Takdir

1750 Kata
BESOK pagi, Bagas sangat senang karna saat bangun ada Vio didepannya dan juga Bagas sangat senang karna bisa merasakan lagi dimandikan oleh Vio dan bisa sarapan bersama Vio. "Hayo, Bagas kenapa senyum-senyum sendiri?" Ledek Vio ketika melihat Bagas senyum sangat lebar. "Bagas senang anty, Bagas mau tiap hari sarapan sama anty." Ujar Bagas sambil tersenyum lebar. "Anty juga mau, tapi anty gak bisa sayang." "Bagas tau, anty kan lagi kerja buat beliin mainan untuk Bagas. Yakan anty?" Vio tersenyum tipis lalu mengangguk mengiyakan. "Tapi anty, om Andra mana ya?" Tanya Bagas polos. "Om Andra pulang, katanya bentar lagi kesini buat jemput Bag-." Jelas Vio lembut. "Om Andra." Pekik Bagas memotong ucapan Vio. Vio menoleh pada arah tatapan mata Bagas. Disana ada Andra yang mengunakan Hoodie hitam dan celana panjang berwarna senada. Andra berjalan menghampiri Bagas dan Vio. Mereka hanya berdua saat ini, karna Disya harus ke kampus pagi-pagi untuk mengantarkan berkas pembelajaran nya kekantor. Andra duduk tepat diseberang Vio, menatap Vio dengan pandangan yang berbeda, pandangan sayu yang tidak seperti biasanya. "Udah sarapan An?" Tanya Vio berbasa-basi. "Om Andra gak mau sarapan anty, katanya dia lagi belajar buat sakit." Jujur Bagas sambil mengunyah nasi goreng yang disuap oleh Vio. Vio melihat Andra untuk mencari kebenaran. Andra hanya senyum sambil menggedikkan bahunya. "Sarapan An, jangan dibiasain gak sarapan. Kalau udah sakit nanti susah." "Gampanglah nanti Vi. Kamu makan aja terus. Flight jam 10 kan? Ini udah mau jam delapan, kamu masih harus siap-siapkan." Ujar Andra melihat wajah polos Vio. Vio tidak menimpali ucapan Andra. Vio hanya melanjutkan makannya dan menyuap Bagas. Namun, mulutnya tiba-tiba bertanya tanpa kompromi dengan hatinya terlebih dahulu. "Kalau seandainya aku menetap disini, apa yang terjadi ya an?" Mata Andra membulat dengan sempurna. Wajah nya yang terlihat jauh lebih baik dari pada saat pertama datang menghampiri Bagas dan Vio. "Hanya kalau dan seandainya." Ucap Vio lagi memperjelas ucapannya. "Anty mau tinggal disini lagi?" Tanya Bagas excited. "Enggak kok, emang anty bilang gitu?" Ucap Vio pada Bagas. "Kenapa anty gak tinggal disini aja lagi, Bagas pasti senang kalau anty disini. Om Andra juga, yakan om?" Tanya Bagas lagi. Andra hanya diam sambil menatap Vio. Vio tidak perlu mendengar jawaban dari Andra, karna Vio sudah mendapat jawabannya dari mata Andra. Tapi tidak untuk Bagas, Bagas terus mendesak Andra menjawab pertanyaannya. "Iya Bagas, akan jauh lebih baik kalau anty Vio tinggal dan menetap disini." Ujar Andra sambil menatap sayu mata Vio. "Tuhkan anty, Bagas bilang apa. Om Andra juga senang pasti." Ucap Bagas bangga. Vio terkekeh melihat tingkah Bagas, kemudian mengelus rambut Bagas lembut. Tanpa sadar Andra tersenyum melihat keduanya. "Iya, akan jauh lebih baik kalau kamu tinggal dan menetap disini Vi, tinggal dan menetap disisi aku." Batin Andra. ••••• Dibandara, Bagas menunjukkan wajah sedihnya saat vio sudah harus pergi. "Anty, anty gak mau tinggak disini aja. Biar Bagas bisa sering ketemu anty?" Ucap Bagas untuk kesekian kalinya. "Kan anty harus kerja sayang." Ucap Vio lembut. Setelah nya Bagas akan menerima Vio pergi. Namun tak lama Bagas akan menanyakan hal yang sama lagi. Dan begitu terus sampai vio benar-benar harus pergi sekarang. Vio memeluk Disya untuk berpamitan.  Kemudian Vio cukup lama memeluk Bagas untuk berpamitan. Hal itu karna Bagas tidak berhenti menangis. Vio menatap Andra begitu juga dengan Andra. Mata mereka saling bertautan, tapi tidak ada satupun yang saling berbicara mengucapkan salam perpisahan. Hati keduanya enggan untuk berpisah, tapi ego mereka lebih tinggi dari ini. Kali ini, Andra memutuskan tautan matanya. Maju beberapa langkah menghampiri Vio, dan memeluk Vio. Andra tidak perduli dengan reaksi Vio, dia hanya akan memeluk Vio sampai dia benar-benar harus pergi. "Perasaan ini masih sama Vi, sama seperti saat pertama kali aku lihat kamu 9 tahun lalu dan sama seperti kamu tinggalin aku 2 tahun lalu. Semua nya masih sama. Aku gak perduli perasaan kamu, karna perasaan kamu adalah urusan kamu. Tapi hari ini aku mau kamu tau bagaimana perasaan aku, aku mau kamu tau perasaan aku." Ungkap Andra didalam pelukan Vio. Vio menaikkan tangannya perlahan dan melingkarkannya di pinggang Andra. "An, bisa gak takdir berpihak sama aku sekali aja. Bisa gak sekali aja takdir berpihak sama kita?" Ucap Vio dengan nada bergetar. Andra mendorong pelan badan Vio, menatap mata Vio yang berkaca-kaca. "Bisa Vi, bisa." Ucap Andra singkat. "Kamu hanya perlu diam dan percaya sama aku. Aku akan buat takdir berpihak sama kamu, aku akan buat takdir berpihak sama kita." Ucap Andra mantap. Vio memandang Andra dengan mata yang dipenuhi air mata. Vio tidak tau itu ucapan tulus atau hanya hiburan untuknya dari Andra. Andra menyentuh mata Vio lembut. "Jangan nangis. Aku janji, aku akan benar-benar buat takdir berpihak sama kamu." Ucap Andra lagi. Vio memeluk Andra erat, Vio benar-benar tidak tau apa yang dirasakannya dan apa mau hatinya. Mungkin nanti Vio akan menyesali perbuatannya tapi saat ini Vio hanya ingin memeluk Andra lebih lama lagi. Andra membalas pelukan Vio dan memberikan kecupan lembut dipuncak kepala Vio. Mungkin dari 9 tahun yang lalu takdir tidak pernah berpihak dengan Vio atau mungkin dari 3 tahun atau 2 tahun lalu takdir tidak berpihak pada Andra. Tapi kali ini Andra akan membuat takdir berpihak dengan nya, Andra akan membuat takdir berpihak pada Vio. Andra akan mematahkan ucapan Vio 2 tahun lalu, bahwa selama nya mereka tidak ditakdirkan bersama. Andra akan membuktikan bukan mereka yang tidak ditakdirkan bersama, melainkan saat itu belum waktu nya, bukan waktu untuk takdir mempersatukan mereka. ••••• Sudah satu bulan sejak kepulangannya dari Jakarta. Tidak ada yang berubah, dia masih Vio si dosen killer cantik dan gila kerja. Sudah sebulan sejak Andra menjanjikan takdir untuk berpihak padanya. Tapi sampai detik itu laki-laki itu bahkan tidak pernah berusaha untuk menghubunginya. Memang Vio tidak pernah memberikan nomor nya pada Andra sejak vio berganti nomor hp 2 tahun yang lalu. Tapi bukankah sudah tugas laki-laki untuk berusaha mencari nya? Lagian itu bukankah tugas susah bagi Andra. Seluruh anggota keluarganya punya nomor Vio, bahkan mungkin dia memiliki nya. Tapi mengapa Andra belum menghubungi nya? "Stop Vio! Wake up!" Teriak Vio didalam kamarnya yang disebut Disya kamar presiden suite. "Lo udah bisa hidup biasa aja tanpa dia dua tahun ini, kenapa sekarang Lo jadi gini sih. Ayo bangun Vio, berhenti percaya kata-kata dia. Anggap itu hiburan untuk Lo!" Cerca Vio pada dirinya sendiri. Vio sangat kesal pada dirinya, pada hatinya yang mempercayai ucapan Andra dibandara waktu itu. Ucapan yang meminta Vio untuk percaya pada Andra. "Vio." Panggil bundanya sambil mengetuk pintu kamarnya. "Iya bunda." "Ada Disya itu dibawah." "Usir aja nda, bilang kamar presidential suite Vio lagi gak terima tamu." Teriak Vio dari kamarnya enggan beranjak untuk membuka pintu. "Vio, gak boleh gitu nak." Tegur bundanya. " Iya nda iya, Vio ganti baju dulu." "Cepat Vio, Bunda tunggu dibawah." "Iya Bunda cantik." Seru Vio menahan kesal. Mau tidak mau Vio mengganti bajunya. Saat ini dia hanya memakai celana pendek dan tank top. Setelah berlama-lama memilih baju dan bersiap, akhirnya Vio turun kebawah. Dibawah sudah ada Disya dan Bram pacarnya yang sedang bercerita dengan bunda. "Wihh, honeymoon nih." Celetuk Vio asal dan langsung mendapat tatapan sinis dari Disya. "Bercanda elah." Ucap Vio sambil duduk disebelah bundanya. "Kenapa Lo datang berdua gini, tumben?" Tanya Vio bingung. Disya tersenyum sumringah. "Seperti mau ibu Violetta tercinta, kalau Disya mau nikah. Disya harus nganter undangan pernikahannya langsung dan sama Bram. Benar ibu dosen killer?" "Gua gak killer Disya!" Kesal Vio. "Tapi banyak yang bilang gitu kok. Kalau udah dapat lab ibu Vio, pasti responsi lisan dan tulis, pasti ngelaprak gak habis-habis." Sindir Disya "Kalau gak mau ngelaprak jangan masuk farmasi!" Disya terkekeh mendengar kekesalan Vio. "Jadi Lo beneran mau nikah nih? Beneran nganter undang buat gua?" Tanya Vio. "Bukan buat Lo, buat Bunda. Lo kan pasti gak mau datang, karna sejarah persepupuan Bram sama si beliau!" Sindir Disya lagi. "Gak perduli gua sama persepupuan Bram sama beliau, kalau Lo yang nikah udah pasti gua harus disana. Dan gua jadi pengiring Lo!" "Oke gua pegang kata-kata Lo, ini undangan Lo. Seluruh baju untuk serangkaian acara gua tinggalin  dirumah gua. Supaya Lo gak banyak bagasi nanti." "Gua harus muji Lo teman yang baik gak ini?" Tanya Vio menjatuhkan Disya yang sedang naik tinggi tadinya. "Harus vio, sebagai teman yang baik gua membantu meringankan beban Lo. Gua tau beban hidup Lo udah berat." Vio menatap tajam kearah Disya, sedangkan Bunda dan Bram hanya tertawa melihat kedua manusia ini. "Lo harus disana seminggu Vio, jadi Lo harus mulai mengajukan cuti dari sekarang." Ujar Disya santai. "Lo mau bawa gua honeymoon apa sampai gua harus cuti seminggu?" "Bukan! Enak aja Lo mau ikut gua honeymoon! Gua mau Lo ada dari gua pengajian, berinai sampai gua resepsi." Pinta Disya. "Hmm yayaya terserah Lo dah." Pasrah Vio. Kini, Vio sedang mengantar Disya dan Bram berkeliling Bali. Prinsip Vio nomor kesekian, Vio harus ngethreat temannya dengan baik kalau temannya main ke kota kelahirannya ini. "Vi." Panggil Disya. Vio hanya bergumam tanpa melihat Disya. "Andra gimana? Ehh salah salah Lo sama Andra gimana? Setelah sebulan lalu ada perpisahan yang dramatis dibandara. Sekarang kalian gimana keadaan hubungan nya?" Tanya Disya panjang lebar. "Flat, datar. Tidak ada perubahan apapun." Jawab Vio santai masih tanpa menoleh pada Disya. "Gak ada kelanjutan apapun setelah perpisahan yang dramatis abis itu?" Tanya Disya lagi. "Nope. Gua sama dia masih layaknya orang asing. Mungkin kemarin itu ada kesalahan makanya ada perpisahan dramatis dibandara." Ucap Vio sambil menoleh pada Disya kali ini. Disya diam sambil berfikir. "Tapi serius deh Vi, dia beneran gak ada ngehubungi Lo sama sekali. Walaupun cuman sekedar chat. "Gak ada Disya. Gak ada sama sekali. Kok Lo makin bandel sih mau nikah gini!" Kesal Vio. "Ya habis gimana Vi, gua kan bingung. Kalau gua jadi dia, gua pasti bakal ngehubungi Lo. Karna gua udah minta Lo buat percaya sama gua." Jelas disya. Vio mengalihkan pandangannya jauh keluar mobil, kemudian tersenyum tipis. "Gua bodoh ya dis, gua fikir gua bisa mempercayai kata-kata dia waktu itu. Gua berfikir kalau kali ini gua mempercayai dia, akan jadi akhir yang bagus buat gua." Disya dan Bram hanya bisa terdiam dan saling beradu pandang. "Ternyata gua salah. Gua salah percaya sama dia, gua salah karna udah berharap dia akan datang untuk ngasih gua pembenaran atas pernyataan dia waktu itu." "Vi." Tegur Disya. "Seharusnya dari awal gua paham. Kalau dia gak serius, kata-kata yang diucapkan waktu itu cuman kata-kata hiburan semata. Dan seharusnya gua sadar, kalau gua gak boleh mempercayakan hati lagi gua pada orang yang senantiasa menghancurkannya. Bahkan sejak pertemuan pertama kami." Sambung Vio lagi. Disya dan Bram benar-benar hanya bisa terdiam kali ini, bagai main catur keduanya benar-benar kalah telak bahkan saat permainan baru dimulai. “Bukan, bukan kita yang tidak ditakdirkan bersama, tapi kita hanya belum sampai pada takdir kita untuk bersama.” •••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN