Lusi menggenggam tangan David begitu erat saat memasuki rumah orang tuanya. Melihat tingkah istrinya David hanya tersenyum sambil menatap dalam istrinya untuk meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja.
"Eh kalian sudah datang ternyata, ayo masuk." Tanpa David duga Amie membukakan pintu tepat sebelum David mengetuk pintu itu.
"Iya Ma, kita baru aja sampai." David dan Lusi mencium tangan Amie secara bergantian sebelum mereka masuk ke dalam rumah yang sangat besar itu.
"Kalian duduk dulu ya, Mama mau ke belakang sebentar." Amie meninggalkan Lusi dan David yang sudah duduk di sofa ruang tamu sekarang.
David mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah, dia masih saja takjub dengan desain rumah itu dari dulu sampai sekarang. Dulu David pernah dua kali datang ke rumah besar ini, dan sekarang adalah ketiga kalinya David menginjakkan kakinya lagi ke rumah ini.
"Tidak banyak yang berubah, semuanya masih terlihat sama seperti dulu," batin David sambil terus memperhatikan seisi rumah.
"Sayang," panggil Lusi sambil mencubit salah satu pipi David.
"Aduh, iya Sayang ada apa?" sahut David yang terlihat kesakitan.
"Iya habis kamunya diem aja, bengong dari tadi sampai aku panggil-panggil ngak dengar padahal aku di samping kamu." Sudah tiga kali Lusi memanggil David, namun laki-laki itu tidak mendengarnya karena terlalu sibuk dengan pikirkannya.
"Maaf ya," jawab David penuh sesal.
"Enggak apa-apa, kamu kenapa sih? Kenapa bengong gitu tadi?" Belum sempat David menjawab pertanyaan Lusi, Amie dan James sudah lebih dulu keluar.
"Sebentar ya minumnya masih dibuatkan sama Bi Nori," kata Amie.
"Iya Ma," sahut Lusi.
David menatap sang istri yang tidak kunjung berdiri dan mencium tangan James. Akhirnya dengan inisiatifnya sendiri, David kemudian menghampiri James untuk sekedar bersalaman.
"Pa." Awalnya James tidak menerima uluran tangan David, tapi karena mendapat tatapan tajam dari istrinya dia pun langsung menjabat tangan David.
"Sebenarnya Mama sama Papa mau pergi untuk tiga hari ke depan. Jadi Mama mau kalian tinggal di sini untuk tiga hari ke depan. David ngak keberatankan?"
David terlihat bingung, dia menengok ke arah Lusi lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Amie. Karena dia tentunya butuh persetujuan Lusi untuk menjawab iya atau tidak.
"Iya Ma, ngak keberatan ko," jawab David setelah mendapat kode kedipan mata dari Lusi yang berarti iya.
"Kalian pasti belum makan siangkan, ayo makan siang dulu. Lusi, ajak David ke meja makan ya, makanannya sudah siyap," ujar Amie yang terus berusaha menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
"Iya Ma, ayo Sayang." Dengan penuh semangat Lusi menarik tangan David untuk pergi ke meja makan.
"Kamu girang banget sih," kata David.
"Iya karena aku lapar, terus aku seneng ngak berhadapan sama papa," jawab Lusi dengan jujur.
"Siapa bilang ngak berhadapan dengan papa, bisa ajakan nanti papa ikut makan siang juga," jawab David.
"Enggak mungkin deh, pasti papa sama mama udah makan siang tadi. Buktinya mama ngak ngajakin makan siang bareng tadi, cuma nyuruh aku ngajakin kamu makan siang aja," jelas Lusi yang memang begitu adanya.
Disaat Lusi dan David tengah menikmati menu makan siang mereka, Amie dan James tengah berdebat kecil di ruang tamu.
"Papa ngapain sih dingin banget ke David, senyum dikit apa susahnya sih, Pa. Ajakin ngobrol apa gitu jangan cuma diem sambil mlengos gitu. Ngak baik ya ada tamu di dianggurin kaya gitu, udah tua masa ngak bisa ngajarin yang baik ke anaknya sih. Yang tua itu memberikan contoh yang baik, kalau kaya gini gimana anaknya mau jadi baik. Yang tua aja tidak memberikan contoh yang baik. Heran deh sama Papa, konsep otak Papa itu gimana."
Amie tidak bisa menahan emosinya lagi, dia menasihati sang suami yang memang salah.
"Kan dia bukan tamu Papa," jawab James dengan singkat dan santai.
"Yang bilang mereka tamu itu siapa?" sahut Amie.
"Loh, kan Mama yang bilang kalau mereka itu tamu baru aja," jawab James lagi.
"Papa makin lama makin bikin orang darah tinggi ya emang. Emangnya Lusi itu bukan anak kita? Lusi itu orang asing?" Amie sudah tidak perduli kalau saja Lusi dan David mendengar perdebatan mereka berdua sekarang.
"Iya Lusi anak kita dong Ma, dia kan anak kesayangan kita satu-satunya," ujar James dengan wajah sok polosnya.
"Itu Papa tahu, jadi kalau Lusi anak kita David juga anak kita. Karena David suami Lusi, jadi kita juga orang tua David. Papa pahamkan?" Meskipun wajahnya terlihat terpaksa, tapi kepala James mengangguk-angguk mengiyakan ucapan Amie.
"Mama mau ke belakang, Papa ngak usah ikut. Di sini aja, bikin canggung suasana aja bisanya."
Amie tidak biasnya bersikap tegas seperti ini kepada James. Wanita paruh baya itu lebih banyak mengalah dan diam saat berdebat ataupun berbeda pendapat dengan suaminya. Tapi kali ini Amie mengambil tindakan yang tegas karena dia tidak mau suaminya berlarut-larut dalam kebencian.
Amie tidak mau hati James menjadi hitam karena termakan oleh rasa benci yang James simpan dalam-dalam kepada David. Karena kebencian tidak membawa keuntungan apa-apa, yang ada hanyalah ketidak tenangan diri saat mendengar namanya apa lagi melihat wajahnya.
Mendiang kedua orang tua Amie mengajarkan kepadanya untuk selalu memaafkan orang lain. Karena rasa benci hanya akan membuat kebahagiaan dalam hidup kita terkikis dan lenyap begitu saja.
"Enak ngak David makananya?" tanya Amie saat sampai di ruang makan.
"Enak Ma, enak banget. Mama ngak seklian makan?" David menawarkan kepada Amie meskipun Lusi sudah memberitahu sebelumnya kalau Amie sudah makan lebih dulu.
"Iya David, kebetulan Mama udah makan duluan tadi sama papa. Maaf ya Mama ngak nunggu kalian dulu tadi," ujar Amie dengan begitu ramahnya.
"Iya Ma ngak apa-apa," jawab David dengan tulus.
"Ya udah habiskan dulu ya, Mama mau ke kamar sebentar."
Amie berjalan ke kamarnya, sedangkan David dan Lusi kembali menikmati menu makan siang yang ada dihadapan mereka.
"Sayang, Mama punya koki pribadi ya?" tanya David yang membuat Lusi mebgerutkan dahinya.
"Enggak, emangnya kenapa?" tanya Lusi.
"Terus ini yang masak asisten rumah tangga kamu ya? Enak banget masakannya."
David mengakui kalau makanan yang tengah ia makan bersama istrinya ini sangat enak. Rasanya tidak kalah jauh dari masakan di restoran-restoran ternama di kota. Bahkan bisa dibilang lebih lezat jika dibandingkan dengan makanan di cafe ataupun di hotel yang pernah David sambangi.
"Ini masakan Mama bukan masakan Bi Nori," ujar Lusi singkat padat dan jelas.
"Ini yang masak Mama?" Wajah David yang terkejut terlihat menggemaskan sampai Lusi tidak bisa menahan tawanya.
"Hi hi hi, iya Sayang. Emang kenapa? Kenapa kaget banget gitu sih." David tidak langsung menjawab ucapan Lusi, dia justru memandangi makanan yang ada di piringnya dan Lusi secara bergantian.
"Heh, kamu kenapa?" tanya Lusi karena David tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Iya ngak apa-apa, cuma heran aja kenapa bisa seenak ini." Lagi-lagi kata enak yang David katakan, dia masih saja kagum dengan rasa masakan ibu mertuanya itu.
"Udah habisin dulu, tinggal dikit tuh."
David langsung menghabiskan sisa makanan yang ada di piringnya tanpa tersisa. Begitu juga dengan Lusi, dia menghabiskan makannya sampai piringnya bersih.
"Kamu dulu tiap hari makan masakan mama ya?" tanya David setelah membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Iya enggak juga, soalnya kadang kalau mama ngak sempat masak ya Bi Nori yang masak. Tapi lebih seringan mama si yang masak, emangnya kenapa?"
"Enggak apa-apa, kamu beruntung ya bisa merasakan makanan yang dibuat oleh mama kamu tiap hari. Aku bahkan sekali saja tidak pernah merasakan seperti apa lembutnya belaian tangan ibu aku."
Lusi kebingungan, dia tidak menyangka kalau suasananya akan menjadi haru seperti ini. Lusi tidak bermaksud menyinggung perasaan David, tapi mungkin karena David merindukan sosok seorang ibu jadi dia jadi terbawa suasana seperti ini.
"Sayang, aku minta maaf ya kalau udah nyinggung perasaan kamu. Maaf kamu jadi keingat masa lalu kamu gara-gara aku," kata Lusi penuh penyesalan.
"Enggak Sayang, ini bukan salah kamu. Aku cuma tiba-tiba keingat sama ibu aku aja, apakah dia masih hidup atau sudah tiada. Kalau dia masih hidup, di mana dia sekarang. Kehidupan seperti apa yang dia jalani sekarang, tidur dengan layak atau tidak dia sekarang. Aku hanya tiba-tiba terpikirkan hal itu saja, bukan salah kamu ko. Jadi kamu ngak usah minta maaf lagi."
Perasaan Lusi menjadi campur aduk, antara terharu, kasihan, dan juga perih di hatinya bercampur baur menjadi satu.
"Kalau ibu kamu tahu punya anak setampan dan sepandai kamu, pasti dia bangga. Dia pasti ingin memutar waktu agar bisa menemani dan mendampingi kamu disetiap pertumbuhan dan perkembangan kamu dari kecil sampai bisa seperti sekarang," kata Lusi.
"Terima kasih ya Sayang, terima kasih kamu mau menerima kekurangan aku. Terima kasih sudah selalu ada untuk aku dan selalu menghiburku disetiap sedihku."
Lusi dan David saling berpengangan tangan, mereka menguatkan satu sama lain. Terutama David, meskipun di luar dia terlihat baik-baik saja tapi jauh di dalam hatinya pasti ada kerapuhan yang mendalam yang tidak diketahui oleh orang lain. Dibalik senyum dan sikap ramah David selama ini, ada luka batin yang mendalam sampai saat ini.
Luka yang ditorehkan oleh kedua orang tuanya yang telah tega meninggalkannya begitu saja di panti asuhan. Luka yang hadir seiring bertambahnya usia karena selalu terbayang sosok ibu yang memberikan nasihat dan sosok ayah yang selalu memberikan semangat. Semua itu tidak pernah David terima sampai akhirnya dia bertemu dengan Lusi.
Wanita yang sekarang menjadi istrinya itulah orang yang telah mengobati luka dihati David sedikit demi sedikit.
"Izinkan aku untuk selalu menjadi obat merah bagi kamu. Agar aku bisa selalu mengobati luka-lukamu."
Kata-kata itu selalu David ingat sampai sekarang, karena kata-kata itu pula yang membuat David memperoleh kembali semangat dan kepercayaan dirinya.