Chapter 12.1

4213 Kata
        Setelah hampir dua minggu berlibur di Pulau Seribu, Selin, Tasyi dan rombongannya kembali ke Jakarta. Sebenarnya mereka sudah kembali sejak dua hari yang lalu. Tapi, baru hari ini mereka mengajak teman-temannya yang lain untuk berkumpul di Rumah Tasyi.         Rachel sudah diberondong dengan banyak telpon dan chat dari Selin dan Tasyi sejak dua hari yang lalu. Mulanya, Rachel malas datang. Namun karena mendapat paksaan dari Alvin juga, akhirnya ia mengiyakan ajakan itu.         Untuk yang kesekian kalinya Alvin duduk di ruang tengah apartemen Rachel, bermain game diponselnya sambil menunggu perempuan itu bersiap-siap. Selama ini hanya Alvin, satu-satunya orang yang Rachel perbolehkan memasuki apartemennya sampai sejauh ini, selain cleaning service. Bahkan, Budi saja tidak pernah masuk sampai sejauh ini. Sejak Alvin berhasil membuat Rachel jatuh kedalam pesonanya, Rachel mulai membuka diri untuk Alvin, dan mulai mempercayai banyak hal.         Perlahan Rachel mulai melupakan malam-malam panjang penuh dengan isak tangis yang belakangan dia lewati. Melihat Alvin, rasanya Rachel seperti melihat semangat baru disana, untuk terus melanjutkan hidup dengan lebih baik lagi. Alvin benar-benar berhasil merubah seluruh kehidupan Rachel, dan beberapa cara pandanga Rachel dengan baik.         Layaknya kebanyakan pasangan yang baru dimabuk cinta, beberapa hari belakangan, seluruh dunia Rachel seperti hanya terpusat pada Alvin saja. Begitupun dengan Alvin yang tidak bisa berhenti memikirkan Rachel, dan mengkhayal apa yang akan terjadi di masa depan antara dirinya dengan Rachel.         “Gue udah oke belom?” Rachel berdiri diambang pintu, memperlihatkan outfit yang dipakainya pada Alvin. Sejak intensitas kedekatannya semakin meningkat, atau singkatnya bisa disebut dengan pacaran, Rachel jadi lebih sering menanyakan pendapat Alvin soal penampilannya, dan selalu menerima request apapun dari Alvin. Untungnya sejauh ini Alvin nggak pernah request yang aneh-aneh.         “Aku, Sayang.” Ralat Alvin.         Belakangan ini Alvin selalu memaksanya untuk menggunakan kata ganti aku-kamu, ketimbang gue-elo. Rasanya Rachel malah geli dengan panggilan itu. Padahal mereka sudah dekat sebulan belakangan. Entah kenapa Rachel masih belum terbiasa dengan panggilan itu.         Rachel mendengus. “Beneran mau share sama mereka kalo kita udah fix jadian?”         Alvin mengangkat kepalanya kearah sang pacar. “Mau nunggu sampe aku fix ngelamar kamu? Dan kita langsung nikah?”         “Tapi Laura itu naksir kamu tau!”         Ungkapan Rachel membuat Alvin bangkit dari duduknya, dan berjalan kearahnya. Laki-laki itu terkekeh memandang ekspresi Rachel dengan muka ditekuknya. Alvin suka setiap kali Rachel merajuk manja begini.         “Tapi aku cintanya cuma sama kamu.” Alvin mennyentuh dagu Rachel, akan menatapnya. “Laura itu udah aku anggep kayak Adik aku sendiri.”         “Gimana bisa, Dedek punya Adek?” balas Rachel meledek.         “Minta aku cium banget ini?” Alvin mendengus kesal. Ia sebal setiap kali Rachel mengungkit panggilan kesayangan Mamanya itu. Sepertinya ini adalah cara paling ampuh bagi Rachel untuk membuat Alvin kesal.         “Nanti kalo mereka anggep aku pelakor gimana?” Rachel memeluk Alvin. Laki-laki itu balas mengelus puncak kepala Rachel perlahan.         “Kan aku jomblo sejak setahun yang lalu. Aku juga nggak pernah naksir Laura atau ngasih kode ke Laura kalo aku naksir dia.”         “Tapi kedekatan kalian berdua bikin Laura jadi nge-artiinnya lebih!” bantah Rachel. “Kamu sadar nggak sih, selama ini Laura itu jomblo. Nggak pernah punya pacar, karna dia ngarepin kamu dan nunggu-nunggu kamu putus dari pacar-pacar kamu itu!”         “Harusnya dia paham dong, kalo aku nggak ada perasaan apapun sama dia, karena sejak dulu aku udah tegasin ke dia kalo aku sama dia cuma sahabat aja. Seandainya aku ada rasa sama dia, nggak mungkin aku ada disini. Mungkin sekarang aku lagi di apartemen dia, dan jadian sama dia sejak SMA dulu, jadi selama ini aku nggak perlu gonta-ganti pacar.” Alvin mengambil jeda sejenak. Pelukan keduanya sudah terlepas, berganti dengan Rachel menatapnya kesal.         “Jadi selama ini kamu suka gonta-ganti pacar? Nanti kalo udah bosen sama aku, ganti sama yang lain?” tanya Rachel dengan pelototan tajam.         “Mantan aku cuma 3. Apa itu bisa dibilang gonta-ganti pacar?”         “Setiap aku pacaran, aku selalu serius, Rach. Maksud aku, aku bener-bener pacaran sama cewek yang aku cintai dan nyaman buat aku. Dan masa pacaran aku nggak sebentar. Selalu lebih dari setahun. Harusnya itu aja udah cukup buat bikin dia paham kalo aku emang nggak cinta sama dia! Karena kalo aku cinta, aku bakal langsung ungkapin saat itu juga.” Jelas Alvin. “Kamu tahu sendiri aku bukan tipe orang yang bisa mendam perasaan lama-lama. Sama kayak perasaan aku ke kamu yang nggak bisa aku pendam lama-lama!”         Rachel mencebikkan bibirnya. “Minggir-minggir, gue mau muntah dulu!” ia masih belum terbiasa dengan gombalan Alvin macam ini. Rachel pun mendorong tubuh Alvin pelan, dan berbalik badan untuk ganti baju. Mengingat kalau sebentar lagi ia akan bertemu Laura, membuat kepercayaan diri Rachel menguap entah kemana. Ia sudah berganti baju beberapa kali, dan masih tidak pede dengan penampilannya saat ini. Sepertinya, mereka berdua sudah terlambat.         Tiba-tiba saja, tubuh Rachel tertarik kebelakang. Dengan gerakan secepat cahaya, Alvin sudah melumat bibir Rachel lembut. Membuat kedua lutut Rachel melemas.         “Berhenti ngomong gue-elo lagi!” ucap Alvin dengan menempelkan hidungnya pada hidung Rachel. Kemudian, ia mengecup bibir Rachel berkali-kali.         “Nggak usah ganti baju lagi. Kamu udah cantik banget.” Alvin menelan ludahnya, membuat jakunnya bergerak naik-turun. “Maksud aku, kamu selalu cantik banget. Kita hadapi ini sama-sama. Kita emang nggak bisa merubah perasaan orang terhadap kita. Karna itu udah diluar kendali kita. Jadi, selama kita berada di jalan yang benar, kamu nggak usah khawatir, no matter what they say, I still love you.”   ***           Setelah berganti dua kali, akhirnya Rachel memilih memakai dress floral sederhana tanpa lengan, dengan sneakers berwarna senada. Meskipun tampak sederhana, Selin dan Tasyi tetap saja terperangah dengan penampilan Rachel ini. Karena dress yang tengah melekat pada tubuh Rachel itu dari Oscar de la Renta. Selin hafal banget dengan motif ini.         Dress Rachel yang membuat keduanya kagum berhasil membuat Selin dan Tasyi tidak jadi marah karena Rachel datang super telat. Terlambat satu jam lebih. Ditambah kebingungan mereka semua ketika melihat Rachel datang bersama Alvin.         “Dari mana sih lo? Lemot amat kayak wifi kosan!” cerocos Fabian pada Alvin.         Seluruh tamu yang datang ketika malam tahun baru kemarin sudah berkumpul di ruang tengah rumah Tasyi yang luas. Para cewek duduk di sofa, sedangkan para cowok duduk dilantai, bersandar pada kaki sofa.         “Apartemen.” Jawab Alvin singkat. Ikut duduk disebelah Fabian.         “Kalian berdua gimana bisa bareng?” tanya Laura dengan tatapan penuh selidik.         Alvin melirik Rachel yang tampak santai saja, seperti tidak berniat menjawab sama sekali, dan malah menyahuti ocehan Tasyi tentang Jakarta Fashion Week.         “Kita kan satu apartemen.” Jawab Alvin santai. “Sekalian aja, bareng.”         “Cieee kitaaaaaaa…” Rafa yang mulutnya mirip mercon lima ratusan, langsung meledek. “Pajak kali, pajak! Jadian nggak ngobrol-ngobrol!”         “Alah, sok-sok-an alesan satu apartemen segala! Biasa juga Rachel bareng supirnya!” tukas Gilang. “Pasti Rachel lo jampi-jampi ya, sampe mau bareng sama lo gitu?”         “Yee… emang elo, yang pake pelet buat Keara?!” balas Alvin. Kemudian tatapannya beralih pada Keara. “Lo hati-hati, Key. Pelet yang dia beli itu yang murahan! Efeknya nggak bakal bertahan lama. Paling bentar lagi juga lo bakal sadar dan ilfeel sama diri lo sendiri karna mau-maunya jadian sama terpal pecel lele kayak begini!”         Muka Keara memerah mendengar celotehan Alvin. Rachel jadi teringat ketika Gilang mau membayarinya nonton tempo hari di Grand Indonesia, dan bergandengan mesra dengan Keara. Ketika itu Rachel memang sedang galau karena Alvin tidak mengabarinya lagi. Jadi, Rachel baru sadar sekarang kalau waktu itu adalah pajak jadian Keara dan Gilang.         “Udah deh, Vin. Lo nggak usah mengalihkan pembicaraan. Lo udah jadian dari kapan?” tanya Rafa mulai mengintrogasi.         “Atau jangan-jangan pas kita ketemu di lift bulan lalu itu, kalian udah jadian ya?  Kenapa lo malah keluar lift bareng Rachel di lantai apartemen dia?” tambah Fabian yang menarik perhatian semua orang disana. Tasyi dan Selin yang semula sibuk membicarakan acara fashion show di berbagai negara, langsung diam dan ikut menyimak ucapan Fabian. Alisa yang tadinya sibuk dengan ponsel, langsung meletakkan ponselnya. Semua mata, menatap kearah Fabian dan Alvin bergantian.         “Buset! Belom apa-apa udah main ke apartemen segala ini Dedek!” pekik Gilang sambil menjitak kepala Alvin.         “Gimana-gimana, cerita yang bener dong, Yan! Biar pada paham ini.” tanya Selin, memperbaiki duduknya bersiap mendengarkan dengan seksama.         “Apaan sih? Gue baru dateng ini, udah gosip aja! Nggak ditawarin makanan dulu apa gimana?” omel Alvin, memperhatikan satu persatu makanan yang terhidang di meja.         “Diem deh, nyet! Gue lebih minat dengerin cerita Fabian!” tukas Gilang.         “Lo aja, Raf, yang cerita!” Fabian menunjuk Rafa dengan dagunya.         “Jadi kalian berdua ketemu Alvin di lift? Gimana sih?” Laura yang sudah tidak sabaran bertanya penuh desakan.         “Alah, palingan juga ini kunyuk cuma disuruh Rachel ngangkatin galon ke dispenser. Iya kan, Chel? Secara, muka kacung begini.” Komentar Keara.         “Woy, muka ganteng gini lo katain kacung! Pacar lo tuh mirip kaos partai kuli bangunan!” balas Alvin tidak terima.         Sejak tadi pandangan mata Rachel tidak lepas dari Laura. Dari gelagat Laura yang sesekali melirik kearahnya, Rachel sudah bisa menebak kalau sebentar lagi akan ada drama FTV. Beberapa bulan mengenal Laura, membuat Rachel paham kalau Laura orang yang cukup ekspresif, dan sedikit temperamental.         “Jadi waktu itu tuh, Fabian sama Bagas mau nginep di apartemen gue. Pas lagi didepan lift, gue ngeliat Alvin lagi ngobrol sama nyokapnya didepan restoran yang agak deket sama lift. Mau gue sapa, nggak enak kan, nyokapnya lagi nyeramahin dedek panjang lebar gitu.” Rafa mulai bercerita, dan terpaksa berhenti karena Alvin melemparinya dengan kulit kacang.         Semuanya tertawa—kecuali Rachel, Laura dan Alvin. Rachel hanya menyunggingkan senyum tipis, sementara Alvin menekuk mukanya yang memerah.         “Dedeknya Mama, sekarang udah punya pacar? Alhamdulillah udah move on!” ledek Gilang, kembali mengundang tawa teman-temannya, kali ini Laura tidak ikut tertawa.         “Gue emang udah move on dari lama kampret!” sungut Alvin. Kali ini sasaran lemparan kulit kacangnya berpindah pada Gilang.         “Nah, pas lagi nungguin lift, gue liat tuh ada cewek, mirip Rachel. Lagi ngelamun didepan lift. Mau gue sapa nggak enak aja. Takut salah orang juga.” Lanjut Rafa, memalingkan pandangannya pada Rachel. “Lagian gue kan nggak tahu kalo Rachel seapartemen sama gue juga. Jadi takutnya itu bukan Rachel, cuma mirip doang.”         “Tapi sebenere gue udah yakin kalo itu emang Rachel. Cuma karena Rachel malah ngelamun gitu, mau gue sapa juga nggak enak.” Sela Fabian. “Maap ya Chel, bukannya gue sombong atau apa. Cuma gue takut ganggu lo aja gitu. Lagian gue juga bingung mau ngajak Rachel ngomong apa. Gue kan anaknya introvert, nggak pinter basa-basi.”         “Introvert pala lo peang!” protes Rafa sambil melotot kearah Fabian. Siapapun yang mendengar kalimat Fabian tadi juga langsung paham kalau ucapan itu bertolak belakang dengan kenyataan yang bahkan Fabian sulit banget disuruh diem, saking bawelnya.         Rachel tidak tahu harus mengatakan apa, selain hanya mengangguk kecil dan melemparkan senyum tipis. Ia cukup bersyukur karena dua laki-laki ini tidak menyapanya saat itu, karena kalau iya, mungkin akan terasa sangat awkward banget, dan Rachel tidak tahu harus menanggapinya bagaimana. Rachel bukan cewek yang suka mengobrol tidak penting dengan orang yang tidak dikenalnya dengan baik.         “Terus pas udah didalem lift, si monyet ini emang gobloknya udah meresap ke DNA anjing! Makan malem yang kita beli, malah ditinggal di mobil.” Sela Fabian sambil menoyor kepala Rafa. “Yaudah dong, kita balik ke basement buat ambil makanannya.”          Rafa hanya cengar-cengir sambil makan kacang kulit yang ada di meja. “Habis ambil makanannya, kita langsung naik lift lagi dari basement. Pas nyampe lantai ground, lift berhenti, Alvin sama Rachel masuk.”         Semua audience memasang telinga dengan baik dan muka sangat antusias. Kecuali Rachel yang hanya diam, menunduk pura-pura fokus dengan ponselnya. Sedangkan Alvin sibuk makan kacang, ikut memperhatikan cerita, takut dua kampret itu menambah-nambahi jalan cerita dan dibuat menjadi mirip FTV.         “Terus yaudah, gue ngobrol sama Alvin. Karena gue liat Rachel kayak lagi sedih gitu, gue jadi nggak enak mau ngajak ngobrol.” tutur Rafa.         “Alvin nggak ngajakin Rachel ngobrol?” tanya Rysaka yang sejak tadi ikut menyimak.         Fabian menggeleng. “Alvin malah ngobrol sama gue, Rafa dan Bagas.”         “Cupu lo, Vin! Ngajak ngobrol doang aja nggak berani! Dimana-mana kalo liat gebetan sedih tuh, dihibur dong! Jangan malah dikacangin! Lo kata martabak, dikacangin?!” ledek Gilang.         “Gebetan? Emang Rachel mau lo gebet, Vin?” tanya Ilham.         “Yaelah, Ham. Kalo gue liat dari tingkat kebawelan itu kunyuk dan mukanya yang sekarang cengar-cengir gitu mah, gue yakin doi udah jadian. Lo nggak tau aja gimana rewelnya kunyuk itu tiap hari ke gue kayak nenek-nenek sakit gigi!” Gilang lebih dulu menjawab. Dan langsung mendapat pelototan beserta lemparan kulit kacang dari Alvin yang semakin membabi buta.         Sekarang, gantian Gilang yang menjadi pusat perhatian. “Dari awal ini bocah ketemu Rachel pas di lobi itu ya, dia udah bawel banget. Kan waktu itu gue mau balik sama dia, terus buku gue ketinggalan di kelas. Yaudah gue suruh Alvin nungguin gue dulu di lobi, kan baliknya gue mau nebeng.” Gilang menceritakan awal mula pertemuan Rachel dengan Alvin versinya. “Terus pas di lobi dia nggak sengaja ketemu Rachel. Kalian semua tahu, itu bocah langsung meluk gue begitu gue dateng. Sialan banget tuh bocah, curi-curi kesempatan buat peluk-peluk gue!”          “Loh, katanya kemaren lo juga naksir Alvin? Gimana sih?” Rysaka ikut bersuara.         “Iya, Lang! Bilang aja lo seneng kan dipeluk pujaan hati lo!” tambah Ilham mengompori.         “Setan lo pada! Gue baru aja jadian ini, jangan ngerusak ketentraman rumah tangga gue dong!” omel Gilang.         “Terus ya, Alvin bilang, ‘Makasih coy, gara-gara lo lama, gue jadi ketemu bidadari yang kesasar di Bumi. Sumpah, bakal gue kejar tuh anak biar nggak balik ke kayangan lagi, dan menetap di Bumi jadi istri gue!” Gilang melanjutkan ceritanya.         Bola mata Selin terbelalak penuh ledekan. “Seriously, istri Vin? Nggak bisa bayangin gue, gimana jadinya kalo Dedek Alvin nikah muda.”         “Lebay banget kan? Semenjak itu kalo tuh anak abis ketemu Rachel nih, cengar-cengir mulu! Kayak anak SD baru sunat terus dikasih banyak amplop.”         “SUMPAH IYA LEBAY BANGET JIJIK GUE ANJIR!” seru Rafa. “Pas latian band aja nih ya, itu bocah cengengesan terus! Gue beneran khawatir dia kena rabies atau apa gitu kan. Pas gue tanyain, dia bilang, ‘Gue mau nyanyiin Rachel lagu yang romantis gitu ah! Rekomendasiin lagu cakep yang nggak alay tapi ngena dong!’ beuhhh ilfeel banget gue aseli!”         “Untung ganteng. Jadi mau cengar-cengir bego juga, gue nggak keganggu banget lah.” Komentar Gilang.         “Nah, ini nih! Yang bikin gue semakin yakin kalo lo tuh emang naksir Alvin kan?” tukas Rysaka dengan telunjuk yang mengarah pada Gilang.         Alvin langsung melempar Gilang dengan segenggam kulit kacang. “Baru kali ini lho, gue dipuji cowok kalo gue ganteng! Anjing, gue jadi seriusan takut sama lo nih!”         “Jadinya, gimana Vin? Lo udah nyanyiin dia lagu apa?” tanya Fabian.         “Bentar deh! Ini malah jadi bahas apaan sih? Yang runtut dong, kalo cerita!” omel Laura dengan muka memerah, entah karena menahan tangis, emosi, atau dua-duanya.         “Udah, langsung keintinya aja lah!” ucap Keara.         “Gimana-gimana? Jadinya Alvin tuh deket sama Gilang apa sama Rachel?” tanya Alisa dengan tangan yang memasukkan kacang ke mulutnya.         Bukannya menjawab pertanyaan Alisa, Alvin malah cengar-cengir sendiri, yang membuat teman-temannya semakin khawatir dengan kewarasan jiwanya.          “Lo tuh mau nyanyiin Rachel Cuma halu doang, apa emang udah usaha sih?” tanya Rafa.         “Udah usaha dari lama kali! Gue tahu kok, kalo dari awal juga Alvin langsung sepik-sepik Rachel!” akhirnya Gilang angkat suara dengan mimik muka serius.         Tasyi dan Selin tertawa keras. “Oh, terus elo cemburu gitu? Pas tahu Alvin sepik-sepik Rachel?”         “Lah, mereka kan udah lama deket! Tiap malem nih, mereka kalo pacaran di apartemen. Kadang di apartemen Rachel, kadang di apartemen Alvin. Iya kan, Vin?” tiba-tiba Ilham mengatakan sebuah fakta yang cukup mencengangkan, termasuk Rachel yang langsung menatap Alvin tajam.          “Ya nggak tiap hari juga lah kampret!” refleks Alvin membantah ucapan Ilham. Sementara Rachel yang masih bingung kenapa Ilham bisa tahu, semakin menatap tajam kearah Alvin.         “Nggak tiap hari? Oh jadi bener, emang tempat pacarannya di apartemen? Keren sih, kalian mainnya alus banget! Pantes aja kita nggak tahu!” sahut Ilham dengan tawa meledek. “Tadinya tuh gue Cuma asal ceplos aja lho! Tapi ngeliat reaksi lo dan Rachel yang tegang gini, dan lo sendiri yang bilang, gue jadi nggak nyangka kalo omongan gue bener ya, ternyata?”         ‘b*****t, Ilham!’ Alvin langsung misuh-misuh dalam hati dan bertekad membuat perhitungan ke si kampret itu besok-besok.         “Kalo udah sering main ke apartemen masing-masing, berarti hubungannya udah fix ini?” tanya Selin.         “Yaudah sih, fix-in ae! Melas juga gue lama-lama ngeliat lo jomblo mulu, Vin!” tambah Ryshaka.         “Kalo Alvin sama Rachel jadian beneran, menurut kalian gimana?” tanya Tasyi.         “Ngapain nanya-nanya kayak gitu sih? Kan gue bilang juga apa, tanpa kalian bilang setuju apa enggak juga, dari mukanya kunyuk itu udah ketara banget kalo mereka emang udah jadian!” tukas Gilang.         “Iya, lagian kenapa harus nanya setuju apa enggak sih? Kan nggak bakal juga mereka putus kalo kita nggak setuju. Gue sih, pro.”         “Gue pro.” Ucap Ilham cepat, setelah Tasyi mengucapkan kalimat diatas barusan.         “Bucin lo, ikut-ikutan cewek lo doang!” cibir Gilang.         “Eh, serius gue. Liat Alvin sama Rachel cocok kok. Tuh, liatin Alvin dari tadi ngelirik ke bidadarinya terus, takut digodain Rafa!” sahut Ilham cepat. Jarak duduk Rachel dan Rafa memang agak dekat. Hanya saja, Rachel diatas sofa, dan Rafa duduk dilantai.          “Gue kontra.” Potong Alisa yang membuat suasana cukup mencekam.         “Gue pro.” Ucap Selin. “Cocok ih, kalian tuh!"         “Gue pro juga deh.” Rysaka menyengir. “Biar kalian jadian beneran, dan kita dapet traktiran sushi gratis kan, lumayan.”         “Gue kontra.” Ucap Keara.         “Kok gitu sih, beb? Padahal aku kan pro.” protes Gilang yang duduk didepan Keara, dan mendongakkan kepalanya untuk melihat muka Keara yang duduk diatas sofa.         “Suka-suka gue dong! Kan cuma pendapat aja.” Keara mendengus kecil.         “Gue pro.” Kata Fabian.         “Gue juga pro. Ngenes juga gue kalo liat Alvin kelamaan merana gara-gara mantan-mantannya udah punya gandengan baru semua.” Ucap Rafa.         “Yaiyalah, mantan gue pada selingkuh. Semenit abis putus juga mereka langsung ada pacar!” sungut Alvin.          “Ngenes banget ya, kisah cinta lo! Ganteng-ganteng diselingkuhin mulu!” Gilang menggeleng-gelengkan kepalanya.         “Tuh kan, Yan! Gue jadi makin takut nih kalo deket-deket sama Gilang! Dia ngatain gue ganteng mulu!” adu Alvin pada Fabian. Tapi Fabian hanya tertawa medengar aduan Alvin.         “Bahaya lo, Lang! Jangan-jangan emang bener ya, Keara Cuma lo jadiin alibi doang, biar lo nggak ketahuan ngondek?”         Alih-alih membantu Gilang yang sedang dibully dan menjadi pusat perhatian, Keara malah tertawa keras, ikutan meledek.         “Rachel dulu juga pernah diselingkuhin kan, sama mantan lo?” suara Selin mengalihkan pembicaraan yang semula masih meledeki Gilang. Sekarang gantian Rachel dan Alvin yang kembali menjadi pusat perhatian semuanya.         “Nah tuh! Yaudah! Bungkus aja, Vin! Bungkussss!” seru Rafa. “Kan kalian berdua udah sama-sama ngerasain diselingkuhin. Jadi, nggak akan selingkuh dong, logikanya!”         “Bentar-bentar, jadi ini yang tadi kontra, kasih alasannya dong!” sela Rafa, lalu menoleh kearah Laura. “Lo sariawan, Lau? Diem aja lo dari tadi, mulut lo ada bisulnya?”         Selin dan Tasyi saling bertukar pandangan. Keduanya baru ingat kalau dibalik kisah bahagia Alvin dengan Rachel, ada hati yang sejak tadi terluka. Bukannya Selin menghianati Laura karena lebih membela Rachel, tapi Selin hanya realistis saja. Seperti ucapannya beberapa waktu lalu. Alvin nggak mungkin punya rasa lebih dari sekadar teman pada Laura. Dari pancaran sinar mata Alvin ketika melihat Rachel sudah cukup membuktikan kalau laki-laki itu tidak main-main dengan Rachel.         Sejak awal Selin dan Tasyi juga sudah mengingatkan Laura soal ini. Sebenarnya dia juga sudah bisa menebak kalau Alvin pasti akan berhasil mendapatkan Rachel. Tapi dia tidak menyangka kalau akan terjadi secepat ini.         “Lo nggak ada komentar apaan gitu, Chel? Dari tadi diem aja.” menyadari kalau Laura tampak tidak ingin menyahuti ucapannya, Rafa beralih pada Rachel, laki-laki itu menggeser tubuhnya, agar memudahkan menatap Rachel.         Hening beberapa saat. Rafa pikir, Rachel tidak akan mengucapkan apapun, karena saat ini muka Rachel datar banget, seperti malas menggubris. Namun, dugaan Rafa salah ketika tiba-tiba saja, mulut Rachel mengeluarkan suaranya.         “Komentar apaan dong? Kalo gue sama Alvin udah jadian beneran gimana?”         “Bangsyaaaaattttttt!” pekik Gilang diikuti dengan umpatan teman-temannya yang lain. “Ngaco lo, Chel! Mau jadi YouTuber lo? Pake nge-prank segala!”         “Lo beli pelet dimana, Vin? Cepet banget reaksinya?”         “What the f**k!”         “Demi apaaa, Dedek Alvin?”         “Wah, enak nih, akhir bulan gini ada traktiran Sushi gratis!”         “Udah dari kapan, Vin? Ngaco lo sialan!”         “Untung nih, yang ngomong Rachel nya langsung. Kalo yang ngomong kunyuk ini, mau dia ngomong sampe seribu kali juga gue nggak akan percaya!”         Kehebohan mereka terhenti ketika Selin, Keara, Tasyi, dan Alisa menatap kearah Laura dengan bola mata berkaca-kaca, menahan tangis. Alvin terkesiap. Tidak menyangka kalau ucapan Rachel tadi benar adanya. Laura, sahabat kecilnya itu tampak terluka.          “Nggak nyangka gue, Chel!” bisik Laura pelan. “Lo kan udah tau dari awal kalo gue naksir Alvin! Dulu lo pernah ngerasain gimana sakitnya ditikung sahabat lo sendiri kan? Terus, sekarang lo balesnya ke gue?” intonasi Laura agak meninggi dengan tatapan tajam kearah Rachel.         Rachel tetap tenang dan menatap Laura datar. Sementara teman-temannya yang lain, mulai siaga satu, bersiap melerai kalau nantinya akan ada kejadian jambak-jambakan atau cakar-cakaran.         “Alvin kan nggak ada rasa sama lo. Dan kalian berdua nggak pacaran. Kenapa gue harus lo katain nikung?” tanya Rachel dengan sangat tenang dan nyaris tanpa ekspresi.         “Lau… please!” Alvin mengucapkannya pelan, dengan tatapan memohon, agar Laura tidak mengucapkan sumpah serapah pada pacarnya, dan bisa nerima ini dengan baik.         “Apa Vin? Apaa? Gue kurang apa?! Kurang seksi? Kurang tajir? Apa karena lingerie gue mereknya bukan dari Victoria’s Secret? Iya? Lo cuma naksir lingerie dia aja kan?” Laura tersenyum sinis. “Eh gue lupa! Kalo sama dia kan, dia nggak perlu susah-susah pake lingerie apalagi pake baju ya, Vin?”         “Dia udah berhasil muasin lo, iya?”         Serta merta bola mata Alvin memerah, menahan emosi. Ia langsung bangkit, dan berjalan kearah Rachel. Menarik tangan pacarnya itu cepat, dan berjalan menjauhi lingkaran sofa itu.          “Sekarang gue masih inget kalo lo sahabat gue. Gue masih sabar, ya, Lau. Besok-besok, jangan bikin gue kasar sama lo!” ucap Alvin tajam dengan penuh penekanan. Lalu ia membawa Rachel keluar dari Rumah Tasyi.         “Kasar, lo Lau! Kecewa gue, sama lo!” ucap Gilang ikut bangkit dari duduknya, berpindah pada sofa disebelah Keara. “Kita semua tau sendiri kalo sampe sekarang Alvin masih perjaka dan nggak pernah kepikiran kayak begitu sama siapapun. Ngapain lo sampe mikir kesono?”         “Udah, kamu diem aja, nggak usah bikin makin tambah panas!” bisik Keara.         Tangis Laura sempurna pecah. Dadanya naik turun sesenggukan. Dengan sigap, Alisa yang berada disebelah Laura langsung memeluknya. Sementara para laki-laki hanya diam, dengan saling melempar pandangan bingung, lantas malah beralih pada ponsel masing-masing dan bermain game online. Mereka semua jelas bingung harus melakukan apa disaat situasi seperti ini.         Ketika Alvin dan Rachel sudah berada didalam mobil, keduanya hanya diam. Alvin menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Berusaha menurunkan emosinya.         “b******k! Kalo tadi yang ngomong Gilang, atau Rafa, udah aku pukulin sampe mati kali ya,” umpat Alvin, masih dengan d**a bergemuruh menahan emosi.          “Nggak usah.” Sahut Rachel sambil mengelus pundak Alvin, berusaha menenangkan. “Sayang tenaga kamu. Kebuang sia-sia.”         “Kenapa kamu setenang itu sih, dikatain kayak tadi? Kamu tahu sendiri kan, kalo aku beneran sayang kamu dan nggak pernah berniat sampe sejauh itu?” Alvin menghadapkan tubuhnya pada Rachel, menatapnya intens. “Iya. Aku emang cowok normal, yang pasti kepikiran itu. Tapi demi tuhan, Rach. Aku udah janji sama Tuhan dihadapan Mama kalo nggak akan ngelakuin itu sebelum resmi menikah!”         Kedua tangan Alvin menggenggam pundak Rachel, menyalurkan keyakinan. Alih-alih menyahuti ucapan Alvin, Rachel malah tertawa. Kemudian dia menarik tangannya dari genggaman Alvin, berganti dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Alvin, lalu menenggelamkan kepalanya pada d**a cowok itu.         “Iya, aku percaya dedek nggak akan ngecewain Mama!”         Alvin mendengus, tangannya yang semula mendekap Rachel, dan mengusap rambut Rachel perlahan, langsung dia lepaskan. Membuat Rachel melepaskan pelukannya juga, untuk melihat bagaimana ekspresi ngambek Alvin sekarang. “Ah, ngerusak suasana! Bete deh!”         Rachel tertawa keras. “Sayang!”         Mendengar panggilan yang Rachel ucapkan padanya, Alvin langsung menoleh dengan kedua bola mata yang tampak berbinar.         Tanpa mengucapkan apapun lagi, Rachel kembali memeluk Alvin erat. Membenamkan kepalanya pada d**a Alvin yang berbalut kaos polos dan jaket kulit hitam andalannya. Outfit kesukaan Rachel.          “Beneran janji nggak akan ninggalin aku?” tanya Rachel setelah mengecup rahang Alvin. Sementara Alvin balas mengecup puncak kepala Rachel bertubi-tubi.         “Iya, dedek janjiii, Ma!"          “Kok Ma, sih?”          “Kan kamu bakal jadi Mama dari anak-anakku!” Tbc~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN