Dua Puluh Delapan-Masih Ada Penghalang

1916 Kata

Audrey memasang wedges abu-abu di kaki sebelah kiri. Setelah itu berdiri dari posisi jongkoknya lalu berjalan keluar kamar karena waktu telah berjalan dengan cepat. Baru beberapa langkah keluar kamar, dia kembali berjalan mundur. Tali tas slempangnya mengenai knop pintu, membuat langkahnya tertahan. Hal yang sering terjadi saat dia sedang buru-buru, ceroboh. “Ck!” gerutunya sambil menarik tali itu. Setelah tak ada yang menghalangi, Audrey melanjutkan langkah. Dia berjalan menuruni tangga dengan tangan berpegangan di pembatas. “Wah saya jadi nggak enak pagi-pagi udah ngerepotin Tante sama Om.” Langkah Audrey terhenti saat mendengar suara tak asing itu. Dia berjalan ke ruang makan untuk membuktikan apa yang dia dengar. Pandangannya lalu tertuju ke lelaki berkemeja biru dongker yang duduk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN