Claire membuka matanya perlahan karena cahaya matahari yang masuk. Suasana hangat dan udara setelah hujan semalam masih terasa sejuk membuat tenang. Claire menoleh ke samping dengan senyuman kecil, ia dapat melihat Nathan yang masih tertidur dengan nyaman. Setelah sekian lama menunggu semalam Nathan datang dan menemaninya. ”Terima kasih... aku merasa tidak pantas untukmu tapi kamu mempertahankanku dengan mengorbankan dirimu. Maaf jika kehadiranku membuatmu susah,” gumamnya. Tangan, Claire terulur mengusap wajah Nathan pelan, hindung mancung memiliki rahang tegas. Benar-benar idaman para wanita, dari sekian banyak wanita, ia yang paling beruntung bisa memiliki Nathan saat ini. Ia tidak pernah menyangka jika Nathan menjadi pria pertama yang ia cintai. Nathan yang merasa terusik pun membuk

