Say It!

2350 Kata
SETELAH beradu argumen panjang dengan Andra. Vio pamit untuk kembali kekamarnya. Tapi Vio bukan kembali kekamarnya, melainkan kekamar papa dan bundanya. "Bunda, Bunda jujur deh. Andra ada nelpon bunda gak?" Tanya Vio untuk yang ketiga kalinya. "Bunda gak mau jawab." "Papa." Rengek Vio. "Papa juga gak mau jawab." Jawab papa Vio sambil membaca email di iPadnya. Vio mengendus kesal. "Kenapa gak ada yang mau jawab pertanyaan Vio?" Pekik Vio kesal. "Karna itu rahasia Vio." "Kenapa rahasia? Vio tau kok Andra nelpon papa sama bunda buat apa. Vio cuman nanya Andra udah ada nelpon atau belum." Cerca Vio panjang. "Karna Vio udah tau kenapa Andra nelpon makanya bunda mau rahasiain Andra udah ada nelpon atau enggak." Kata bundanya sambil terkekeh. "Yaudah kalau gitu!" Pasrah Vio. Vio manaik turunkan jarinya dibenda persegi panjang mencari nama Andra dikontaknya. Tapi tidak ada, Vio baru ingat jika dia dan Andra belum saling bertukar nomor telpon lagi. "Nyari apa Vio, kayaknya gak ketemu dari tadi." Tanya bunda Vio. "Gak ada! Bunda kenapa nanya-nanya Vio!" Ujar Vio sambil memanyunkan bibirnya. "Papa, papa Nerima pegawai magang gak diresort Papa?" Tanya Vio asal. "Saat ini enggak. Kenapa? Dosen farmasi mau magang di resort papa?" Tanya papa Vio. Papa Vio memiliki resort yang besar dibali, sedangkan bundanya punya beberapa usaha seperti butik dan bakery juga toko yang menjual segala macam benda khas Bali. Orang tua Vio bisa dibilang berada dan berkecukupan, bahkan juga bisa dikategorikan kaya.Tetapi Vio memilih jalannya sendiri, Vio mengambil kuliah Farmasi untuk S1 dan S2 nya. Sehingga kini dia menjadi seorang dosen. "Enggak, bukan Vio Pa." Jawab Vio singkat "Jadi?" "Andra." Bunda dan papa nya saling bertatapan. "Udah baikan sama Andra?" Tanya bunda Vio. "Udah, tadi Vio habis curhat-curhatan. Ihh bunda sama papa udah pikun, tadi kan Vio bilang kalau Vio tau kenapa Andra nelpon." "Ya bunda fikir belum baikan, kamu cuman sekedar tau aja." "Papa, kalau seandainya Andra minta izin ke papa buat nikahin Vio. Papa gimana?" Tanya Vio mengabaikan pemikiran bundanya. "Ohh udah balikan." Ejek bunda Vio. "Bukan balikan nda, kalau seandainya." "Papa terserah kamu dan Bunda. Diluar permasalahan dia beberapa tahun lalu, Papa lihat dia anak yang baik, selama ini Papa taunya dia laki-laki yang dekat dengan kamu. Dan dia terhitung mampu menjaga kamu, ya walaupun kamu kebanyakan nangisnya kalau sama dia." Terang papa Vio. Vio tersenyum lembut. Ya memang selama 10 tahun ini hanya Andra satu-satunya laki-laki yang bertahan lebih dari sebulan dengannya. Bukan karena apapun. Tapi karna laki-laki yang mendekati Vio akan takut jika berhadapan dengan Andra. Vio mengalihkan pandangannya pada bundanya. "Kalau Bunda gimana nda?" Tanya Vio pada bundanya. "Bunda setuju sama pendapat papa. Bunda gak masalah sama permasalahan dia, asal dia gak bikin kamu nangis lagi dan lagi. Bunda gak masalah." Kali ini Vio benar-benar sudah bernafas lega. Sebelumnya dia takut, jika nantinya kedua orang tuanya tidak mau menerima pinangan Andra padanya karna permasalahan