Chapter 10.1

2077 Kata
          Alvin tersenyum lebar setelah menyanyikan lirik terakhir lagu Say You Won’t Let Go. Dia tidak menghitung sudah berapa lagu yang dia nyanyikan didepan Rachel. Entah mendapat eneri darimana, rasanya Alvin seperti pengamen yang punya gitar baru, dan terasa bersemangat banget nyanyi terus.         Rachel yang seumur hidupnya nggak pernah diperlakukan begini oleh siapapun, tentu merasa sangat tersipu. Selama ini dia kira, ucapan orang-orang soal cowok idaman adalah yang bisa bernyanyi dan bermain gitar itu hanya gossip semata. Sekarang Rachel akan mengakuinya dengan jelas, kalau itu benar-benar charming dan romantis banget.         Ah, sepertinya Rachel terlalu berlebihan. Mungkin ini adalah salah satu efek dari jatuh cinta. Apa saja yang ada dalam diri Alvin terlihat sangat menakjubkan dimatanya. Seandainya Alvin ini hanya pengamen betulan yang suka berkeliaran di lampu merah, mungkin Rachel juga tetap akan menganggapnya sebagai cowok paling charming yang pernah dikenalnya.         Setelah jeda satu menit untuk memikirkan lagu apa yang selanjutnya akan dia nyanyikan, kini Alvin menyanyikan lagu Beautiful milik Bazzi feat Camila Cabelo. Bola mata Rachel dihadapannya kembali berbinar-binar disertai senyuman lebar. Rasanya baru kali ini rahang Rachel capek karena terus-terusan senyum sepanjang lagu.         “Lagu apa lagi?” tanya Alvin.         “Nggak capek, nyanyi terus dari tadi?” Rachel menyodorkan gelas air putih kehadapan Alvin. Sejak mendengar Mamanya Alvin melarang putranya itu untuk mengurangi soft drink, Rachel langsung mencegah cowok itu membuka kaleng kedua soft drink-nya. Dan digantikan dengan air putih. Hebatnya, Alvin yang biasanya tidak pernah suka minum air putih, langsung menerimanya tanpa banyak protes. Dasar kaum bucin!         Malah, Alvin berterimakasih dengan senyuman lebarnya, dan mengatakan, “Makasih ya, pacarku. Udah perhatian banget sama aku, kayak Mama aja deh!”         Ini adalah kesekian kalinya Rachel main ke apartemen Alvin. Semenjak hari pertama Rachel menginjakkan kakinya dia apartemen Alvin, hubungan keduanya sudah tidak sama lagi. Tanpa memproklamasikan status hubungan dan sebagainya, keduanya sudah sama-sama tahu kalau hubungan ini sudah naik satu tingkat. Mereka mulai menghabiskan banyak waktu bersama dengan bertukar tawa, diselingi dengan permainan gitar Alvin yang tidak pernah membuat Rachel bosan.         “Bakat banget jadi pengamen ya, lo!”         Alvin menerima minuman kaleng yang disodorkan Rachel, dan menyesapnya sedikit. “Gue kan vokalis. Udah sering, nyanyi seharian nggak berhenti.”         Kening Rachel mengerut, “Hah? Vokalis apaan?”         Sambil meletakkan kaleng minumannya, Alvin mendengus. “Lo beneran se-ansos itu ya? Di kampus lo cuma kuliah terus langsung cabut ke Mall?”         “Nggak ke Mall juga kali! Gue langsung balik ke apartemen.” ralat Rachel.         “Di apartemen ngapain?”         “Apaan sih? Kok jadi nanya-nanya kepo?” omel Rachel. “Jadi lo vokalis beneran? Punya band?”         Mau tidak mau Alvin mengangguk. “Iya. Di kampus kan gue ikut UKM musik. Nah karena ketemu sama banyak anak yang sama-sama suka musik gitu, gue sama temen-temen berinisiatif bikin band gitu.”          “Cowok-cowok yang ketemu sama gue pas di lift itu inget? Alah, yang waktu itu gue ngobrol sama nyokap di depan lift, dan lo malah ngelamun didepan lift sambil—“         “Iya, iya, inget! Nggak usah diperjelas lagi deh, bagian itunya!” sela Rachel mengerucutkan bibir.         Alvin tertawa. “Lo pasti nggak lupa kan sama Fabian dan Rafa? Mereka sebenernya mau nyapa lo pas di lift itu. Tapi ngelat muka lo yang lagi sedih gitu, mereka nggak berani. Maklumin deh, ya. Kalo belum kenal, dua curut itu emang cupu banget. Tapi kalo udah akrab, jangan kaget deh! Bakal pusing lo dengerin ocehan mereka yang nggak berfaedah sama sekali.”         Rachel mengangguk malas untuk menjawab pertanyaan Alvin.         “Nah, cowok yang satu lagi itu namanya Bagas. Yang tinggi dan katanya ganteng, padahal masih gantengan gue banget deh. Mereka personil band gue. Sama satu lagi Ari. Jadi kita belima.” Terang Alvin. “Gue kan vokalis, sama kadang pegang gitar juga. Terus Ari basis-nya. Bagas pegang drum, terus—“         “Oke, stop! Gue nggak peduli mereka ngapain.” Potong Rachel.         “Pedulinya sama gue doang ya?” goda Alvin.         “Yaiyalah!”         Menyadari perubahan muka Alvin yang jadi cengar-cengir ke-geer-an, Rachel jadi merutuki spontanitas-an nya dan buru-buru meralatnya. “Ya, maksud gue, cuma lo yang gue kenal kan. Jadi, kalau pun lo ceritain tentang mereka ngapain aja, gue nggak bakal paham karena nggak kenal. Terus besok juga gue langsung lupa gitu aja. Kan mubadzir tenaga lo dipake buat cerita panjang-panjang, ujungnya gue lupain juga!”         Tawa Alvin kembali pecah. Kini ia meletakkan gitarnya dilantai, menyandarkannya pada kaki meja. Lalu menggeser duduknya agar lebih mendekat pada Rachel.         “Lo juga kenapa mubadzir tenaga banget sih, ngomong panjang lebar begitu? Padahal yang gue tangkep cuma satu kesimpulan,” Alvin sengaja mengambil jeda sebentar untuk menikmati muka Rachel yang penasaran. “Lo itu cuma peduli sama gue, dan naksir gue. Tapi lo denial, atau lebih tepatnya nggak mau mengakui, karena gengsi, right?”         Muka Rachel semakin merah padam. Ini yang Alvin suka setiap kali Rachel tidak memakai make up macam-macam. Semu merah yang menjalar sampai ke telinganya membuat Alvin semakin gemas. Keinginan Alvin untuk menjadikan Rachel sebagai gantungan kunci jadi semakin besar. Biar bisa dikantongin, dan dibawa kemana-mana.         “Narsis lo!” seru Rachel.         Ketika Alvin sudah siap melancarkan aksinya untuk menjahili Rachel lagi, ponselnya berbunyi. Membuat obrolan mereka terpaksa berhenti, sementara Alvin mengangkat telepon.         “Gimana, Sel?”         “Vin, lo serius nggak ikutan kita-kita liburan?”         “Enggak. Gue kan udah bilang sama Laura juga.”         “Kenapa sih? Kalo rame-rame kan lebih asyik tau!”         “Bukannya udah rame?”         “Apaan, orang Ferris kagak ikut. Lo juga. Rachel juga, mana tuh bocah? Hapenya aktif tapi Line gue nggak dibales! Boro-boro dibales, dibaca aja kagak!”         Pandangan Alvin langsung menoleh pada Rachel disampingnya. Sejak tadi, Alvin memang menyalakan mode loudspeaker, sehingga Rachel juga bisa menyimak obrolannya dengan Selin.         “Gue kan jarang pegang hape, Vin.” Tanpa diminta, Rachel menjelaskan dengan suara pelan, agar Selin tidak mendengarnya.         “Ferris kenapa kagak ikutan?” Alvin memilih menjauhi topik mengenai Rachel. Meskipun hubungannya sudah bisa dibilang sangat dekat tiga hari belakangan, keduanya masih merahasiakan hubungannya dari teman-temannya.          Kedekatan mereka dimulai dengan Alvin yang kembali menciumnya pada hari pertama Rachel main ke apartemen Alvin, dan langsung dibalas dengan ciuman yang sama seduktifnya oleh Rachel. Setelah itu mereka Alvin jadi tidak sungkan lagi untuk mencium Rachel kapan pun dia mau.         Sudah pasti ini permintaan Rachel yang Alvin tidak ketahui apa alasannya. Seandainya Rachel tidak melarang, jelas dengan sangat bangga Alvin akan mengenalkan pacar barunya ini pada seluruh penduduk dimuka bumi ini. Pertama, siapa sih, yang tidak bangga punya pacar secantik Rachel? Dan yang kedua, agar para cewek yang selama ini cari perhatian pada Alvin tidak lagi mengganggunya dengan status baru yang tidak jomblo lagi.         Sejak Alvin menjomblo setahunan terakhir, cewek-cewek di kampusnya dengan gencar memberikan segala perhatian padanya, yang lama-lama memuakkan. Apalagi para Maba sok imut yang dandanannya malah lebih mirip tantenya itu. Alvin mual banget karenanya. Untung dia sudah dididik oleh Mamanya untuk selalu berbuat baik pada siapapun, dan selalu menghormati perempuan. Sehingga mau tidak mau, ia tetap memperlakukan cewek-cewek itu dengan baik. Karena dia juga punya kakak cewek dan sangat sayang dengan Mamanya. Setiap ingin mengatakan kalimat yang agak kasar pada cewek, dia selalu teringat oleh kakak dan Mamanya.         Namun sialnya, hal ini malah membuat para fans Alvin semakin tergila-gila padanya, karena sosok Alvin yang humble dan super baik itu. Kemudian, mereka jadi menaruh harapan yang lebih pada Alvin, akibat kebaikan Alvin tersebut yang diartikan lain oleh mereka.         “Lo serius nanyain Ferris? Dia kan emang dari dulu ansos kayak Rachel. Mana mau dia ikutan liburan beginian kalo nggak dipaksa banget?”         Alvin tertawa kecil. “Ya lo bujukin gih! Biasa juga elo yang jago bujuk-bujuk gini!”         “Yaelah, lo nggak tahu aja gimana effort gue nyerocos panjang lebar ke dia, tapi tetep aja nggak di gubris. Lo gih, bantuin gue bujuk Ferris!”         “Iya, ntar kalo inget gue telpon dia.”         “Lo serius nggak ikutan, Vin? Kenapa sih? Tumbenan banget! Biasa juga lo sama Fabian semangat banget dah kalo liburan bareng gini!”         “Semester depan aja. Kalo liburan lagi, ntar gue ikut. Ke Pulau Seribu ya? Have fun, Sel!”         “Serius nih, lo nggak bisa di lobi-lobi lagi gitu?”         “Lo kata pasar kaget, pake di lobi-lobi segala!”         Tentu saja Alvin sangat keukeuh menolak ajakan Selin kali ini. Semuanya jelas karena Rachel yang tidak mau ikut juga. Lagipula, Rachel juga belum mau mempublikasikan kedekatan mereka. Sehingga kalaupun keduanya sama-sama ikut liburan, sama saja tidak bisa dekat dan jalan-jalan berdua aja.         Dibanding ke Pulau Seribu rame-rame begitu, jelas Alvin memilih tetap tinggal di Jakarta dengan Rachel yang siap menemaninya sepanjang hari selama dua bulan ke depan. Kalau pun nantinya mereka berdua ingin liburan, mungkin Alvin akan memilih Bogor atau Bandung sebagai pilihan wisatanya. Tempat yang menurut teman-temannya sudah sangat biasa, tapi belum pernah Rachel kunjungi.         “Yaudah, Sel. Salam buat yang lain! Jangan lupa oleh-oleh!” panggilan langsung Alvin putuskan secara sepihak.         “Lo nggak nyesel, nolak liburan bareng mereka?” tanya Rachel.         “Enggak lah! Gue udah tiga tahun bareng mereka! Udah nggak keitung berapa kali kita liburan bareng. Bosen kali!” jawab Alvin mantap.         “Segitunya banget lo pengen berduaan sama gue sampe dua bulan kedepan ya, Dek?”         “Lo panggil gue ‘Dek’ lagi, gue cium nih!”         “Masih kecil udah main cium-cium ya sekarang! Kakak aduin ke Mama nih!” ledek Rachel.         Tubuh Alvin mendekat kearah Rachel, bersiap ingin membungkam bibir mungil itu dengan bibirnya. Dengan gerakan cepat, Rachel langsung mendorong Alvin keras.         “Apaan sih? Gue kan nggak ada nyebut lo ‘Dek’ lagi!” sungut Rachel, masih berusaha menjauhkan tubuh Alvin yang masih berupaya untuk mendekat.         “Udah dong, Vin. Bibir gue udah bengkak banget nih, disosorin mulu!”         Alvin tertawa. “I love you, sayang!”         “Udah tau, Dek!”         “Minta dicium banget nih?”         Karena muka Rachel sudah sangat memelas, Alvin hanya tertawa dan kembali mengambil gitarnya. Ia memetiknya asal, sambil berfikir ingin menyanyikan lagu apalagi. Menyadari kalau saat ini Rachel tengah memperhatikan seluruh gerak-geriknya membuat Alvin mendadak salah tingkah, dan kehabisan ide mau menyanyikan apa lagi.         “Lo nyadar nggak sih Rach, kenapa belakangan ini hidup lo itu datar, dan sedih mulu bawaannya?” tanya Alvin dengan tangan yang masih memetik gitarnya sembarangan.         Kepala Rachel mendongak untuk menatap muka Alvin yang tengah menatapnya dengan serius.         “Karena apa yang lo rasain itu nggak pernah lo ungkapin, Rach.” Alvin melanjutkan kalimatnya.         “Kebahagiaan lo, kesedihan lo, kekecewaan lo, apapun yang lo rasain itu, harusnya selalu lo luapin. Biar nggak terpendam dihati lo, dan membusuk. Makanya, bawaannya lo jadi sedih, gelisah, dan nggak ada gairah buat hidup gitu.”         “Setiap orang punya banyak cara yang beda-beda buat ngelampiasin perasaannya. Kalo penyanyi, mungkin dengan dia menciptakan nada-nada baru yang menggambarkan perasaannya.”         “Lo tau Taylor Swift kan? Tau nggak kenapa lagu-lagu dia itu selalu cakep dan banyak banget peminatnya?” laki-laki itu menelan ludahnya sebentar. “Karna dia nyiptain lagu-lagunya dari hatinya. Di hampir setiap lagunya, Taylor Swift cerita tentang kehidupan yang dialaminya. Seolah dia lagi mencurahkan isi hatinya, dan langsung masuk ke hati pendengarnya. Sejenis dari hati ke hati gitu lah.”         “Kalo penulis, dia ngeluapinya dengan tulisan. Juga pelukis, dengan lukisan. Dan banyak deh! Yang paling simple nih, lo bisa nulis segala keresahan lo ini di buku diary. Mau dikata alay juga terserah. Yang penting, habis lo nulis semua yang lo rasain, lo bakal lega. Terus, lo bisa bakar tulisan lo itu, atau mau lo simpen juga terserah. Yang penting, perasaan lo udah terungkap.”         “Kalo males nulis, lo bisa ceritain ke orang lain—“         “Udah lama gue berhenti percaya ke orang.” Potong Rachel.         “Mulai sekarang lo bisa belajar mempercayai gue, Rach.” Jemari Alvin menggenggam kedua telapak tangan Rachel, menyalurkan keyakinan. Alvin yakin, dan Rachel harus sama yakinnya dengannya.         “Atau, kalo lo emang belum terbiasa, lo bisa dimulai dengan dengerin lagu-lagu yang sesuai sama perasaan lo. Dengan begitu hati lo jadi lebih lega karena tau kalau yang ngerasain itu nggak cuma lo aja.”         “Udah lama gue kehilangan tujuan hidup gue, Vin.”         “Lo bisa mulai bangun tujuan hidup lo dari sekarang. Seperti ingin membahagiakan orang yang lo sayang, kayak gue misalnya?” Alvin menyeringai jahil.         Rachel langsung mencebikkan bibirnya kesal.         “Hidup lo itu berharga, Rach! Sayang banget kalo dilewatin Cuma buat sedih-sedih aja.”         “Setidaknya, berharga banget buat gue!” lanjut Alvin dengan deru nafas yang tepat berhembus ditelinga Rachel. Tbc~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN