Kalam Allah

1738 Kata

Allah, aku tahu ini salahku, berharap pada seseorang yang belum tentu menjadi takdirku.   ***   "Ah!" desah Aisya lirih setelah sadar kalau ia tertidur di dalam masjid dengan masih mengenakan mukena. Alquran masih berada di atas meja kecil yang bersisian dengannya. Dahi putih mulus milik Aisya mengernyit halus. Lorong kegelisahan masih terasa di dalam hati. Jika diibaratkan gelas kaca, masih ada pecahan-pecahannya yang tersisa di sana. Ia mencengkeram sajadah kuat sambil bangkit dari lantai. Tiba-tiba, Aisya mendengar suara lelaki terbatuk. Pandangan Aisya hinggap pada jam dinding yang menunjukkan pukul 4 pagi. Tidak ingin menimbulkan kecurigaan, Aisya melangkah perlahan menuju pagar lantai dua, sebab ia ingin melihat siapa lelaki tersebut. Syukurlah lampu lantai dua tidak dihidupkan,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN