Sepanjang jalan Jeani terus-terusan telepon Dewi. Dia ingin tahu apa yang terjadi dengan Andien tetapi Dewi belum bisa memberikan penjelasan karena Lina yang menemani Andien belum bisa dihubungi. Sentuhan lembut tangan Rizal di bahunya menyadarkan Jeani bahwa dia tidak sendirian. Ada sosok yang peduli padanya walaupun dia belum tahu tujuan Rizal sebenarnya. “Tenanglah. Aku yakin dokter akan memberikan pertolongan sesuai kemampuan mereka. Jangan lupa, kau juga seorang dokter jadi aku yakin kau lebih paham.” “Atau kau memperoleh gelar dokter dengan cara yang lain?” ejek Rizal. “Gak lucu, Mas. Ucapanmu yang menghina itu tidak akan berhasil. Aku adalah orang yang paling tahu bagaimana aku berjuang dengan benar agar bisa mendapatkan gelar dokter,” jawab Jeani ketus. “Tapi terima kasih kar

