Di apartemennya, Lusi dan David baru saja menyelesaikan sarapan mereka. Mereka tengah duduk di balkon sambil menikmati angin pagi yang terasa dingin namun menyegarkan. Sinar matahari pagi ini juga tidak terlalu terik, jadi sangat pas untuk sekedar duduk manis sambil berbincang berdua dengan orang yang kita sayangi.
"Kenapa Zana terus-menerus deketin kamu ya? Apa dia beneran suka sama kamu ya Sayang." Tiba-tiba Lusi membuka suara tapi dengan topik yang mengada-ngada menurut David.
"Kenapa jadi bahas itu lagi sih Sayang, kamu terus-terusan bahas Zana deh dari tadi. Jujur aja aku ngak suka Sayang, aku ngak suka kamu bahas Zana terus.Lebih baik kita membicarakan hal lain saja yang lebih berbobot, masalah planing kamu ke depannya atau mungkin masalah pekerjaan kamu di kantor. Yang pasti pembicaraan lain selain Zana aja, aku ngak suka kita bahas masalah orang lain saat sedang berdua kaya gini. Jadi hilang romantisnya nanti, jadi ngak berasa lagi menikmati quality time sama orang tersayang." David mengatakannya panjang lebar dan juga tegas.
"Iya Sayang iya, aku minta maaf ya. Habis aku cemburu sama dia, aku ngak suka aja sama Zana. Iya habis dia itu terlalu centil dan ambisius banget buat ngedeketin kamu. Harusnya dia sadar diri ada aku istrinya, bikin muak aja sifatnya," kata Lusi dengan jujur.
"Iya makanya tadi aku ajakin kamu pulang, aku risih ada Zana di sana. Apa lagi waktu dia tanya-tanya tentang masalah pribadi aku, kamu, apa lagi rumah tangga kita."
David semakin ke sini semakin risih ketika Zana berusaha untuk bergabung dengannya dan juga sang istri.
David juga semakin risih kalau mendengar pertanyaan-pertanyaan yang selalu Zana ajukan kepada dirinya dan juga Lusi.
"Suami aku menang yang terbaik deh, tahu aja kalau istrinya lagi ngak enak hati," goda Lusi.
"Iya tahu dong Sayang, aku aja risih dengarnya apa lagi kamu yang dari tadi jawab terus," kata David.
"Aku rencananya besok mau ke restoran Sayang, mau kegetin si Zana-Zana itu."
"Kagetin? Kagetin bagaimana maksud kamu Sayang?" tanya David yang belum paham maksud istrinya.
"Iya aku mau kagetin dia aja kalau sebenarnya bos dia itu aku. Diakan belum tahu kalau restoran itu milik perusahaan," kata Lusi dengan wajah sumringah.
"Kamu itu ya suka banget kalau bikin kejutan buat orang. Dulu aja kamu gitukan sama aku, kamu ngak ngaku kalau kamu dari keluarga kaya," sahut David.
"Iya maaf Sayang, aku ngak mau aja kalau kamu jadi ngak mau sama aku. Lagian yang kayakan orang tua aku, bukan aku. Harta banyak itu bukan milik aku, tapi milik mama dan papa. Bener ngak?"
Lusi mengedip-ngedipkan matanya tepat di depan David sampai membuat David gemas melihatnya.
"Ih dasar Sayangku," ujar David sambil mencubit gemas hidung sang istri.
"Emangnya aku kenapa? Ada yang salah?" tanya Lusi dengan ekspresi yang menggemaskan.
"Iya ngak apa-apa, kamu cantik aja," jawab David.
"Cantik aja?" Lusi mengulangi kata-kata yang David ucapkan.
"Eh ngak ko, bukan cantik aja tapi cantik banget." David mengulas senyumnya yang begitu menawan.
"Sayang kita ke mall yuk nanti."
"Ke mall lagi? Mau ngapain?" tanya David keheranan.
"Mau beli kemeja dan jas, sepatu juga buat kamu kerja. Kan sekarang kamu wakil direktur, dan kamu juga itu-itu aja bajunya. Mau ya?"
David menghela nafasnya sejenak sebelum menjawabnya.
"Ya udah terserah kamu aja," jawab David pasrah.
"Terima kasih Sayang, kamu emang suami idaman."
Lusi langsung beranjak dari kursinya, memeluk David dan menghujaninya dengan banyak ciuman di kening dan juga di pipinya.
***
Hari sudah berganti, pagi menyambut Lusi dan David kembali. Seperti biasa, mereka jogging bersama di taman. Tapi kali ini tidak ada yang mengganggu mereka kembali seperti kemarin. Karena hari ini kebetulan Zana berangkat bekerja, jadi mereka berdua bisa jogging dengan romantis seperti bayangan Lusi.
Tapi sayangnya tanpa mereka sadari Hacob lagi-lagi memperhatikan mereka dari jauh. Tatapan sinis penuh dendam terlihat sangat jelas dari sorot mata laki-laki yang pernah menjadi calon suami Lusi itu.
"Kalian tidak pantas bahagia," gerutu Hacob dengan tangan yang mengepal dengan sempurna.
"Sayang, kita beli bubur ayam mau ngak?" Lusi bertanya kepada suaminya sambil menunjuk penjual bubur ayam yang kebetulan ada di seberang jalan dan tidak jauh pula dari tempat Hacob berdiri.
Seketika David memandang ke arah dimana jari telunjuk Lusi menunjuk. Sadar kalau Lusi dan David melihat ke arah dia, Hacob langsung bergegas pergi sebelum mereka berdua mengenalinya.
"Mau bubur ayam itu?" tanya David yang ikut menunjuk ke arah penjual bubur ayam itu.
"Iya sekarang ya, udah lapar sekali deh rasanya." David langsung mengangguk mengiyakan permintaan sang istri.
Dengan penuh semangat Lusi langsung menarik tangan David ke tempat penjual bubur ayam.
"Bang, bubur ayamnya dua ya." Lusi langsung memesan dua porsi bubur ayam untuk dirinya dan juga sang suami.
"Iya Mbak, mau minum apa Mbak, Mas?" tanya penjual bubur ayam itu.
"Teh tawar hangat satu, terus teh manisnya satu ya, Bang," jawab Lusi.
"Baik Mbak, ditunggu ya sebentar."
Sembari menunggu, Lusi dan David duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Sayang," panggil David tiba-tiba.
"Iya Sayang, kenapa? Kamu mau yang lain?" tanya Lusi dengan cepat tanggap.
"Tadi kamu lihat ngak ada orang pakai hodie berdiri di sini?" tanya David.
"Orang pakai hodie, kayaknya enggak deh. Emangnya ada ya Sayang?" Melihat reaksi sang istri membuat David mengurungkan niatnya untuk membicarakan hal itu lebih jauh lagi.
"Silahkan bubur ayamnya Mbak."
Setelah penantian yang cukup memakan waktu, akhirnya bubur ayam pesanan Lusi dan David datang.
"Pedagang bubur ayamnya kaya oppa-oppa Korea gitu deh," guman Lusi sambil terus menikmati bubur ayam miliknya.
"Pandangin aja terus sepuasnya sampai lupa kalau di samping kiri ada suaminya," sahut David dengan nada suara sinis.
"Eh iya, ada sayangku di sini. Maaf ya sayang," kata Lusi dengan wajah polos tanpa merasa bersalah.
"Jadi kalau ngak ada aku, kamu suka gini ya sama cowok lain?" ujar David ketus.
"Enggak Sayang, beneran deh. Aku tadi cuma mau lihat reaksi kamu aja gimana," jawab Lusi jujur, karena dia memang pura-pura memuji tukang bubur ayam itu di depan sang suami.
"Percaya ngak yah," ucap David sambil menunjukkan wajah yang sedang berfikir keras.
"Percaya ya Sayang, beneran deh aku cuma pura-pura tadi. Aku minta maaf deh ya, laki-laki paling tampan itu cuma kamu dan papa. Udah ngak ada yang lain, kalau yang ini aku serius Sayang." Wajah Lusi terlihat panik melihat wajah David yang begitu kaku memandanginya.