Rachel memang belum tahu jelas apakah perasaannya pada Alvin ini benar-benar nyata atau hanya obsesi pada ketampanan Alvin dan kehumorisan cowok itu saja. Yang jelas, semalaman ia tidak bisa tidur. Pikirannya penuh memikirkan apa saja yang akan terjadi besok ketika bertemu dengan Alvin. Apakah ini sebuah ajakan kencan? Atau hanya hangout biasa selayaknya sahabat satu tongkrongan?
Saking sibuknya memikirkan segala sesuatu menyangkut Alvin, Rachel baru bisa terlelap jam 5 pagi. Kemudian dia baru bangun menjelang sore karena bel apartemennya berbunyi terus menerus, dan menampilkan sosok Budi ketika pintunya dibuka.
Sebenarnya ini sudah ketiga kalinya Budi mendatangi apartemen Rachel. Yang pertama jam sebelas tadi untuk mengantarkan makan pagi yang sengaja minta diantar telat, dan jam dua sore untuk mengantarkan makan siang yang juga terlambat. Namun, berhubung sang empunya kamar tidak juga membuka pintu, Budi memilih pulang dan baru datang lagi setelah dua jam kemudian. Kali ini, ia menekan bel dengan ritme yang agak cepat dan bertubi-tubi. Karena mulai khawatir kenapa majikannya itu belum juga menampakkan lubang hidungnya.
Yang jelas, Rachel harus banyak berterimakasih pada Budi karena sudah membangunkan tidurnya. Kalau Budi tidak datang, bisa jadi ia masih terlelap sampai besok pagi, dan melewatkan acara spesial malam ini yang sudah dia pikirkan semalaman.
Setelah makan pagi yang dirangkap makan siang, Rachel bergegas mandi. Jarum panjangnya sudah menunjukkan pukul lima sore. Itu artinya, dua jam lagi, Alvin akan datang menjemputnya.
Kencan pertamanya setelah kurang lebih setahun jomblo. Tidak peduli apakah Alvin menganggap ini sebagai mengajaknya kencan atau tidak. Yang jelas, Rachel tetap menghitung ini sebagai kencan.
Karena terlalu excited, Rachel menyempatkan diri untuk luluran, hair mask dan segenap perawatan tubuh lainnya yang lumayan memakan waktu. Tidak peduli bahwa ia hanya punya waktu kurang dari dua jam.
Tingkah Rachel benar-benar seperti anak SMP yang baru saja ditembak oleh gebetannya, dan diajak kencan untuk pertama kalinya. Padahal jauh sebelum ini, Rachel sudah merasakan masa 4 tahun lebih pacaran, yang artinya sudah melewati 4 kali perayaan anniversary dengan romantic dinner di hotel berbintang. Bahkan perasaan Rachel sekarang, hampir mirip dengan perasaannya ketika ingin merayakan anniversary-nya yang kelima dengan Ale.
Begitu selesai mandi dengan berbagai treatment, Rachel langsung mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Barulah dia menyadari bahwa Alvin sama sekali tidak memberinya clue ingin mengajaknya kemana. Sehingga sekarang Rachel kebingungan sendiri harus mengatur rambutnya seperti apa. Dia takut salah kostum. Bagaimana kalau ia sudah memakai dress formal, ternyata Alvin hanya mengajaknya nonton kembang api di pasar malam. Atau hanya mengajaknya nonton bioskop dan makan Sushi. Pasti itu akan terlihat sangat konyol kan?
Juga bagaimana kalau Rachel hanya memakai celana jeans kasual, tapi Alvin malah mengajaknya romantic dinner, lalu menyatakan cintanya dengan proper, dan meminta Rachel menjadi pacarnya. Siapa yang tahu kan?
Sambil terus menimbang-nimbang, Rachel memutuskan untuk memakai short pants berwarna abu-abu dari Victoria’s Secret, juga tank top dark grey dari Calvin & Klein. Kemarin, Alvin memang memintanya untuk tidak perlu memakai make up. Tapi, tetap saja Rachel tidak percaya diri. Ini adalah kencan pertamanya di Jakarta. Dan ia merasa harus tampil memukau.
Rachel tetap memakai concealer untuk menutupi lingkar hitam diarea matanya, akibat keseringan begadang. Ditambah bedak tabur tipis, dan sedikit highlighter agar mukanya terlihat lebih glowing. Tidak lupa memakai liptint sheer pink rasa strawberry, agar bibirnya tidak terlalu pucat.
Menurut Rachel, pesan cowok yang mengatakan bahwa dia tidak perlu memakai make up sama sekali itu adalah, bermaksud agar si cewek tidak perlu dandan menor lebay yang menyita banyak waktu. Sehingga, kebanyakan cowok mengatakan kalimat bullshit itu. Padahal, sebenarnya cowok manapun juga pasti ingin selalu melihat cewek dengan penampilan terbaiknya, yang cantik natural, tanpa terlalu berlebihan.
Tepat ketika Rachel selesai memakai liptint, bel apartemennya berbunyi. Dia bisa langsung menebak kalau itu adalah Alvin. Karena ini memang sudah menunjukkan jam 7 malam. Sesuai dengan janji Alvin kemarin, yang ingin menjemputnya jam segini.
Akhirnya Rachel memadukan pakaiannya dengan outer kimono dari Zara yang cukup panjang, sampai menutupi short pants-nya. Setidaknya jika outer ini diikat dengan sebuah belt, bisa berubah menjadi dress yang tidak terlalu memalukkan kalau tiba-tiba Alvin mengajaknya romantic dinner.
“Mau kemana sih?” Rachel berusaha memasang tampang datarnya begitu membuka pintu.
Bola mata Rachel nyaris loncat dari kelopak matanya ketika melihat penampilan Alvin hanya memakai kaos oblong hitam dan celana super pendek, yang lebih menyerupai boxer!
Jangan bilang Alvin bangun tidur, dan tidak sempat mempersiapkan pertemuannya dengan Rachel ini. Jadi, bagi Alvin pertemuan mereka kali ini bukanlah proper date seperti yang ia harapkan? Hanya sekadar main sebagai teman biasa?
Rachel langsung kecewa, tapi sebisa mungkin menahan ekspresinya agar tidak terlihat sedih.
‘Suruh siapa terlalu berharap, bego!’
Pandangan Alvin langsung terpana melihat penampilan Rachel malam ini. Meskipun terlihat sederhana, menurut Alvin, Rachel memang selalu cantik. Rasanya seperti mimpi ketika menyadari kalau malam ini akhirnya ia bisa berkesempatan untuk lebih dekat dengan Rachel lagi.
Untuk beberapa saat, pandangan keduanya saling mengunci. Tentu saja tatapan Alvin saat ini berhasil membuat tubuh Rachel belingsatan sendiri. Meskipun hanya memakai kaos dan boxer saja, tetap saja penampilan Alvin selalu menawannya. Entah Rachel aneh atau bagaimana, yang jelas, sejak dulu dia malah lebih suka melihat penampilan cowok saat bangun tidur, daripada cowok setelah mandi. Bagi Rachel, penampilan cowok yang bangun tidur dengan messy hair seperti penampilan Alvin saat ini, memiliki keseksian tersendiri yang selalu berhasil memikatnya.
“Udah siap kan? Yuk!” Alvin mengerjapkan bola matanya, seolah tersadar kalau kelamaan memandangi Rachel begini, dia bisa mati kepanasan. Untuk menutupi kegugupannya, dia langsung menarik tangan Rachel keluar dari apartemennya. Dengan sekali sentak, Alvin sudah menutup pintu apartemen Rachel yang langsung terkunci otomatis.
“Bentar dulu, Vin! Mau kemana sih? Gue salah kostum apa enggak? Gue masih pake sandal jepit nih!” seru Rachel menghentikan langkahnya dan menatap Alvin kesal.
Pandangan Alvin tertuju pada kaki Rachel yang masih memakai sandal jepit rumahan berwarna hitam polos. Bukannya menjawab, cowok itu malah tertawa. Tangan kirinya yang bebas, mencubit hidung Rachel gemas.
“Udah wangi, cantik lagi!” dengan santainya Alvin mengecup pelipis Rachel yang membuat tubuh gadis itu langsung membeku. Bahkan Alvin sendiri bingung, dari mana dia bisa mendapatkan keberanian untuk melakukan hal barusan?
Alvin berusaha menyunggingkan senyumnya untuk menutupi kegugupannya, setelah melakukan tindakan implusif barusan, dan membawa Rachel memasuki lift. Sementara Rachel hanya pasrah mengikuti kemana langkah Alvin, sambil sibuk menenangkan degub jantungnya yang nggak keruan.
Entah sejak kapan, kedua tangan mereka sudah saling bertaut. Lebih tepatnya, Alvin yang menggenggam jemari Rachel lembut, dan sesekali ibu jarinya mengelusi punggung tangan Rachel. Tanpa Alvin ketahui, gerakan kecil jemarinya saat ini berhasil menggetarkan perasaan Rachel yang kini semakin tidak menentu.
Rachel sudah tidak peduli apakah Alvin menganggap ini kencan atau bukan. Yang jelas, keberadaan Alvin disekitarnya begini sudah membuatnya senang. Sejak tadi ekor matanya tidak bisa berhenti melirik kearah cowok itu yang sesekali juga melirik kearahnya, membuat pandangan mereka beberapa kali bertemu, dan terpaku sesaat, sebelum salah satunya memalingkan wajah.
Karena terlalu sibuk dengan pemandangan disampingnya, Rachel tidak sadar bahwa lift sudah berhenti entah di lantai berapa. Yang jelas, ini bukan lantai utama tempat dimana lobby berada. Ketika Rachel menoleh kearah dinding dekat lift yang biasanya menampilkan nomor lantai, dia langsung terkejut karena mendapati bahwa mereka berada di lantai 30. Pantas saja kerasa cepat. Ia pikir, selama di lift tadi terasa sangat cepat, karena dia keasyikan memandangi Alvin. Tapi ternyata, memang cepat karena dia hanya naik 3 lantai.
Kini otaknya mulai sibuk mencerna apa yang sedang terjadi sekarang. Ini Alvin tidak sedang mengajak Rachel untuk ke unitnya sendiri kan? Kalaupun iya, untuk apa? Berbagai asumsi Rachel kini bermunculan. Otaknya malah berdebat sendiri, memikirkan alasan paling logis yang kemungkinan mendasari Alvin untuk mengajaknya ke unitnya.
Sudah berkali-kali juga, Rachel membuka mulutnya, ingin bertanya. Namun lidahnya mendadak kelu, dan pita suaranya seolah membeku, dan tidak berhasil mengeluarkan suara apapun. Sial. Begini saja, Rachel sudah gugup setengah mati.
Sepasang bola mata Rachel terbelalak ketika Alvin menekan password didepan sebuah unit, yang Rachel curigai adalah unit apartemen Alvin! Degub jantung Rachel yang tadinya berdegub kencang tidak beraturan, kini malah melambat seperti nyaris berhenti. Pembuluh darahnya juga seperti ikut berhenti bekerja, sehingga beberapa anggota tubuhnya terasa melemas karena tidak mendapat pasokan darah dengan baik.
“Santai aja kali mukanya! Tegang amat, kayak anak SD mau disunat!” ledek Alvin terkekeh menatap ekspresi Rachel saat ini.
Bola mata Rachel membulat tajam. Kenapa juga, Alvin meledeknya dengan ejekan seperti itu.
Melihat muka melotot Rachel, Alvin langsung terkekeh. “Eh sori-sori, gue kebiasaan bercanda ama Gilang. Lo pasti nggak pernah ngerasain gugupnya jadi anak SD yang mau disunat ya?”
“Mau ngapain sih?!” desis Rachel kesal, mengabaikan ucapan Alvin yang tidak tau ingin disahuti bagaimana.
Pertanyaan Rachel juga diabaikan oleh Alvin. Cowok itu kini membuka pintu didepannya, dan tersenyum lebar, “Silahkan masuk Tuan Putri,”
Alvin mempersilahkan Rachel masuk lebih dulu ke apartemennya. Sebelum melangkahkan kakinya memasuki unit didepannya, Rachel menyempatkan diri untuk menarik nafas panjang, berusaha sesantai mungkin masuk kedalam apartemen Alvin, lalu duduk di ruang tengah. Sementara sang tuan rumah berjalan menuju dapur dan mengambil dua kaleng soft drink dari almari es.
Entah kenapa, tubuh Rachel terasa membeku sekarang. Ditambah lagi dengan jantungnya yang berkerja ekstra lebih cepat dari keadaan normal. Padahal, saat pacaran dengan Ale, tidak terhitung lagi berapa kali ia menginap bersama Ale dan berbagi kamar layaknya pasangan sah pada umumnya. Seharusnya, dengan masa lalunya dengan Ale itu, Rachel tidak perlu lagi merasa segugup ini. Tapi kenapa sekarang dia malah mengkerut seperti anak perawan saja sih?
Kini otaknya mulai sibuk bertanya-tanya, tentang kemungkinan apa saja yang akan terjadi dengan Alvin disini. Apakah Alvin akan….
“Kita perlu banyak ngobrol, Rach. Menurut gue, ini tempat ternyaman buat kita membicarakan banyak hal. Let you tell me more about you!” Alvin seraya meletakkan kaleng soft drink dihadapan Rachel. Ia ikut duduk di sofa sebelah Rachel, menghadap televisi.
Penuturan Alvin barusan seketika menghancurkan imajinasi Rachel yang sudah mulai merambat kepada hal yang iya-iya. Sial. Sejak kapan dia jadi semesum ini, dan mulai berani berkhayal macam-macam soal cowok yang baru dikenalnya belum lama ini?
“Atau, lo mau kita marathon film di Netflix? Gue juga pengen tahu film favorit lo apa aja.” melihat muka Rachel yang terlihat gugup dan tegang, Alvin jadi sedikit merasa bersalah. Dia mulai khawatir kalau sekarang Rachel sudah menganggapnya sok akrab yang berani-beraninya mengajak ke apartemen dengan alasan mengobrol, sebuah alasan yang terkesan seperti dibuat-buat kan?
Mendadak Alvin seperti teringat sesuatu, “Eh jangan bilang, elo belum makan ya? Atau mau gue pesenin makanan dulu? Lo mau makan apa?” Alvin berusaha membuat Rachel nyaman dulu berada di apartemennya. Lagian, kalau langsung mulai mengobrol, Alvin juga tidak tahu harus memulai dari mana.
“Nggak perlu. Gue baru aja makan kok tadi.”
Namun pandangan Alvin tetap tidak berpaling seinchi pun dari Rachel, berusaha mencari kesungguhan dari ucapan Rachel. Selama ini, dia selalu pacaran dengan cewek rempong yang sukanya main kode. Bilangnya nggak laper, padahal laper. Nggak dipesenin makan, ngambek dibilang nggak peka. Tapi kalau dipesenin makan protes, takut jadi tambah gendut karena Alvin pesannya junk food. Pokoknya serba salah deh. Makanya, Alvin tidak mau itu sampai terjadi lagi saat ia pedekate dengan Rachel.
“Beneran? Nggak papa. Tinggal bilang aja sih, mau makan apa? Gue pesenin!”
Alih-alih menyahuti ucapan Alvin, Rachel malah mengedarkan pandangannya pada sekeliling, memandangi interior apartemen Alvin yang rapi dan terkesan maskulin, dengan berbagai pajangan hitam putih abstrak di salah satu sisi dinding. Selain pajangan abstrak, beberapa foto masa kecil Alvin juga ditempel didindingnya, dengan pigura hitam polos yang disusun sedemikian rupa.
“Lo tinggal disini sendirian, Dek?” Melihat foto Alvin bersama Mamanya, Rachel langsung teringat dengan kejadian kemarin saat ia mendengar obrolan Alvin dengan mamanya, juga ledekan teman-teman Alvin mengenai panggilan kesayangan mamanya ini.
Seketika muka Alvin memerah. Untuk menutupi kesalah-tingkahannya, ia menyeruput soft drink-nya lagi. Melupakan niatnya tadi yang ingin memaksa Rachel untuk memesan makanan.
“Kemaren lo juga denger obrolan gue sama nyokap ya?”
“Dedek udah makan? Jaga kesehatan ya dek! Jangan minum soft drink sama makan fast food terus!” ledek Rachel masih dengan tawanya.
“Rach! Diem deh! Gue tuh anak terakhir. Jarak gue sama kakak atas gue itu sepuluh tahun. Jadi wajar kan, kalo nyokap gue tuh selalu anggep gue kayak anak kecil dan manjain gue gitu!” Alvin melempari muka Rachel dengan bantal sofa.
“Iya, dek, iya! Wajar banget kok! Lempar-lempar gini tuh nggak sopan lho Dek, sama kakak!” Rachel menyilangkan kedua tangannya diatas kepala sebagai tameng dari lemparan bantal sofa dari Alvin.
Alvin ikut tertawa. “Oh, jadi sekarang, mau main kakak-adek-an?” ia malah mengerling jahil.
Kali ini gantian muka Rachel yang memerah. “Apaan sih?!”
“Gue nggak mau ya, hubungan kita stuck di kakak-adek zone gitu!”
Rachel melotot. “Maksud lo apaan sih?!”
Tawa Alvin pecah lagi. “Gue ogah jadi adek lo!”
“Siapa juga yang mau jadi kakak lo?!”
“Tadi ngapain panggil dedek-dedek segala? Itu panggilan sayang nyokap gue ke gue. Kata nyokap, gue bakal terus dipanggil dedek, sampe gue nikah.”
Rachel kembali tertawa terbahak-bahak. “Gue juga dong! Gue panggil lo dedek juga ya, sampe lo nikah!”
‘Kalo lo nikahnya sama gue, ntar abis nikah lo gue panggil, Sayang deh!’ Lanjut Rachel dalam hati.
Perlahan, Rachel mulai bisa membuka dirinya pada Alvin. Hal ini secara tidak langsung membuat sifat Rachel yang dulu, yang agak lebay dan labil, kembali muncul. Sifat Rachel yang hanya akan keluar ketika dia bersama Mamanya, juga dengan Ale, saat hubungannya masih sangat baik. Tapi lama kelamaan Rachel malah jadi ilfeel dengan dirinya sendiri.
“Emang lo sayang sama gue?” pertanyaan Alvin malah membuat Rachel ternganga. “Nyokap gue kan, panggil gue dedek sebagai panggilan sayangnya ke gue. Jadi, kenapa lo pengen panggil gue dedek juga? Lo sayang gue juga?” Alvin menjabarkan kalimatnya.
Harus banget ya, Alvin langsung bertanya segamblang itu dipertemanannya yang belum lebih dari dua bulan ini?
Tbc~