Ke Apartemen

1165 Kata
Setelah selesai sarapan, Lusi dan David langsung menuju apartemen Lusi. Sebenarnya Lusi punya villa dan dia juga punya mansion, tapi entah kenapa hati kecil Lusi lebih memilih tinggal di apartemen saja. Mungkin karena jaraknya juga yang tidak terlalu jauh dari kantor dan juga rumah orang tuanya. Terlebih lagi di apartemen tidak terlalu banyak pelayan, hanya dua orang jadi lebih tenang dan tidak terlalu ramai. "Sayang, ini kamar kita." Lusi membuka pintu kamar utama yang cukup besar bagi David, tapi terlihat sedang di mata Lusi. "Dan ini pelayan di sini, namanya Ina dan Disa." Lusi menunjuk dua pelayannya secara bergantian. "Disa, Ina, perkenalkan dia suami saya, David." Kedua pelayan itu langsung memberikan salam hormat kepada David dengan membungkukkan badannya. "Selamat datang Tuan, salam hormat," ujar Ina dan Disa bersamaan. "Iya, salam kenal ya," jawab David yang begitu ramah. "Kami permisi dulu Tuan, Nyonya." Ina dan Disa kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Sedangkan Lusi, dia mengajak David berkeliling apartemen. "Ini ruang kerja aku, nanti kita renovasi setelah ini. Di sini ruang kerja kamu, dan ruang baca ini nantinya akan aku kasih meja dan kursi untuk tempat kerja aku," kata Lusi sambil menunjuk tempat-tempat yang ia maksudkan. "Tapi Lusi, eh Sayang, sepertinya aku tidak perlu ruang kerja sebesar ini. Lagi pula aku belum melamar kerja, aku belum mendapatkan pekerjaan lagi," kata David. "Sayang, istri kamu ini seorang direktur, seorang ceo, jadi kenapa kamu harus bingung mau bekerja di mana. Masalah pekerjaan itu tidak penting, kita bahas nanti saja. Yang penting sekarang itu beli baju untuk kamu. Dari kemarin kamu hanya pakai setelan itu, kamu pasti terlalu terburu-buru datang ke sini sampai lupa membawa baju-baju kamu ya?" David tersipu malu mendengar ucapan Lusi, karena apa yang istrinya itu ucapkan memang ada benarnya. David memang terburu-buru terbang kembali ke negaranya setelah mendapat telfon dari Amie. Mendengar kabar Lusi akan menikah membuat David seperti orang yang kesetanan. Dia buru-buru pergi ke bandara, dia langsung membeli tiket tanpa berfikir panjang. Ting, tung. Obrolan pasangan pengantin baru itu harus terhenti karena bel apartemen tiba-tiba berbunyi. Disa yang mendengarnya segera keluar untuk mengecek siapa yang datang. "Hay Disa, Lusinya adakan?" tanya Fiona yang memang sudah sering ke sana. "Iya ada Non, sebentar ya saya panggilkan. Silahkan duduk dulu, Non." Disa kemudian bergegas masuk ke dalam untuk memanggil Lusi, tapi belum sempat Disa memanggilnya, Lusi sudah bertanya kepadanya lebih dulu. "Siapa yang datang, Dis?" tanya Lusi. "Itu Nya, Non Fiona," jawab Disa. "Oh iya, tolong buatkan minum seperti biasa ya," ujar Lusi. "Baik Nya, akan segera saya siapkan." Disa langsung bergegas ke dapur untuk menjalankan perintah yang baru saja Lusi katakan kepadanya. "Ada apa, Fi? Baru juga berpisah udah kangen aja kamu sama aku," ucap Lusi. "Enak aja, siapa juga yang kangen. Kalau ngak dimintai tolong sama Tante Amie, aku ngak mau ke sini sekarang tau ngak sih. Ganggu pengantin baru yang mau bermesraan aja kalau ke sini," kata Fiona blak-blakan. "Ih peka banget sih sahabat aku ini," sahut Lusi. "Emang, ha ha ha." Mereka berdua tertawa lepas seperti biasa saat mereka bergurau bersama. "Suami kamu di mana?" tanya Fiona karena tidak melihat sosok David bersama Lusi. "Dia lagi di ruang baca, diakan dulu pecinta buku banget. Dia masih lihat buku-buku yang dulu pernah aku baca bareng sama dia," ucap Lusi sambil tersenyum-senyum sendiri. "Idih yang lagi nostalgia, seneng banget sih bisa nikah sama mantan," sindir Fiona.. "Ya kali mantan, dia ngak pernah aku anggap jadi mantan, Fi. Kalau aja dulu papa ngak misahin kita, mungkin aku ngak akan putus dari David dulu." Lusi mulai mengingat kembali saat-saat terakhir dia harus berpisah dengan David kala itu. Papanya yang sangat-sangat menentang hubungannya dengan David sampai berani mengancam akan membunuh laki-laki yang tidak bersalah itu. "Ya udah kali Lus, ngak usah diingat-ingat lagi. Yang penting sekarang kalian udah sama-sama lagikan. Dalam ikatan yang sakral juga, jadi ngak akan ada yang memisahkan kalian lagi mulai sekarang," kata Fiona. "Iya Fi, aku pengennya gitu. Doain ya, semoga langgeng terus dan biar cepat dikasih ini juga," ujar Lusi sambil memandangi perutnya yang tengah ia usap-usap dengan kedua tangannya. "Iya-iya, kamu tenang aja doa yang terbaik akan selalu aku sertakan untuk kamu," jawab Fiona. "Silahkan diminum dulu Non, udah saya buatkan yang spesial seperti biasa," kata Disa kepada Fiona. "Terima kasih ya Disa, kamu emang paling mengerti aku deh. Makanya aku betah kalau main ke sini, he he he," jawab Fiona sambil bergurau. "Sama-sama Non, kalau begitu saya permisi dulu. Mari Nyonya, mari Non Fiona." Disa kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. "Diminun dulu, Fi," ujar Lusi mempersilahkan. "Iya Lus, ngak usah ditawarin juga tetep aku minum ko, he he he." Lusi hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu. Karena memang sudah menjadi sifat Fiona yang suka bergurau dan suka blak-blakan. "Eh ngomong-ngomong mama nyuruh kamu nganterin apa si, Fi?" tanya Lusi. "Oh iya sampai lupa aku, nih aku gak tahu apa isinya." Fiona memberikan dua paper bag yang diberikan oleh Amie kepada Lusi. "Ini kaya merk pakaian laki-laki sih," ujar Lusi saat melihat paper bag yang dikirimkan oleh ibunya. "Aku juga mikir gitu sih, tapi ya kali aku buka. Bukan milik aku," jawab Fiona. Karena penasaran, Lusi langsung membuka kedua paper bag itu. Dan dugaannya benar, itu memang pakaian laki-laki. Dan yang satu berisi sandal untuk laki-laki juga. "Kayaknya mama sengaja beli ini buat David deh, soalnya mama tahu kalau dari kemarin dia ngak ganti baju. Tadi aja dia pakai sandal dari hotel," ujar Lusi. "Untung hotel milik perusahaan kamu Lus, jadi mau sama kasurnya di bawa juga ngak apa-apakan." Lusi hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar celotehan Fiona. "Eh ada tamu ternyata," kata David yang baru saja keluar. "Iya nih, tamu ngak diundang," sahut Fiona. "Kayaknya hal penting ya, soalnya baru aja berpisah di hotel udah nyusul aja ke sini," ujar David lagi. "Penting banget, Dav. Tugas dari ibu negara di suruh kirim paket buat menantu tercintanya katanya," sahut Fiona sambil begurau. "Paket apa nih?" tanya David lagi seraya duduk di sebelah sang istri. "Ini Sayang, mama beliin baju sama celana buat kamu. Ada sendalnya juga, habis ini kamu coba ya. Nanti kalau pas sekalian kamu pakai aja ke mall." Lusi memberikan kedua paper bag itu kepada David. "Aku coba sekarang aja ya," kata David setelah menerima paper bag itu dari tangan Lusi. "Sekarang?" tanya Lusi dengan raut wajah yang terlihat sedikit ragu. "Iya," jawab David mantab. "Aku masuk dulu ya." David langsung melesat masuk ke kamar membawa dua bingkisan yang baru saja dikirimkan oleh ibu mertuanya melalui Fiona itu. "David udah mulai bersikap santai kaya dulu ya, Lus," kata Fiona setelah David benar-benar masuk ke dalam kamar. "Iya Fi, aku bersyukur dia sudah mulai bisa beradaptasi dengan aku dan duniaku. Semoga papa dan dia juga bisa segera berbaikan," ujar Lusi penuh harap. "Iya Lus, Tuhan akan memberikan yang terbaik bukan yang termurah, he he he." Lusi hanya tersenyum sambil merilik dengan tajam ke arah Fiona. Karena memang seperti itulah dia, selalu dibawa happy dan bercanda dalam setiap masalah dan situasi yang harus menguras emosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN