kamar Ben berada untuk melihat jauh ke bawah. Terlihat cukup ramai oleh orang-orang berjas rapi yang tengah berbincang-bincang satu sama lain membentuk kerumunannya sendiri sembari meminum minuman-minuman terbaik yang sudah di siapkan oleh Dean. Lily dengar-dengar, Dean juga memiliki usaha club, jadi pasti persediaan minuman berkualitas terbaiknya sangat banyak.
Sepertinya pesta mewah seperti ini sangat penting bagi orang-orang kelas atas seperti Dean. Mereka pasti berlomba-lomba untuk saling memperlihatkan hasil kesuksesannya selama ini. Sejujurnya Lily selalu takjub saat melihat orang yang memiliki kekayaan yang luar biasa. Bagi Lily pasti mereka sangat bekerja keras untuk mencapai titik puncak seperti itu. Namun kesempatan kaya tidak dimiliki oleh semua orang. Ada orang-orang yang sudah bekerja keras mati-matian, namun yang ia dapatkan hanya pas untuk melanjutkan hidup. Mungkin kunci utama ketenangan hidup adalah rasa syukur. Lily juga tidak yakin apakah orang-orang kaya di bawah sana yang tengah berpesta bisa merasakan kebahagian dalam hidupnya. Lily menggeleng pelan menyadarkan dirinya sendiri dari lamunan yang malah sibuk memikirkan tentang kehidupan orang lain.
Gadis berparas cantik itu berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dua dimana kamarnya berada. Tentu saja ia memasuki lift yang bisa ia masuki. Ia tidak mungkin menaiki lift khusus untuk tuan besar di rumah ini seperti kesalahannya saat itu. Ah mengingat kejadian itu membuat Lily kembali teringat pada sosok Dean tepatnya pertemuannya dengan Dean tadi pagi. Kenapa Dean menatapnya sangat intens seperti itu? apakah Dean sadar bahwa ia hampir membunuh Lily dengan tatapannya yang membuat sekujur tubuh Lily hampir lumpuh? Dan kenapa pula ia bertanya tentang warna mata Lily? ya memang, mungkin bagi orang-orang di Amerika, warna matanya sangat unik. Bahkan dulu saat masih berkuliah, tidak jarang para pria memujinya secara terang-terangan bahwa matanya indah dan langsung merasa jatuh cinta saat pertama kali menatapnya. Tapi rasanya tidak mungkin seorang seperti Dean Davies juga tertarik pada matanya. Lily kembali menggelengkan kepalanya untuk mengusir sosok Dean dari pikirannya.
Saat lift berdenting, Lily langsung keluar dari lift dan menyusuri lorong-lorong untuk menuju kamarnya. Sesekali ia masih melirik ke lantai satu dimana pesta itu semakin jelas terlihat. Ia sengaja berjalan di pembatas pagar lantai dua agar sesekali bisa mengintip orang-orang tengah berpesta. Tapi sejauh matanya memandang, ia belum menemukan sosok Dean.Tapi pastinya Dean adalah salah satu orang yang berada di kerumuman itu.
Langkah Lily sedikit melambat, serta matanya sedikit memicing saat pandangannya menangkap sosok pria yang tengah bersandar pada salah satu pilar besar pembatas pagar sembari menyesap rokoknya dan meniup asapnya ke udara. Dari setelan jas rapinya, sepertinya ia adalah salah satu tamu Dean. Tapi apa yang ia lakukan disini? apakah dia ingin menepi dari pesta untuk merokok?
Lily melanjutkan langkah, ia sengaja mengambil jalan agak jauh untuk melewati orang itu. Saat berjalan di hadapannya, Lily langsung menunduk sopan sembari terus berjalan tanpa menatapnya. Tapi mungkin baru sekitar 5 langkah Lily berjalan melewatinya, tiba-tiba tangannya ditahan membuat Lily langsung menoleh kaget. Orang yang tadi kini sudah tepat berada di samping Lily sembari mencengkram pergelangan tangan Lily kuat.
"Ma.. maaf, lepaskan tangan saya Tuan," kata Lily sembari berusaha melepaskan cengkraman tangannya. Tapi bukannya terlepas, tangan yang berukuran jauh lebih besar dari tangan Lily itu bahkan mencengkram tangannya lebih kuat membuat Lily meringis merasa pergelangan tangannya sakut.
"Wah, dimana Dean mendapatkan pelayann secantik dirimu?" Lili memalingkan wajahnya saat pria itu menatapnya dari jarak yang sangat dekat. Lily bisa mencium aroma alkohol yang cukup menyengat dari mulutnya. Sepertinya ia sudah mulai mabuk.
"Lepaskan tanganku."
"Tenanglah, aku tidak akan melukaimu. Pesta itu agak membosankan, bagaimana kalau kita bersenang-senang." Pria itu menyengir seram membuat Lily kini merasa benar-benar takut. Ia melihat ke sekeliling, tidak ada satu orang pun.
"Lepaskan aku atau aku akan berteriak."
"Wah, kau cukup berani ternyata. Silahkan jika ingin berteriak, tapi tidak ada gunanya, tidak akan ada yang mendengar. Lebih baik kau berteriak di atas ranjang bersamaku." Pria itu kembali menyeringai. Ia langsung menarik tangan Lily membuat Lily memberontak sekuat tenaga.
"Lepaskan aku... kau tidak bisa melakukan ini.. tolong..." seolah menulikan indra pendengarannya, pria bertubuh tinggi besar itu terus menarik tangan Lily. Matanya mengedar melihat ruangan-ruangan yang ada di lantai ini untuk mencari tempat yang tepat. Lily terus memberontak, ia bahkan memukul-mukul lengan pria itu dengan satu tangannya yang masih bebas.
Pria itu tersenyum puas saat melihat satu kamar di ujung ruangan, ah itu adalah kamar Lily. Ia membuka pintu itu dengan tidak sabaran kemudian menghempaskan tubuh Lily ke atas ranjang membuat Lily memekik. Lily langsung bangkit untuk bersiap lari, namun tenaganya tidak ada apa-apanya dibanding pria itu membuat Lily merasa semakin takut. Air matanya mengalir, ia tidak bisa lari kemanmana sekarang.
"Tolong lepaskan aku," isak Lily.
"Sssttt.. tenanglah, aku jamin kau akan suka."
"Brengsekk!"
bughhhhh....
Seseorang menarik rambut pria menjambaknya hingga tersungkur ke lantai kemudian melayangkan pukulannya tepat di pelipisnya. Serangan secara tiba-tiba membuat pria itu sama sekali tidak bisa mengelak. Mata Lily membelalak sempurna melihat siapa yang datang. Ia tidak menyangka bahwa ada yang datang menyelamatkannya, dan orang itu adalah Dean Davies.
"Dean? apa yang kau lakukan?" tanya pria itu setelah bisa melihat jelas bahwa orang yang baru saja menyerangnya adalah Dean. Kepalanya bahkan sekarang terasa sangat pusing, Dean sepertinya mengerahkan semua tenaganya dalam satu pukulan itu.
"Aku? seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang sedang kau lakukan?"
"Come on Dean. Aku hanya ingin bersenang-senang dengan salah satu pelayanmu."
Bughhh....
Baru saja pria itu ingin berusaha berdiri, namun Dean kembali memberikannya pukulan yang kembali membuatnya tersungkur. Lily menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya melihat Dean terlihat sangat murka. Ini untuk pertama kalinya ia melihat orang berkelahi di depan matanya.
"Pergilah sebelum aku membunuhmu." Dean berkata sangat dingin, ungkapan ancaman itu seolah biasa saja keluar dari mulutnya.
"Ah kenapa kau menjadi teman b******n seperti ini? kau bahkan punya pelayann yang lain jika kau juga ingin bersenang-senang. Aku hanya menginginkan pelayanmu yang cantik itu saja." Dalam keadaan mabuk, ucapan pria itu melantur kemana-mana. Dean yang semakin geram langsung menarik kerahnya hingga membuat pria itu langsung berdiri.
"Pelayanku memang banyak, tapi yang satu ini adalah milikku. Jangan pernah menyentuhnya jika kau ingin selamat, mengerti?" bisik Dean.
"Me.. mengerti. Lepaskan, aku bi.. bisa mati." Pria itu berbicara dengan tersendat-sendat karena lehernya dicengkram oleh Dean. Ia bahkan merasa sangat kesulitan untuk bernafas. Dean melepaskan cengkramannya, dengan cepat pria itu langsung pergi. Meskipun ia sedang mabuk, namun ia masih cukup sadar bahwa dirinya dalam bahaya sekarang. Ia yakin satu kalimat saja keluar dari mulutnya, Dean bisa dengan mudah mengirimnya ke neraka.
Dean menghela nafas kasar setelah si pembuat masalah itu datang. Ia kemudian mengalihkan pandangannya menatap Lily yang terduduk di ranjangnya dengan badan yang bergetar menunduk takut. Sepertinya ia masih sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi. Tadi saat edang berbincang-bincang dengan tamu-tamunya, Dean tidak sengaja menangkap sesuatu yang aneh di lantai dua yang bisa terlihat dari posisi ia berdiri saat itu. Awalnya ia hanya memperhatikan apa yang terjadi, namun saat melihat gadis yang ia ketakui merupakan pengasuh Ben itu ditarik paksa oleh seseorang membuat Dean langsung meninggalkan pestanya dan menghampiri orang itu.
Lily yang menunduk bisa merasakan bahwa Dean melangkah mendekatinya. Ia bisa melihat sepatu Dean pertanda bahwa Dean sudah berdiri tepat di depannya. Lily masih merasa takut untuk mendongakkan kepalanya, namun sesaat kemudian tangan Dean terulur untuk menarik pelan dagu Lily agar gadis itu berhenti menunduk dan balas menatapnya. Akhirnya Lily menatap Dean, matanya masih berair usai menangis karena ketakutan tadi.
"Lain kali jika dalam bahaya berteriaklah sekuat yang kau bisa," ucap Dean dengan nada datar nan dingin, namun entah mengapa malah terasa begitu menenangkan bagi Lily hingga tanpa sadar air matanya kembali menetes.
"Te.. terima kasih Tuan."
Bukannya mendengar balasan dari Dean, mata Lily kembali dibuat membesar sempurna saat Dean tiba-tiba menunduk dan mencium bibirnya. Dalam pikirannya yang masih dalam keadaan sadar sempurna, rasanya ingin sekali Lily mendorong tubuh Dean. Apa yang dilakukannya? bukankah dia baru menolong Lily dari seseorang yang ingin melecehkannya? namun mengapa malah sekarang Dean yang mencium bibirnya bahkan Lily bisa merasakan ia melumat bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Jari-jari Dean bahkan masih menahan dagu Lily.
Ciumannya hanya berlangsung beberapa saat, setelah itu Dean menjauhkan dirinya dari Lily membuat Lily tidak berani menatap Dean. Ia ingin sekali memaki sikap lancang Dean, namun tidak satupun kata keluar dari mulutnya.
"Aku tidak pernah melakukan apapun secara cuma-cuma, jadi aku anggap itu sebagai imbalan karena sudah menolongmu." Setelah mengatakan itu, Dean langsung berlalu pergi keluar dari kamar Lily. Saat Dean berbalik, Lily baru berani melihat punggung itu yang semakin jauh pergi. Lily menggeram kesal usai kepergian Dean. Ia baru saja berpikir bahwa Dean adalah orang yang baik di balik sifat dinginnya, tapi ternyata dia tidak kalah buruknya dari pria tadi. Ia selalu mencari keuntungan dari orang lain. Lily mengusap kasar bibirnya menghilangkan jejak Dean disana. Ia sepertinya harus lebih berhati-hati pada Dean.