nya beberapa tahun lalu. Ya permasalahan Andra dan Kiara. "Andra ngajak nikah Vi?" Tanya Papa Vio. "Enggak!" Jawab Vio salah tingkah. "Berarti makan siang besok sekalian Andra mau ngomongin itu?" Ujar Papa Vio menanggapi salah tingkah Vio. "Kok, berarti Andra udah nelpon Papa sama bunda?" Pekik Vio sambil membulatkan matanya. "Udah Vio." Ucap bunda. "Bunda jawab apa?" Tanya Vio Bunda Vio tidak menjawab tetapi hanya tersenyum penuh makna. ••••• Besoknya sesuai janji, Andra makan siang bersama Vio dan orang tua Vio. Andra tidak terlalu ambil pusing tentang makan siang ini begitu juga dengan orang tua Vio, tetapi tidak dengan Vio. Vio merasa makan siang kali ini serasa sedang uji nyali baginya. Mereka menikmati makan dengan tenang, setelah nya Andra berbincang-bincang dengan papa Vio entah itu tentang bisnis atau tentang berita politik yang sedang panas saat ini. Tak hanya Papa Vio, tetapi bunda Vio juga masuk kedalam pembicaraan itu. Vio? Sedang menjaga jantungnya agar tetap berdetak sampai makan siang ini usai. "Vi." Vio bergumam sambil menoleh pada Andra. "Apa an?" Tanya Vio setelahnya. "Tolong ambilin paket aku di resepsionis." Ucap Andra pada Vio memerintah. "Paket? Paket apa?" Tanya Vio "Liat aja sana." "Tapi bentar, kenapa aku yang ngambil? Kan paket itu paket kamu bukan paket aku." "Tolong." Ucap Andra lagi. Vio menatap tajam Andra. "Aku benci kamu An, sumpah gak bohong!" Ucap Vio kesal sambil berdiri dan berlalu pergi. Papa dan bunda Vio hanya menggelengkan kepala mereka melihat putri semata wayangnya itu. Vio sangat kesal saat Andra menyuruhnya tapi dia tetap melakukannya. Selalu begitu, sejak 10 tahun lalu. "Jadi gimana Andra?" Tanya Papa Vio sambil menyeruput kopi nya. "Andra masih punya tujuan yang sama om. Andra masih mau izin om dan tante untuk boleh menikahi Vio." Ucap Andra mantap. "Jawaban Vio?" "Vio udah jawab mau, tapi dengan masa percobaan 3 bulan om." Ucap Andra sambil menggaruk alisnya yang sama sekali tidak gatal. Papa dan Bunda Vio menatap Andra bingung. "Andra juga bingung, padahal Andra ngelamar buat jadi suami Vio. Tapi Vio minta masa percobaan 3 bulan. Katanya Vio mau lihat keseriusan Andra." Terang Andra. Papa dan Bunda Vio menganggukkan kepalanya. "Jadi kamu gimana? Gak masalah?" Tanya bunda kali ini. "Asal Vio mau terima Andra, Andra gak masalah kok Tante." Ujar Andra sambil tersenyum. Sebenarnya papa dan Bunda Vio berkomunikasi baik dengan Andra saat Vio memilih pergi 2 tahun lalu. Andra sangat sering pergi ke Bali hanya untuk melihat keadaan Vio. Dan jika ke Bali, Andra akan selalu mengunjungi Papa dan Bunda Vio di resort Papa Vio. Tentu saja hal itu dilakukannya tanpa sepengetahuan Vio. Kedua orang tua Vio juga sudah mengetahui jika Andra sudah berapa kali meminta Vio anak mereka menjadi istrinya. Andra sudah menyampaikan semuanya pada Papa Vio sejak dua tahun lalu. Mereka hanya pasrah akan keputusan Vio dan Andra tidak masalah akan itu. Perihal Andra minta nomor orang tua Vio, hanya tipuan. Andra tau nomor telpon orang tua Vio, bahkan dia hapal. Tapi hari itu Andra sengaja menghapus nya. Andra