"Aku memang terlahir sendirian, sebab itulah Tuhan membiarkanku tetap sendiri." _______________ Sendirian, hal itulah yang memang Nada butuhkan. Ia duduk teronggok di balik sebuah rak buku tanpa siapa pun di sisinya, ia juga tak membiarkan Adela mengikutinya. Nada merasa sudah hancur dalam sekejap, gadis itu merangkul kedua lututnya dengan kepala bersandar pada rak buku paling belakang itu, wajahnya sembap. Namun, siapa peduli? Toh orang-orang seperti bahagia melihatnya begini, mereka justru melempar cacian kepada gadis itu tanpa ampun, seolah Nada seekor semut yang mudah diinjak dan ditindas. Ia tak ingin keluar, biar saja ia sendirian asal tenang. Lagipula di luar sana ia hanya akan melihat wajah-wajah kemenangan di atas penderitaan orang lain. Sesekali dia menyeka ai

