SETELAH melihat Vio dikantin kampus tempatnya mengajar. Andra mulai mengikuti kemana pun kaki Vio melangkah, ke kantor dosen, ke kelas, ke laboratorium, pokoknya dimana ada Vio, disitulah Andra berada. Tapi tentu saja tanpa sepengetahuan Vio, dan juga Andra mengikuti pada jarak aman.
Belum siap Andra mengikuti Vio sampai pulang ke rumahnya. Tante Aliya sudah menelpon Andra memintanya untuk datang ke rumah. Karna nada bicara yang tidak biasa, mau tidak mau Andra akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah tanpa menyelesaikan tugas nya mengikuti Vio hari ini.
Di rumah Tante Aliya sedang duduk di ruang tamu sambil berlipat tangan menatap kotak yang ada di tengah ruangan tersebut. Andra mengernyit bingung saat melihat bukan hanya mama nya tapi seluruh anggota keluarga menatap kotak tersebut.
"Kenapa ma?" Tanya Andra tanpa berbasa-basi.
"Menurut kamu ini dari siapa?" Ujar Tante Aliya sambil menunjuk kotak yang sedari tadi di tatapnya.
"Bukannya kalian yang dari tadi melototin kotak itu, kenapa malah nanya Andra itu dari siapa?" Acuh Andra.
"Ini stroller baby Andra." Ucap Marko kali ini.
"Jadi ken—“
Andra menatap kotak itu sekarang.
"Gak mungkin kamu kan Vi?" Batinnya bertanya.
"Sejak 26 tahun yang lalu, sudah tidak ada yang lagi mengirimkan barang bayi kerumah ini Andra. Bahkan saat kakak-kakak mu melahirkan." Terang Tante Aliya lagi.
Andra tidak menggubris perkataan mamanya, matanya masih beradu dengan kotak stroller yang ada di depannya kini. Dengan segenap jiwa raga dan keberanian yang tinggi Andra mendekat pada kotak itu. Mengambil surat yang ada di atas kotak itu.
Dengan perasaan ragu, Andra membuka surat itu dan mulai membaca isi dari surat tersebut. Marah, itu perasaan yang dirasakannya saat ini. Stroller bayi ini adalah hadiah dari Vio yang dibelinya beberapa hari yang lalu bersama Disya.
°°°
Hai an, how are you? Aku yakin kamu baik, selamat atas kelahiran anak kamu. Aku turut senang atas kelahiran anak kalian. Maaf aku terlambat ngucapin selamat dan ngirim hadiah. Aku fikir ini yang terbaik, aku gak mau merusak kebahagiaan kalian.
Tertanda,
V.
°°°
Tubuh Andra menegang seketika, nafas Andra memburu, perasaan marahnya lebih besar dari apapun saat ini.
"Siapa yang antar ini tadi?!" Tanya Andra dengan amarahnya.
"Kurir." Jawab Tante Aliya santai.
Tidak salah, memang kurirlah yang mengantar paket itu tadi. Sepulang dari mall, Vio langsung ke tempat pengiriman barang. Vio belum siap menampakkan wujud nya lagi didepan keluarga Andra. Itu dikarnakan rasa bersalahnya yang sudah pergi begitu saja tanpa pamit.
Andra mengepalkan tangannya menahan amarahnya. Kemudian pergi begitu saja dari rumah nya. Andra kembali pergi kekampus tempat Vio mengajar. Amarahnya membuat Andra melupakan keputusannya dikantin siang tadi. Keputusan untuk tetap berjauhan dengan Vio.
Semesta tidak mendukungnya kali ini, Vio sudah tidak berada dikampusnya. Info itu didapatnya dari salah satu mahasiswa Vio yang sedang lewat didepannya. Sayangnya mahasiswa itu tidak tau alamat dan nomor telepon Vio.
Andra memutuskan untuk pulang kerumah mamanya lagi setelah pencariannya tidak berhasil.
"Vi, sekarang aku mulai takut. Rasa takut ini lebih besar dari saat kamu menghilang beberapa bulan yang lalu." Ujar Andra sambil melihat foto Vio yang ada di galeri hpnya.
"Rasa takut atas ucapan kamu delapan bulan yang lalu. Kemungkinan pertemuan kita setelah kamu menyamakan status kita." Ujar Andra lagi.
Itu hal pertama yang terbesit diotak Andra setelah membaca surat singkat pada hadiah pemberian Vio. Otaknya kembali pada pesan yang dibacanya 9 bulan lalu saat Vio membuat keputusan untuk pergi dari sisi Andra. Andra takut kembalinya Vio, karna dia sudah bisa menyamakan status seperti pesannya waktu itu.
Dirumah, Tante Aliya masih menatap stroller pemberian Vio.
"Dari mana Andra?" Tanya nya begitu melihat Andra masuk kedalam rumah.
"Nyari orang yang ngasih stroller itu!"
"Ketemu?"
Andra hanya diam tak menjawab.
"Mama kangen Vio ndra. Mama belum pernah tidak ketemu Vio selama ini. Sesibuk apapun biasanya Vio akan datang kesini walaupun hanya sekali seminggu. Tapi ini udah 9 bulan, jangankan ketemu, bertukar kabar pun gak pernah." Curah Tante Aliya dengan wajah sedih.
"Mama penasaran sama keadaan Vio-"
Andra memotong ucapan mamanya. "Sekarang Vio makin cantik, badannya masih kurus kayak gak dikasih makan-."
Andra menelan ludah nya dengan susah payah dan juga berusaha mencari suaranya yang tiba-tiba menghilang entah kemana. Sangat susah untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.
"Bibirnya lebih banyak senyum sekarang." Sambung Andra dengan berat hati.
Tangis Tante Aliya pecah. Bukan seperti ini mau dia 9 bulan lalu. Bukan perpisahan tak berujung yang diinginkannya.
"Ma, apa Andra benar-benar harus pergi jauh dari Vio ma, untuk Vio bisa bahagia?" Tanya Andra serius.
"Hampir 7 tahun Vio gak pernah pergi dari sisi Andra, dan selama hampir 7 tahun juga air mata Vio selalu jatuh karna Andra. Sekarang setelah dia milih untuk pergi dari sisi Andra, baru Andra lihat bibir Vio senyum lagi ma." Lanjut Andra sedih.
Tante Aliya hanya diam tak menjawab pertanyaan Andra. Sakit, hatinya sangat sakit melihat anak-anaknya tersiksa seperti ini. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya selain berdoa meminta kebahagiaan untuk anak-anaknya.
•••••
Besoknya Andra sudah menanti kedatangan Vio dikampus tempat Vio mengajar. Andra sengaja pergi pagi-pagi buta agar dia tidak melewatkan kesempatan bertemu Vio. Hari ini Vio sudah mulai membawa mobilnya lagi, setelah drama panjang dengan orang tuanya. Akhirnya mobilnya kembali keharibaan Vio.
Andra tersenyum melihat jazz merah milik Vio masuk dan parkir dipekarangan kampus. Tanpa pikir panjang, Andra langsung keluar dari mobilnya begitu si pemilik jazz merah yang diintainya keluar. Andra langsung menarik tangan Vio untuk masuk kedalam mobilnya.
Vio sangat kaget saat ada yang menariknya secara tiba-tiba begitu dia keluar dari mobilnya. Namun, Vio jauh lebih kaget lagi saat melihat jika Andra lah orang yang menariknya.
"And-."
"Aku gak nanya apapun, jadi gak perlu jawab apapun dan aku lebih senang kalau kamu diam sekarang Vi." Potong Andra saat Vio memanggil nya.
Vio hanya diam, kini dirinya sibuk mencoba menenangkan jantungnya yang kini kembali berdetak tak wajar setelah 9 bulan berdetak normal.
"Aku harus ngajar An." Ucap Vio saat jantungnya sudah lebih tenang.
Andra menoleh singkat pada Vio. "Tinggalin tugas aja, lagian mahasiswa kamu pasti senang kalau kamu gak masuk. Aku dengar kamu jadi dosen killer sekarang."
"Enggak! Kata siapa!" Tolak Vio keras.
"Mahasiswa kamu. Setelah cuti lama katanya kamu makin killer. Ninggalin tugas banyak, laprak gak habis-habis, belum responsi dua kali." Ucap Andra sama seperti ucapan mahasiswa Vio kemarin.
"Gak ada mahasiswa yang gak punya tugas, gak ada praktikum yang gak ada responsi dan laprak!" Bela Vio.
Andra tersenyum singkat, begini lah hubungan kedua nya. Walaupun sudah diterpa masalah sebanyak apapun dan seberat apapun, mereka tidak akan terlihat canggung saat kembali saling berhadapan.
"Tapi Vi, laprak itu apa?" Tanya Andra bingung.
"Laporan praktikum, Andra! Aku kan udah sering ngasih tau waktu aku masih kuliah dulu!" Kesal Vio.
"Hmm. Bilang sama mahasiswa kamu, kamu gak bisa masuk. Kasih tugas atau suruh pulang aja." Ucap Andra sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku baru siap cuti panjang Andra!"
"Terus kenapa? Salah siapa kamu cuti? Gak ada yang minta kamu untuk cuti kan? Aku gak nyuruh kamu buat cuti."
Vio diam tak menjawab, inilah Andra tidak mau mengalah barang sekalipun pada Vio. Dia akan terus menjawab ucapan Vio sampai Vio terdiam.
"Nyonya Aliya sidomuncul kangen sama kamu."
"Hmm? Aliya sidomuncul?" Tanya Vio bingung.
"Mama Vi mama."
"Jahat kamu jadi anak, masa nganti nama mama sendiri jadi kayak gitu."
Andra hanya terkekeh kecil tanpa menjawab Vio.
"Aku juga kangen sama Tante Aliya. Kak Nia udah melahirkan kan an? Anaknya cewek atau cowok? Aku lupa beliin kado buat anaknya kak Nia." Sambung Vio lagi. Nia adalah istri Marko, Abang Andra.
"Anaknya cewek. Parah kamu bisa-bisanya lupa sama anak kak Nia."
"Nanti deh aku cari kado buat anaknya kak Nia. Baju anak cewek lucu-lucu kan ya." Jawab Vio santai.
"Aku juga kangen Vi." Ujar Andra pelan, namun terdengar sangat jelas oleh Vio. Tapi, Vio memilih untuk pura-pura tidak dengar.
"An, aku ada praktikum siang nanti. Kamu mau bawa aku kemana ini?" Tanya Vio mengalihkan pembicaraan.
"KUA." Jawab Andra santai.
Vio membelalakkan matanya kaget.
"Andra gak lucu!"
"Aku pengen ngelakuin itu Vi, supaya kamu gak pergi lagi. Tapi aku gak bisa." Jelas Andra tanpa memperdulikan ekspresi terkejut Vio saat ini.
Andra menghentikan mobilnya di depan mall yang tidak jauh dari kampus tempat Vio mengajar. Kemudian menoleh pada Vio.
"Bisa gak Vi, jangan pergi lagi?" Tanya Andra dengan tatapan berharapnya.
"Jangan pernah pergi dari sini lagi Vi. Aku gak minta kamu kembali ke sisi aku seperti dulu. Aku cuman minta kamu ada didalam jangkauan mataku." Sambung Andra.
"Karna dengan aku bisa melihat kamu, dengan aku melihat senyum kamu. Aku bisa ngerasa hidup lagi." Sambung Andra sedih lagi.
Vio hanya diam sambil menatap mata Andra dalam. Mencari kebohongan didalam matanya. Namun nihil, ungkapannya barusan adalah kejujuran. Kemudian Vio mengalihkan pandangannya kedepannya, dan mengernyitkan dahinya.
"Mall?" Tanya nya sembari menoleh pada Andra lagi.
"Mothercare, mau cari kado buat anaknya kak Nia." Ucap Andra santai.
"Hmm. Tapi ini bukan tas buat aku ke mall Andra, isinya laptop. Pasti berat, aku gak suka." Ujar Vio sambil memanyunkan bibirnya.
Andra tersenyum tipis. Senang rasanya bisa melihat Vio kembali bertingkah seperti ini didepannya.
"Bawa dompet sama hp aja. Sisanya tinggal dimobil." Ucap Andra lembut.
"Kamu gak mau bawain tas aku?" Tanya Vio polos.
"Enggak. Kalau kamu baper aku gak bisa tanggung jawab, jadi bawa yang penting aja." Ujar Andra santai.
Vio menghela nafas panjang. Otaknya kembali mengingat bahwa Andra bukan lah miliknya lagi. Andra mungkin sudah menjadi suami Kiara. Kemudian Vio mengambil dompet dan hpnya dan segera mengikuti Andra turun. Andra menarik tangan Vio saat menyebrang dari mobilnya ke pintu mall tersebut.
Dengan santainya Vio mengangkat tangannya yang digenggam Andra keatas seraya berkata. "Jangan buat aku baper kalau gak bisa buat tanggung jawab." Ujar Vio membalikkan ucapan Andra.
Andra melihat tangannya yang menggenggam tangan Vio, tapi Andra hanya diam dan enggan untuk melepaskan nya. Membuat Vio mengendus kesal pada sikap Andra.
••••
Di mothercare Vio berkeliling melihat apa barang yang pas buat dikasih ke anak kak Nia, keponakan Andra. Sedangkan Andra duduk dengan titipan dompet Vio. Setelah puas berkeliling akhirnya Vio menghampiri Andra.
"Dompet." Pinta Vio pada Andra.
Andra yang sedang memainkan game dihp nya langsung menghentikan permainannya sejenak, mengambil dompetnya dan memberikan pada Vio.
"Bukan dompet kamu Andra! Dompet aku!" Kesal Vio.
"Itu aja, pergi sana buruan bayar. Nanti keburu siang. Kamu masih ada praktikum kan?" Jelas Andra tanpa menoleh pada Vio.
Vio mengendus kesal dan pergi ke kasir buat membayar belanjaannya.
Tliing...
Satu pesan masuk kedalam hp Andra. Dan membuat Andra langsung menoleh pada Vio.
"Salah ngasih dompet gua. Tau belanjaannya sebanyak itu gua kasih dompet nya sendiri." Kesal Andra dalam hati.
"Beli apa coba dia sebanyak itu?" Tanya Andra lagi.
Baru saja Andra hendak marah saat melihat Vio berbalik. Tapi tidak jadi, Vio kembali dengan senyum lebar di bibirnya. Hal itu membuat amarah Andra langsung luntur seketika.
"An, bantuin bawa." Pinta Vio tepat didepan Andra.
"Kamu belanja apa aja?" Tanya Andra lembut.
"Banyak. Buat anak kak Nia sama buat keponakan keponakan kesayangan aku, Bagas sama Aldo juga." Ujar Vio dengan senyum yang masih sama lebarnya seperti sebelumnya.
Bukan rahasia lagi, jika Vio sangat menyukai anak-anak, membuat Vio gampang dekat dan sayang pada Bagas dan Aldo anak El, Abang Andra. Jika sedang pergi liburan, Vio tidak pernah absen membelikan keduanya oleh-oleh.
Andra berdiri dari duduknya kemudian mengacak rambut Vio lembut.
"Bagas sama Aldo keponakan aku bukan keponakan kamu." Ujar Andra sambil berlalu dari hadapan Vio.
Vio mengendus kesal. Andra benar-benar tidak mau berbagi keponakannya. Padahal Vio lah yang lebih banyak tau perihal kedua keponakan Andra tersebut.
Andra kembali dengan membawa beberapa belanjaan Vio.
"Mau berbagi keponakan gak Vi?" Tanya Andra singkat.
Vio mengangguk lucu seraya berkata mau mau mau.
"Kamu harus nikah sama aku, biar mereka resmi jadi keponakan kamu." Ujar Andra tenang sambil pergi berlalu dari hadapan Vio.
“Kamu, kamu adalah ketakutan terbesar didalam hidupku. Lebih tepatnya kehilangan kamu.”
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••