ingin melihat bagaimana respon Vio padanya. Bagaimana respon Vio saat Andra meminta nomor orang tua nya. ••••• Disisi Vio, Vio sedang berjalan kearah resepsionis sambil mengomel dan menggerutui kebodohannya yang selalu mau menurut apa kata Andra. "Mbak, saya mau ambil paket atas nama Andra." Ucap Vio saat tiba di resepsionis. Resepsionis tersenyum seraya meminta Vio untuk menunggu sebentar. Dengan rasa malas dan kesal Vio menunggu paket Andra yang sedang diambil. Vio membulatkan matanya terkejut saat melihat benda yang diberikan oleh resepsionis pada Vio. Bucket bunga mawar putih yang berukuran lumayan besar dan sebuah kotak kecil berwarna tosca memenuhi pandangannya. "Ini paket atas nama pak Andra, Bu." Ucap resepsionis tersebut. "Gak salah mbak?" Tanya Vio memastikan. "Tidak Bu." Ucap resepsionis tersebut sambil tersenyum. Vio menatap kedua benda itu dengan seksama. "Dia mau ngasih siapa? Gua? No, no, no Vio. Jangan berharap, kalau jatuh sakit." Batin Vio dalam hati. Vio melihat bucket bunga yang dipegangnya, tertulis namanya disana. Seketika otak yang digunakan saat kuliah berkerja. "Bentar bentar. Viola Oriviera, itu kan nama gua. Berarti ini? Enggak enggak, gak boleh GR vi. Tapi ini nama gua!" Perangnya dalam hati. Vio mengambil paket tersebut dan mengucapkan terima kasih. Hanya satu yang dipikiran Vio saat ini, Vio ingin segera sampai ke restoran dimana orang tuanya dan Andra berada. Untuk mempertanyakan pada Andra mengenai kedua benda ini. Vio mEmberbalik dan hendak melangkahkan kakinya. Namun belum sampai kakinya melangkah, Vio melihat Andra sedang berjalan kearah nya dengan senyum khasnya. Vio menatap Andra lama. "Aku suka An, aku suka kamu yang melangkah mendekat kearah aku. Aku suka ketika kamu ngelakuin hal ini sama aku." Batin Vio sambil tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Vio berjalan kearah arah, perlahan semakin dekat dan semakin dekat. Sebulir air mata yang tertahan dimata Vio akhirnya jatuh, saat badan Vio berbenturan dengan badan Andra. "Andra." Panggil Vio sambil terisak. "Kenapa nangis Vi?" Tanya Andra panik. Vio mendongakkan kepalanya menatap Andra. "Ini apa?" Menunjukkan bucket dan kotak kecil yang diperoleh dari meja resepsionis. "Yang ditangan kanan kamu itu bucket bunga. Yang diseb-" "Aku bukan tanya itu Andra!" Potong Vio. Andra tersenyum tipis. "Itu hadiah buat kamu, bucket bunga itu buat ucapan makasih aku karna kamu udah mau nyamperin aku kekamar aku tadi malam sambil nangis nahan aku pergi." Terang Andra sambil mengambil kotak kecil ditangan Vio. "Dan kotak ini, hadiah karna kamu mau nerima aku.  Karna kamu mau jadi istri aku, ya walaupun dengan masa percobaan." Terang Andra lagi sambil membuka kotak kecil itu di hadapan Vio. Vio semakin menangis saat melihat apa yang ada didalam kotak tersebut. Sebuah kalung berwarna putih dengan liontin huruf V dan tanda hati disebelahnya. "Andra." Pekik Vio tertahan. Andra menaikkan sebelah alisnya, seraya bertanya kenapa pada Vio. "Aku mau nangis." Isak Vio. "Kamu udah nangis Vi." Kekeh Andra sambil menghapus air mata Vio. "Kamu sih!" Kesal Vio Andra mengeluarkan kalung itu dari kotaknya dan memakaikannya pada leher Vio. Kemudian melihat Vio dengan senyum lebar. "Perfect." Andra menarik Vio kedalam pelukannya. "Jangan nangis gitu, gak malu apa dilihat orang." Vio mendorong andra dan menatap tajam Andra. "Aku yang harusnya bilang gitu Andra! Kamu gak malu apa dilihatin orang dari tadi?" Kesal Vio. "Enggak, asal sama kamu. Aku rela ngapain aja." Ujar Andra sambil menyentuh hidung Vio. "Aku kesal sama kamu, aku mau keluar hari ini. Tapi karna kamu make up aku jadi luntur." Rengek Vio. Vio benar-benar ingin mengalihkan pembicaraan dari hal romantis ini. Dia benar-benar malu saat ini. "Muka kamu masih cantik dan make up kamu masih bagus kok." Ujar Andra sambil menatap wajah Vio. Vio menutup mukanya, dia menyerah. Vio tidak sanggup menahan malunya terhadap Andra lebih lama lagi. "Jangan gitu, aku malu!" Andra terkekeh lagi, "Kamu malu sama aku Vi? Setelah 10 tahun kita kenal kamu masih malu sama aku?" Tanya Andra beruntun. "Kamu gak pernah seromantis ini selama 10 tahun, dan kamu gak pernah muji aku cantik." Ucap Vio sambil menatap Andra. "Gak pernah? Serius aku gak pernah bilang kamu cantik?" Tanya Andra dengan wajah menyelidik "Hmm ya pernah sih beberapa kali. Tapi kan kamu gak pernah seromantis ini!" Kesal Vio. "Kalau itu aku akui iya. Maaf, tapi kamu tenang aja. Aku bakal ngasih ini tiap hari sama kamu." Ucap Andra sambil tersenyum licik. Vio diam sambil menatap Andra lama. "Kenapa Vi?" Tanya Andra. "Aku mau jalan-jalan sama kamu hari ini." "Permintaan diterima." "Sambil pegangan tangan, gak boleh dilepaskan lebih dari 1 menit. Kecuali kamu ke toilet." Pinta Vio manja. Andra tersenyum, "Apapun untuk kamu." Sebut Andra sambil mengecup kening Vio lembut. Setelah berganti baju dan bersiap-siap, mereka pergi ke mall yang tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap. Andra terus memegang tangan Vio sambil mengecup punggung tangan Vio sesekali, meski pun sedang menyetir. Andra menoleh sekilas pada Vio, "Kenapa ngeliatin aku terus?" Tanya Andra sambil mengecup tangan Vio. "Aku seneng hari ini." Ucap Vio senang. "Ini baru lebaran pertama buku baru kita. Aku bakal buat kamu senang terus dilembaran berikutnya." Ucap Andra tanpa ragu. "Dan aku gak sabar untuk ngelewatin setiap lembaran yang kamu janjikan itu." Ucap Vio tak mau kalah. Andra tersenyum mendengar Vio, bergitu juga dengan Vio. Keduanya benar-benar tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka saat ini. ••••• Kini Vio sedang duduk menunggu Andra yang tengah membelikan Vio popcorn dan mojito kesukaannya. Mereka memutuskan untuk mengawali ngedate mereka dengan menonton film yang sedang booming saat ini. "Lama?" Tanya Andra begitu duduk di samping Vio. "Lama, banget malah." Jawab Vio sambil mengerucutkan bibirnya. Andra mengenggam tangan Vio. "Maaf ya udah buat kamu nunggu lama." Pinta Andra. Vio menoleh pada Andra lalu tersenyum senang. "Oke, karna aku lagi senang. Aku maafin kamu." "Senang karna bagian yang mana?" "Semuanya. Makan siang, bunga, kalung, pegangan tangan, nonton dan kamu." Ucap Vio sambil menunjuk Andra. Andra tersenyum senang. "Ini pertama kalinya aku lihat senyum dibibir kamu selepas ini." "Hmm, aku sering senyum lepas kok." Aku Vio. "Tapi bukan karna aku. Hari ini karna aku dan perlakuan aku kekamu. Jadi ini pertama kalinya." "Hmm, tapi An. Ini pertama kalinya juga gua kita pergi nonton bareng. Dan aku suka, karna kamu pegang tangan aku."  Memang benar, selama 10 tahun mereka saling mengenal, ini adalah pertama kalinya mereka pergi untuk nonton film bersama. Dan Andra bersyukur karna Vio terlihat sesenang itu. Senyum dibibir Vio benar-benar enggak pergi meskipun hanya sebentar. "Kita harus nonton bareng sebulan sekali An mulai sekarang." Ujar Vio lagi. "Kenapa harus sebulan sekali?" Tanya Andra sambil mengernyitkan dahinya bingung. "Karna aku di Bali dan kamu di Jakarta kita jadi gak bisa ketemu tiap Minggu buat nonton. Jadi aku mau sebulan sekali kita harus nonton." Jelas Vio tanpa mengurangi senyumnya." "Kamu gak bisa disini aja Vi?" Tanya Andra sambil menatap Vio berharap. "Aku udah ditengah semester. Gak enak kalau aku berhenti, aku megang banyak SKS." "Jadi kita LDR? Vio mengangguk pelan. "Kamu gak mau?" Tanya Vio sambil memandang Andra. Andra hanya diam saat Vio bertanya apakah Andra bersedia jika mereka harus LDR Jakarta-Bali setelah ini. "An." Panggil Vio dengan wajah sedihnya. Andra menghela nafas panjang. "Bukan gak mau. Tapi Vi, setelah masa percobaan 3 bulan. Sekarang kita LDR?" Tanya Andra memastikan. "Hmm, iya." Andra baru saja hendak berbicara tapi Vio memotongnya. "Tapi kan An, ini masa percobaan dari aku buat kamu. Kita LDR Jakarta-Bali 3 bulan ini. Kalau selama 3 bulan ini kamu berhasil. Berarti masa percobaan kamu berhasil." "Vi, kal-" "Jangan fikir aku ninggalin kamu ke Bali dengan bebas Andra. Aku tetap jalanin survey dan penilaian aku. Aku bakal gunain abang-abang kamu, kakak ipar kamu dan Bagas keponakan kamu sebagai mata-mata aku." Jelas Vio dengan mata berapi-api. "Bagasnya dikeluarin bisa gak Vi? Terus jangan sering telponan sama dia juga. Atau nanti aku ambil balik hpnya!" Ancam Andra. "Ahh iya, aku baru ingat." "Ingat apa?" Vio memandang Andra dengan tatapan tajam seperti pisau daging yang baru saja diasah. "Apa Vi, jangan bikin aku takut." "Kamu gak mau minta nomor aku? Kamu gak mau nelpon aku atau kamu gak ma-" Kalimat Vio terpotong karna Andra menutup mulut vio dengan tangannya. "Aku punya nomor kamu. Jadi aku gak perlu minta dan kamu gak perlu marah-marah Vi. Oke?" "Kamu punya?" Andra bergumam sambil mengangguk. "Terus kenapa kamu gak pernah telpon aku sekalipun! Kita lupain 2 tahun 2 bulan kemarin. Kenapa kamu gak nelpon aku tadi pagi!" Kesal Vio. "Karna aku tinggal keluar kamar dan ngetok pintu kamar kamu. Dan kamu muncul dihadapan aku." Jawab Andra santai. "An." "Iya Vi." "Aku baru ingat lagi." "Apa lagi?" "Say it." Andra menyatukan alisnya, "Say what?" "Do you love me?" Andra terkekeh mendengar pertanyaan Vio. "Sure, i do Vi." "Say it, if you love me." "I love you to the moon and back, Violetta Orieri." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN