Langit New York siang ini tampak mendung seolah tahu suasana hati Claire. Saat ini ia sedang duduk di lorong rumah sakit, tangannya mengusap perutnya yang sudah membuncit namun masih bisa ia tutupi dengan pakaian longgarnya. “Ayah, pasti senang aku datang,” gumamnya. “Dokter bilang ayah sudah mulai terapi minggu depan.” Terdengar suara pintu terbuka, menampakkan seorang perawat tersenyum ramah padanya. “Silakan masuk, Nona. Ayah, anda sudah menunggu.” Claire mengangguk, lalu masuk kedalam dengan senyum hangat. Di ranjang sang ayah terbaring tersenyum lemah. Tapi, jauh lebih segar dan tidak terlihat pucat seperti sebelumnya. “Claire, akhirnya kamu datang. Ayah sangat merindukanmu,” ucapnya lirih. Claire segera mendekat, tidak lupa mencium tangan ayahnya. “Claire juga merindukan ayah. A

