Anggun membuka pintu pagar dengan perlahan. Lampu di ruang tamu masih menyala, tanda Maminya sudah pulang dan belum tidur.
Ia tahu, pasti sebentar lagi suara nyaring maminya itu akan membuatnya sakit kepala dengan omelan-omelannya yang memekikan telinganya.
“Dari mana saja kamu Anggun?” Rose bertanya dengan nada bicara ketus. “Lihat ini sudah jam berapa?” Ia menunjuk ke arah jam dinding yang berbentuk bulat. Jam dinding yang terpajang di ruang tamu itu memang sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
“Maaf, tadi aku ada urusan,” jawab Anggun lirih.
Kening Rose berkerut. “Urusan apa? Kenapa tidak bercerita pada Mami? Kita tidak boleh ada rahasia Anggun. Yang Mami miliki hanya kamu. Dan kamu pun begitu ....”
“Ada, sesuatu,” jawab Anggun sekali lagi sembari membuka sepatunya. Lalu langsung masuk ke dalam rumah melewati Rose.
“Anggun, tunggu ...!” Suara Rose menghentikan langkah Anggun berjalan. “Begini sikapmu pada ibumu? Maminya bertanya, kamu dari mana pulang jam segini?” tanyanya sekali lagi.
Anggun yang masih berdiri memunggungi Rose diam sebentar. Menggigit bibir bawahnya lalu membalik badan setelah menarik nafas panjang. “Mami bertanya padaku, aku dari mana? Sedangkan Mami sendiri dari mana?”
Rose terdiam. “Maksudmu?”
“Mami dari mana?” Anggun mengulang pertanyaannya sekali lagi.
“Mami dari ....” Suara Rose terbata. Ia serasa ragu untuk berbicara.
“Mami sendiri tidak menceritakan Mami dari mana, tapi Mami bertanya padaku. Harusnya sebelum Mami menuntut jangan ada rahasia di antara kita, Mami mencontohkannya. Harusnya Mami cerita tentang kencan malam ini.”
Hening sesaat.
“Apa kamu tahu ...?” Rose bertanya sembari meremas jari jemarinya. Raut mukanya terlihat resah.
“Ya, aku tahu Mami ... Kenapa Mami tidak mengatakan padaku? Gaun merah dan bunga mawar merah cantik. Sekarang bunga itu Mami taruh mana? Mami buang?” Anggun tidak bisa membayangkan jika ternyata bunga mawar merah yang diberikan Daniel telah dibuang oleh Rose. Sedangkan dirinya sangat menginginkan diberi sebuket bunga darinya. Maminya berkencan dan sering berganti-ganti kekasih, semua itu hanya demi kesenangan semata. Bukan cinta. Anggun tahu itu.
Dan kini Maminya bersenang-senang dengan pria yang sudah dicintainya diam-diam selama satu tahun terakhir? Tidak ... Mami sungguh tega ....
“Kamu melihatnya Anggun?” tanya Rose sekali lagi.
“Tadi aku bersama Nita sedang melihat festival di taman Kota. Dan aku melihat Mami dengan atasanku! Kenapa harus dia?!”
Rose menghela nafas panjang. Ia berjalan mendekati Anggun dan mengusap bahunya lembut. “Anggun, maafkan Mami. Dia begitu gigih mengejar Mami. Sebetulnya Mami tidak ingin menceritakannya padamu karena takut begini. Pasti kamu menjadi kikuk jika mengetahui atasanmu adalah pacar Mami.”
Hening.
Air mata Anggun sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia sedih mengapa Maminya bisa menjadi saingannya dalam mendapatkan cinta Daniel.
Sedangkan Rose sendiri tidak tahu dengan perasaan Anggun pada Daniel. Ia mengusap pipi Anggun yang sudah mulai merona merah karena sedih.
Anggun menahan kesedihan dan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya sekuat tenaga.
“Anggun, maafin Mami ya ...,” pinta Rose lirih. Ia menggenggam tangan Anggun dan menepuk lembut punggung tangan putrinya itu.
“Sudah berapa lama kalian pacaran?” Anggun bertanya dengan lantang. Ia ingin segera tahu apa jawabnya.
“Sudah empat bulan.”
Hah empat bulan? Ini adalah jangka waktu terlama Maminya pacaran dengan pria. Biasanya paling cepat, hanya dalam jangka waktu satu bulan saja hubungannya sudah kandas.
“Apa kali ini Mami serius dengan Daniel? Managerku di tempat kerja?” tanya Anggun ingin tahu.
Rose tersenyum simpul. “Kita lihat saja, apa hubungan kami akan bertahan lama. Apa kamu kecewa pada Mami?”
Anggun mencibirkan sedikit bibir bawahnya ke depan. “Sedikit ....”
“Jika Mami berikan ini, bagaimana? Apa kamu tetap ngambek sama Mami?” tanya Rose sembari memamerkan sebuah kunci mobil.
Kening Anggun berkerut dan kedua alisnya bertaut. “Kunci mobil siapa Mami?”
“Punya kita!” jawab Rose dengan wajah girang.
“Punya kita? Tapi tadi aku tidak melihat ada mobil yang terparkir di halaman,” ucap Anggun sembari menunjuk ke arah luar pintu yang sudah ditutup.
“Sudah Mami masukin ke garasi.”
“Terus mobil kita yang lama, peninggalan almarhum Papi, Mami kemanain?” tanya Anggun sudah mulai berburuk sangka. Ia takut mobil kenang-kenangan dari ayahnya itu sudah dijual oleh Rose.
“Mobil Papi? Mami bawa ke bengkel. Lagi dibetulin, biar tuh mobil prima lagi. Jadi sekarang kita berdua pakai mobil ini. Kalau enggak mobil barunya kamu yang pakai. Biar Mami yang pakai mobil lama.”
Hening kembali.
Sebetulnya Anggun ingin tahu dari mana Maminya mendapatkan mobil itu. Namun pertayaannya menjadi tenggelam karena dipikir uang dari membeli mobil baru adalah hasil dari tabungan Maminya.
“Lain kali kita tidak boleh punya rahasia ya Anggun. Mami cemas tadi. Mami telepon ke ponselmu tidak diangkat. Pesan chat juga tidak dijawab.”
“Hapeku aku heningkan deringnya, Mam. Maaf, aku tidak mendengarnya.”
“Lalu kamu dari mana saja, hingga pulang larut begini? Kau ini perempuan, Anggun ... Di luar banyak orang jahat. Harusnya kamu berpikir lebih panjang. Dan kamu berbohong kan ...?”
“Bohong apa?” Anggun berbalik bertanya.
“Kau bilang, tadi kau keluar bersama Nita? Padahal Mami sudah menghubungi Nita. Dan dia bilang, kamu tidak bersamanya. Jadi tadi kamu ke mana dan dengan siapa?” Rose menutut jawab. “Apa kamu sekarang sudah punya pacar?”
Anggun menatap lekat ke dalam bola mata Rose yang menyala. Ia juga teringat ketika Daniel memeluk Rose. Tiba-tiba rasa tidak mau kalah merasuki pikirannya. Untuk kali ini, ia tidak ingin terlihat seperti seseorang tuna asmara abadi.
“Tadi sebetulnya aku dengan ... Dimas. Aku sudah punya pacar Mam. Dan maaf ... Kami jadi lupa waktu saat menonton acara band di taman Kota.”
Sepasang mata Rose berbinar. “Kamu punya pacar?!” serunya senang. “Bagus, akhirnya kamu enggak jomblo lagi.”
Anggun tersenyum getir mendengar ucapan selamat dari Rose. Ucapan selamatnya itu sekaligus menampar hatinya.
“Siapa namanya tadi?”
“Dimas.”
“Hm ... Dimas?” Rose terdiam dengan bola mata melihat ke atas. Terlihat ia seperti mengingat-ngingat sesuatu. “Nama yang bagus. Pasti orangnya ganteng.”
“Tentu saja,” jawab Anggun sembari tersenyum lebar.
“Mami pernah punya kenalan namanya Dimas, dia masih muda, tampan dan baik,” ujar Rose sembari berjalan ke arah ruang keluarga. “Apa kamu sudah makan?”
Anggun menggeleng. “Belum.”
“Apa? Belum? Terus kamu tadi pacaran ngapain aja? Makan angin? Astaga, hemat betul,” sungut Rose sembari melangkah ke arah ruang makan. Sebelumnya ia menyuruh Anggun duduk di salah satu sofa ruang keluarga dengan bahasa isyarat. Tangannya meminta Anggun duduk di sana.
Anggun menurut, ia duduk di sofa. Sedangkan Maminya mengambilkan makanan untuknya. “Ini Mami bawain steak. Tadi Mami diajak dinner sama Daniel. Trus Mami inget kamu, dan mami minta satu porsi untuk dibawa pulang,” ujarnya sembari kembali berjalan mendekat ke arah Anggun dengan satu kotak nasi berwarna cokelat di tangannya. “Cuci tangan dulu sebelum makan.”
Mendengar steak ini adalah bekas acara dinner Maminya dengan Daniel, Anggun mendadak langsung kenyang. Steak yang lezat dan terlihat menggiurkan tersebut mendadak tidak menggugah selera.
"Kenapa diam saja? Ayo cepat di makan. Steak ini mahal Anggun. Restoran di hotel kamu itu makanannya mahal-mahal ya. Kalau beli sendiri sih ... Mami sayang ngeluarin uangnya. Hahahaha ...." Rose tertawa terbahak, tenggelam akan hal yang dirasanya lucu seorang diri. Sedangkan Anggun justru merasa sedih karena Daniel mengajak Maminya dinner, bukannya dia ....