Suasana yang penuh keakraban harus berakhir pada saat Andjani harus kembali ke daerah tempat dia menempuh pendidikan. Seperti biasa, Dewi sudah sibuk dengan segala pesan dan petuah yang harus Andjani ingat hingga Andien yang mendengarnya bosan. “Bu, Jeani udah besar lagi pula, masa ibu gak percaya sama, Jeani. Kalau sama aku ibu bisa kasih pesan berentet seperti itu,” keluh Andien. “Ibu tahu. Memangnya salah kasih nasihan yang baik untuk anak sendiri,” sahut Dewi membuat Andien mencibir secara sembunyi. “Kamu naik pesawat atau kereta api, Jean?” tanya Andien. “Pesawat. Kan ada Ayah yang kasih uangnya,” jawab Andjani tertawa. “Memangnya ayah gak kasih uang sama kamu waktu kembali kemari?” Suara Andi terdengar dari arah luar kamar disusul dengan kemunculan dirinya di depan pintu kamar

